Bisakah 'Project Freedom' Trump Amankan Kapal Terjebak di Hormuz?

CNN Indonesia
Rabu, 06 Mei 2026 07:15 WIB
Trump sebut AS bakal kawal kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz lewat Project Freedom. Ilustrasi. Foto: AFP/FADEL SENNA
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan akan membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz melintas dengan aman melalui "Project Freedom".

Inisiatif ini diumumkan di tengah proses negosiasi damai AS dan Iran yang hingga kini masih menemui jalan buntu.

"Demi kebaikan Iran, Timur Tengah, dan Amerika Serikat, kami telah memberi tahu negara-negara (terdampak) bahwa kami akan memandu kapal-kapal mereka dengan aman keluar dari perairan terlarang ini, sehingga mereka bisa dengan bebas melanjutkan bisnis mereka," tulis Trump di media sosialnya, Truth Social, pada Minggu (3/5).

"Proses ini, Project Freedom, akan dimulai pada Senin pagi waktu Timur Tengah," tulis Trump lagi.

Trump mengatakan "gerakan kemanusiaan" ini dilakukan atas permintaan negara-negara yang kapalnya masih tersendat di Selat Hormuz imbas blokade Iran.

Ia menyebut utusan AS sedang mengadakan diskusi "positif" dengan Iran, sambil memperingatkan bahwa disrupsi apa pun dalam operasi ini akan "ditangani dengan tegas".

Pada Senin (4/5), hari pertama Project Freedom dimulai, sebuah kapal perang AS dilaporkan dihantam rudal oleh Angkatan Laut Iran di dekat Jask, selat antara Iran dan Oman. AS membantah laporan tersebut.

Dalam unggahan di Truth Social, Trump mengatakan tak ada kapal yang terkena serangan selain kapal kargo Korea Selatan. Tembakan Iran disebut menyasar kapal beberapa negara yang tidak terkait dengan Project Freedom.

"Selain kapal Korea Selatan, saat ini belum ada kerusakan yang terjadi di selat tersebut," tulis Trump pada Senin (4/5). Trump sebaliknya mengeklaim pasukan AS menembak tujuh kapal kecil militer Iran.

Lalu lintas di Selat Hormuz telah terganggu sejak AS-Israel meluncurkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu. Iran sejak itu menutup efektif Selat Hormuz hingga memicu lonjakan harga minyak dunia.

AS mulai kalang kabut karena tekanan krisis energi global. Trump pun mengambil langkah dengan memblokade balik jalur perairan dari dan ke pelabuhan Iran. Tujuannya, agar Iran tertekan dan mau tak mau membuka Selat Hormuz.

Namun demikian, langkah ini tak mampu mengubah sikap Iran. Blokade AS terhadap pelabuhan Iran justru semakin meningkatkan ketegangan karena Teheran balas menyerang setiap upaya blokade Washington.

Jonathan Hackett, pensiunan spesialis operasi khusus Korps Marinir AS sekaligus mantan agen kontraintelijen, menilai bahwa inisiatif AS dalam Project Freedom justru mencerminkan penyempitan tujuan AS.

"Pada awal konflik, tujuan yang digembar-gemborkan adalah perubahan rezim dan pelucutan kemampuan nuklir dan rudal Iran," kata Hackett kepada Al Jazeera.

"Target tersebut telah bergeser ke arah hasil yang lebih berfokus pada ekonomi di Selat Hormuz," lanjutnya.

Hackett berpandangan pengawalan AS terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz nantinya akan menimbulkan risiko baru. AS tidak hanya akan memandu kapal, tetapi juga membantu mereka ketika diserang.

"Itu menciptakan risiko baru, khususnya bagi perusahaan asuransi," katanya.

Hackett juga tak yakin AS memiliki sumber daya yang cukup untuk mengawal semua kapal yang terjebak.

"Hanya ada sekitar selusin kapal Angkatan Laut yang mampu melindungi pelayaran. Sebelum perang, lebih dari 100 kapal melintasi selat setiap hari. Perhitungannya jelas tidak masuk akal," ujarnya.

Menurut Organisasi Maritim Internasional (IMO), ada sekitar 20.000 pelaut yang terdampar di atas sekitar 2.000 kapal di Teluk dekat Selat Hormuz. Kapal-kapal ini termasuk kapal tanker minyak dan gas, kapal kargo, kapal pengangkut curah, dan kapal pesiar.

Sejak konflik dimulai, IMO telah mencatat setidaknya 19 serangan menghantam kapal di kawasan tersebut. Insiden ini menewaskan 10 pelaut dan melukai delapan lainnya.

IMO telah mewanti-wanti bahwa saat ini banyak kapal mengalami krisis makanan, bahan bakar, dan air.

"Meskipun pelayaran dinyatakan aman, pertanyaannya adalah apakah perusahaan bersedia mengambil risiko terhadap kapal dan awak mereka tanpa jaminan," ujar Hackett.

"Jika ini tentang membantu awak kapal yang terdampar, sudah berapa lama mereka berada di sana? Sumber daya apa yang tersedia? Dan apa yang terjadi jika awak kapal tersebut berasal dari negara-negara yang hubungannya dengan AS tegang?" lanjutnya.

Menurut mantan perwira angkatan laut AS, Harlan Ullman, operasi Project Freedom memang bisa meredakan ketegangan, namun itu jika Iran mengizinkan.

"Jika ini merupakan pendahuluan untuk negosiasi dan Iran mengizinkan transit, ini bisa menjadi langkah positif. Tapi jika selat dipasangi ranjau dan Iran menolak, ini bisa jadi sangat bahaya," tuturnya.

"Iran memiliki drone dan kapal cepat yang dapat mempersulit hal ini. Serangan apa pun terhadap kapal perang AS hampir pasti akan memicu balasan," lanjutnya.

Situasi saat ini sendiri mengingatkan pada Perang Tanker tahun 1980-an dalam konflik Iran vs Irak. Perang itu dimulai pada 1980 ketika Irak menginvasi Iran. Pada 1984, perang meluas ke Teluk dan serangan menyasar kapal tanker minyak.

Iran merespons dengan menargetkan kapal-kapal yang terkait dengan Irak dan sekutu.

Pada 1987, AS meluncurkan Operasi Earnest Will, yakni mengawal kapal tanker Kuwait yang benderanya diganti.

Pada tahun 1988, fregat AS USS Samuel B Roberts mengalami kerusakan parah akibat ranjau Iran. Insiden ini memicu Operasi Praying Mantis, sebuah serangan besar-besaran AS terhadap angkatan laut Iran.

Konflik di Teluk akhirnya mereda pada akhir 1988 karena gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa.

(blq/dna)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK