AS Tuduh China 'Biayai' Iran Jadi Negara Sponsor Terorisme

CNN Indonesia
Selasa, 05 Mei 2026 19:23 WIB
Menkeu AS Bessent tuduh China 'membiayai' Iran jadi negara sponsor terorisme terbesar.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent. Foto: AFP/SAUL LOEB
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menuduh China "membiayai" Iran, tetapi meminta Beijing untuk membujuk Teheran agar membuka Selat Hormuz.

Bessent menyampaikan tuduhan tersebut saat wawancara dengan Fox News pada Senin (4/5).

"Iran adalah negara sponsor terorisme terbesar, dan China telah membeli 90 persen energi mereka. Jadi, mereka [China] mendanai negara sponsor terorisme terbesar," ungkap dia, dikutip Al Jazeera.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain mengkritik, Bessent juga meminta China untuk membujuk Iran agar bersedia membuka Selat Hormuz.

Menkeu itu menuding serangan Iran telah menutup Selat Hormuz dan AS diklaim telah membuka kembali. Iran, lanjut dia, tak punya kendali atas selat tersebut dan AS lah yang punya kendali penuh.

"Jadi, saya akan mendesak China untuk bergabung dengan kami mendukung operasi internasional," ucap Bessent.

China juga dianggap punya pengaruh terhadap Iran, sehingga Bessent terus membujuk negara itu untuk bisa membuka jalur perdagangan global tersebut.

"Mari kita lihat mereka meningkatkan diplomasi dan membuat Iran membuka selat tersebut," ucap dia.

Iran menutup Selat Hormuz pada 2 Maret usai digempur habis-habisan AS dan Israel pada akhir Februari. Penutupan itu sebagai bentuk balasan Teheran untuk menekan kedua negara itu.

Di kesempatan itu, Bessent juga membahas tindakan China di Dewan Keamanan PBB. Bulan lalu, Beijing dan sekutunya Rusia memveto upaya untuk mengutuk blokade Iran terhadap Selat Hormuz di Dewan Keamanan PBB pada bulan ini.

Kedua negara tersebut menganggap resolusi itu berat sebelah karena hanya mengecam Iran tanpa menyebut serangan AS-Israel ke negara Timur Tengah itu.

"Draf tersebut gagal menangkap akar penyebab dan gambaran lengkap konflik secara komprehensif dan seimbang," kata Duta Besar China untuk PBB Fu Cong.

(isa/dna) Add as a preferred
source on Google