Spesifikasi Jet 'Jadul' Iran F-5 yang Hancurkan Pangkalan AS di Kuwait
Laporan terbaru dampak perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sempat bikin geger dunia militer.
Itu setelah media AS NBC News membuat laporan khusus bahwa salah satu pangkalan AS di Kuwait, Camp Buehring, rusak parah dihancurkan jet tua Iran F-5 Tiger.
Jet tempur Northrop F-5 tersebut terbilang memiliki usia yang sangat tua, diproduksi dan beroperasi antara 1960-an hingga 1970-an, dikutip dari Middle East Monitor.
Jet-jet itu jauh kalah canggih dan efektif dibandingkan jet-jet tempur terbaru AS seperti F-35 hingga F-15A yang sempat lalu-lalang di langit Iran melancarkan serangan udara.
Namun, F-5 Iran disebut membuat geger mempermalukan AS karena mampu 'mengangkangi' pertahanan udara berlapis di pangkalan militer di Camp Buehring, Kuwait.
Serangan rudal, drone, hingga jet F-5 Iran disebut mampu menargetkan landasan pacu pesawat, sistem radar canggih, lusinan pesawat, gudang-gudang, pusat komando, hangar, hingga infrastruktur satelit komunikasi milik AS di sejumlah negara di Timur Tengah.
Padahal, Camp Buehring memiliki reputasi pangkalan dengan perlindungan dari serangan udara yang berlapis dengan Rudal Patriot, jangkauan radar canggih, hingga jaringan pengawasan regional.
Media AS NBC News mengungkapkan kehancuran parah fasilitas militer AS itu bahkan mencapai kerugian hingga miliaran dolar AS.
Meski demikian, jet generasi kedua F-5 Tiger II Iran masih mampu menembus pertahanan berlapis tersebut. Sang pilot berhasil menghindari sistem pertahanan dan menjatuhkan bom.
Spesifikasi jet tempur tua F-5
Mengutip dari situs Northrop Grumman, produsen jet F-5 dari AS, F-5 diklaim sebagai salah satu pesawat dengan desain jet yang paling awet diciptakan pabrikan tersebut.
Jet temput supersonik taktis tersebut telah diproduksi dan beroperasi selama lebih dari empat dekade. Penerbangan perdana F-5 dilakukan pada 31 Juli 1963, di Pangkalan Angkatan Udara Edwards, California.
F-5 merupakan jet tempur supersonik yang lincah, sangat mudah bermanuver, dan andal, yang menggabungkan desain aerodinamis canggih, kinerja mesin, dan biaya operasional rendah. Lebih dari 2.600 unit diproduksi oleh Northrop Grumman dan di bawah perjanjian produksi bersama dan lisensi dengan Kanada, China, Korea Selatan, Spanyol, dan Swiss.
Saat ini, Angkatan Lau AS masih menggunakan jenis jet tempur tersebut untuk latihan pertempuran udara.
Karena dua pertiga negara pengguna F-5 juga mengoperasikan pesawat F-16, F/A-18, F-15, atau Mirage, peran F-5 telah bergeser dari pesawat tempur utama menjadi pesawat latih tahap pendahuluan.
Banyak operator F-5 internasional sedang mempertimbangkan, dan beberapa telah berkomitmen, untuk program perpanjangan umur struktural dasar dan paket peningkatan avionik/subsistem untuk mendapatkan pesawat latih pendahuluan yang efektif dengan investasi yang sederhana.
Seiring perkembangan dunia avionik yang semakin canggih, F-5 telah banyak melalui serangkaian proses modifikasi terutama dalam kemampuan manuver dan persenjataan pesawat itu.
Northrop Grumman juga fokus pada pendekatan rencana dukungan sistem total yang akan memastikan pengguna F-5 saat ini dapat memperoleh suku cadang struktural dan peningkatan sistem yang diperlukan.
Angkatan Udara AS memilih Northrop Grumman pada tahun 1995 sebagai produsen untuk 14 elemen struktural utama dan suku cadang pengganti terkait untuk pesawat RF-5 (pengintaian) dan F-5 internasional.
Berdasarkan penjualan militer ke luar negeri, kontrak program peningkatan struktural mencakup semua model F-5 dan termasuk sayap baru dengan ketentuan opsional untuk rudal Maverick, balok penopang kokpit atas dan bawah, penstabil horizontal, sekat badan pesawat tertentu, balok penopang punggung, dan pelapis saluran masuk mesin.
Iran yang membeli jet-jet tersebut dari AS pada masa Reza Pahlavi sebelum digulingkan Revolusi Islam Iran, diduga telah melakukan banyak modifikasi jenis jet itu untuk keperluan tempur negara tersebut.
Kepiawaian pilot dan taktik tempur
Keberhasilan Iran menembus pertahanan pangkalan militer AS di Camp Buehring karena faktor kepiawaian pilot dan taktik yang jitu.
Iran kemungkinan melancarkan serangan-serangan salvo atau bersamaan ke pangkalan itu menggunakan drone-drone dan rudal-rudal mereka sehingga membuat sistem pertahanan udara di Camp Buehring 'kewalahan' dalam mengantisipasinya.
Jet-jet tempur Iran pun turut menerobos pertahanan dengan ketinggian yang amat rendah sehingga sulit dideteksi radar-radar canggih pangkalan AS itu yang juga kerepotan menepis rudal dan drone.
(bac)