Profil Ali Al Zaidi: Crazy Rich & 'Boneka' Trump Calon PM Baru Irak

CNN Indonesia
Rabu, 29 Apr 2026 06:10 WIB
Aliansi blok politik Syiah Irak yang dikenal sebagai Coordination Framework menunjuk Ali Al Zaidi sebagai kandidat perdana menteri. (Foto: AFP/-)
Jakarta, CNN Indonesia --

Aliansi blok politik Syiah Irak yang dikenal sebagai Coordination Framework menunjuk Ali Al Zaidi sebagai kandidat perdana menteri, Senin (27/4).

Coordination Framework merupakan koalisi parlemen terbesar di Irak saat ini yang terdiri dari faksi-faksi yang bersekutu dengan Iran.

Sumber Reuters memaparkan Presiden Irak Nizar Amedi pada Senin malam secara resmi meminta Zaid membentuk pemerintahan

Berdasarkan konstitusi Irak, Zaidi kini memiliki waktu 30 hari untuk membentuk kabinet dan mengajukannya ke parlemen guna mendapatkan persetujuan.

Dalam sistem pembagian kekuasaan yang dirancang untuk mencegah konflik sektarian, jabatan presiden Irak saat ini dipegang oleh etnis Kurdi, perdana menteri oleh kalangan Syiah, dan ketua parlemen oleh kelompok Sunni.

Penunjukan Zaidi ini berlangsung setelah Coordination Framework terjebak tarik-ulur selama berminggu-minggu soal siapa yang bakal jadi penerus pemimpin negara itu.

Mantan PM Nouri Al Maliki berupaya kembali berkuasa. PM petahana, Mohammed Shia Al Sudani juga berusaha mempertahankan jabatannya.

Namun, pada Januari lalu, Presiden AS Donald Trump melayangkan ultimatum kepada Irak menyusul ketidaksetujuannya jika Maliki kembali maju dan terpilih sebagai PM Irak.

Trump bahkan mengancam akan menarik seluruh bantuan AS untuk Irak apabila Maliki, yang disebut dekat dengan Iran, kembali menjadi PM.

Siapa Ali Al Zaidi?

Zaidi merupakan miliarder Irak yang memiliki banyak kepentingan bisnis di berbagai sektor, termasuk perbankan dan pasokan program bantuan pangan pemerintah Irak yang menjangkau jutaan warga.

Dikutip Anadolu Agency, berbeda dari para tokoh politik berat Irak yang sudah dikenal luas, pengusaha 40 tahunan itu tidak menapaki karier lewat politik.

Zaidi menjahit karir politiknya justru melalui dunia keuangan, administrasi, dan manajemen institusi, menjadikannya kandidat kompromi ketika aliansi Syiah membutuhkan jalan keluar dari kebuntuan.

Zaidi berasal dari Provinsi Dhi Qar di Irak selatan, wilayah yang dikenal memiliki pengaruh politik dan kesukuan kuat dalam struktur kekuasaan modern Irak.

Ia berasal dari keluarga yang dikenal memiliki peran sosial, menurut kantor berita resmi Irak INA.

Latar belakang akademiknya mencerminkan citra teknokrat yang kini melekat pada kebangkitan politiknya.

Ia memiliki gelar magister di bidang keuangan dan perbankan, serta dua gelar sarjana di bidang yang sama dan hukum,

Selama bertahun-tahun, ia menduduki berbagai posisi eksekutif dan administratif, termasuk memimpin dewan direksi National Holding Company, Universitas Al Shaab, Institut Medis Ishtar, hingga South Bank yang sebelumnya bernama Al Janoub Bank.

Zaidi juga tercatat sebagai anggota Asosiasi Pengacara Irak.

Para pendukungnya menyebut prioritas Zaidi meliputi reformasi kelembagaan, pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, pemberdayaan generasi muda, serta menghubungkan pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja.

Citra tersebut membentuk dirinya sebagai administrator, bukan pemimpin partisan tradisional.

(rds)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK