Kim Jong Un Diam-diam Uji Coba Rudal Korea Utara untuk Jangkau AS
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un diam-diam menguji coba mesin untuk peluru kendali (rudal) yang ditargetkan mampu menjangkau daratan Amerika Serikat (AS).
KCNA melaporkan Kim Jong Un memantau langsung uji coba tersebut di lokasi yang tidak diidentifikasi. Tidak disebutkan pula kapan uji coba itu dilakukan.
Lihat Juga : |
Mesin yang dites merupakan mesin yang baru ditingkatkan menggunakan material komposit serat karbon.
Mesin ini berdaya dorong tinggi dengan maksimum 2.500 kiloton, meningkat dari sekitar 1.971 kiloton dalam uji mesin berbahan bakar padat serupa di bulan September lalu.
Uji coba ini merupakan bagian dari program peningkatan militer lima tahunan Korea Utara. Menurut KCNA, tujuannya termasuk meningkatkan "sarana serangan strategis."
"[Uji coba ini memiliki] signifikansi besar dalam menempatkan kekuatan militer strategis Korea Utara pada tingkat tertinggi," kata Kim Jong Un, seperti dilaporkan KCNA, dikutip dari Sky News.
Laporan KCNA ini muncul pada Minggu (30/3), beberapa hari setelah Kim berpidato di hadapan parlemen Korut mengenai postur pertahanan Korea Utara di masa mendatang.
Kim pada saat itu menegaskan Korut berstatus negara nuklir dan akan "bersiap untuk segala kemungkinan" terhadap situasi internasional yang rumit dan tak terduga belakangan ini.
Kim Jong Un sempat mengkritik AS, diduga buntut operasi militernya di Iran. Ia menyebut Washington sedang melakukan "terorisme dan agresi di berbagai belahan dunia."
Menurut sejumlah pengamat, ambisi Kim Jong Un meningkatkan daya mesin rudalnya kemungkinan terkait dengan upayanya menempatkan beberapa hulu ledak pada satu rudal guna mengalahkan pertahanan AS.
Selama beberapa tahun terakhir, Korut telah mengembangkan dan menguji coba rudal balistik antarbenua yang menunjukkan potensi jangkauannya untuk menyerang daratan AS.
Beberapa pakar asing mengatakan Korut masih menghadapi kendala teknologi untuk bisa memiliki rudal balistik antarbenua. Salah satunya yakni memastikan hulu ledaknya dapat bertahan saat memasuki kembali atmosfer.
Namun, sejumlah pengamat memandang bahwa Korut tampaknya sudah lebih siap secara teknologi mengingat lamanya waktu yang telah mereka habiskan untuk program rudal dan nuklirnya.
(blq/bac)