Fakta-fakta Rencana Invasi Darat AS di Iran
Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) dikabarkan sedang mempersiapkan operasi darat terbatas ke Iran, di tengah kecamuk perang AS-Israel vs Iran belakangan ini.
The Washington Post menerima informasi dari sejumlah pejabat AS bahwa rencana invasi darat itu mencakup serangan terhadap Pulau Kharg Iran.
CNN Indonesia merangkum sederet fakta tentang rencana invasi darat AS ini.
Berlangsung beberapa pekan/bulan
Menurut satu pejabat, serangan darat ke Iran ini diperkirakan berlangsung selama beberapa minggu. Namun, menurut pejabat lainnya, operasi ini akan memakan waktu hingga "beberapa bulan".
Pentagon sejauh ini belum menanggapi laporan tersebut.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt sementara itu mengatakan "merupakan tugas Pentagon untuk melakukan persiapan guna memberikan Panglima Tertinggi (Presiden AS Donald Trump) pilihan maksimal."
"Tapi, bukan berarti presiden sudah membuat keputusan (mengenai rencana serangan darat ini)," ucap Leavitt, seperti dikutip Al Jazeera.
Rebut Pulau Kharg
Para pejabat AS mengatakan kepada The Washington Post bahwa diskusi yang berlangsung selama sebulan terakhir telah menyentuh kemungkinan akan serangan terhadap Pulau Kharg.
Mereka menyampaikan ada indikasi bahwa Trump berniat merebut pusat ekspor minyak utama Iran tersebut.
Pulau Kharg merupakan lokasi terminal besar tempat Teheran mengekspor sekitar 90 persen minyak mentahnya. Selain pulau ini, ada pula potensi penggerebekan ke daerah pesisir lain di sekitar Selat Hormuz.
Penggerebekan di kawasan pesisir ini ditujukan mencari dan menghancurkan senjata-senjata Iran yang dipakai untuk menyerang kapal-kapal komersial dan militer.
Tak sampai invasi penuh
Menurut para pejabat, rencana serangan darat ini tak sampai pada invasi penuh. Operasi ini disebut dapat melibatkan pasukan operasi khusus dan pasukan infanteri konvensional.
Trump telah mengerahkan marinir ke Timur Tengah saat perangnya dengan Iran memasuki pekan kelima. Ia juga berencana mengirim ribuan tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat ke kawasan tersebut.
Pada Sabtu (28/3), Komando Pusat AS (CENTCOM) yang bertanggung jawab atas wilayah Timur Tengah menyampaikan sekitar 3.500 prajurit tambahan telah tiba dengan kapal USS Tripoli.
Iran tantang Trump
Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pada Minggu menantang Trump untuk melancarkan operasi darat ke Teheran. Ia mengatakan Iran sejak lama sudah menanti-nanti kedatangan pasukan AS.
"Mereka tidak menyadari bahwa pasukan kami sedang menunggu kedatangan tentara Amerika di darat untuk membakar mereka dan menghukum mitra regional mereka selamanya," ucap Ghalibaf.
"Serangan kami terus berlanjut. Rudal kami sudah siap," imbuhnya, seperti dilaporkan kantor berita semi-resmi Iran Tasnim.
Buka front baru di Laut Merah
Seorang sumber militer Iran yang tak disebutkan namanya mengatakan kepada Tasnim bahwa Teheran dapat membuka front baru di Laut Merah jika aksi militer terjadi di "pulau-pulau Iran atau di tempat lain di wilayah kami".
Sumber tersebut mengatakan Iran bisa menimbulkan "ancaman nyata" di Selat Bab Al Mandeb, yang terletak di antara Yaman dan Djibouti.
Kelompok milisi Houthi di Yaman dikabarkan akan memainkan peran di selat tersebut jika ada operasi militer di wilayah pesisir Iran.
Sejak Sabtu, Houthi, yang disimpan Iran sebagai salah satu kartunya, telah memasuki perang melawan AS-Israel. Para analis sejak lama memperingatkan keterlibatan Houthi dapat mengancam lalu lintas perdagangan global karena mereka berpotensi memblokade Selat Bab Al Mandeb.
Selat Bab Al Mandeb merupakan jalur air sepanjang 32 kilometer yang menjadi satu-satunya titik masuk ke Laut Merah dari Samudra Hindia. Kawasan ini menghubungkan Samudra Hindia ke Laut Mediterania melalui Terusan Suez.
Sekitar 12 persen perdagangan global melintasi selat ini setiap hari. Jika rute ini terganggu, kapal harus memutar mengelilingi Afrika sehingga waktu pengiriman bertambah 10-14 hari.
(blq/dna)