Media Asing Soroti Prabowo Perketat Ekspor Sawit-Batu Bara
Sejumlah media internasional menyoroti pengumuman Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengenai ekspor kelapa sawit hingga batu bara.
Prabowo mengatakan ekspor terhadap komoditas sumber daya alam RI itu kini harus melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ditunjuk pemerintah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Media Malaysia, The Star, menyoroti keputusan ini, yang dilakukan di tengah tantangan ekonomi Indonesia buntut perang di Timur Tengah.
"Bursa Efek Indonesia turun hampir 1,5 persen sesaat sebelum tengah hari menyusul berita tersebut," demikian laporan The Star.
Media Singapura, The Straits Times, juga mewartakan pengumuman serupa. The Straits Times menggarisbawahi hal ini sebagai upaya Prabowo meningkatkan pendapatan Indonesia.
"Dalam pidato berapi-api di hadapan Parlemen, Prabowo mengatakan Indonesia telah kehilangan pendapatan hingga US$908 miliar dalam 34 tahun terakhir karena komoditasnya dijual murah," tulis The Straits Times.
"Indonesia, selaku negara adidaya komoditas global, adalah pengekspor batu bara termal dan minyak sawit terbesar di dunia," lanjut The Straits Times.
The Straits Times menekankan bahwa pengumuman ini persis dengan rumor yang beredar belakangan. Rumor tentang kendali ketat pemerintah atas ekspor SDA disebut telah membuat pasar panik "karena kekhawatiran bahwa hal itu dapat menyebabkan perubahan mekanisme penetapan harga dan menekan margin pedagang".
"Langkah Prabowo, yang telah berjanji untuk mengoptimalkan pendapatan dari sumber daya alam, bertujuan mengatasi kekhawatiran tentang praktik penggelapan nilai faktur dan penetapan harga transfer oleh eksportir, menurut sumber yang mengetahui masalah ini," demikian laporan The Straits Times.
Media Jepang, Nikkei, juga mewartakan pengumuman ini, dengan menyoroti pembentukan BUMN yang akan mengambil alih kendali ekspor Indonesia.
"Presiden Indonesia Prabowo Subianto pada Rabu mengumumkan pembentukan perusahaan milik negara yang akan mengambil alih kendali ekspor komoditas utama, yang memicu protes di industri-industri terkait," demikian laporan Nikkei Asia.
Media Amerika Serikat, Bloomberg, juga mengabarkan keputusan ini. Bloomberg memahami bahwa langkah ini diambil seiring dengan tekanan fiskal yang meningkat di Indonesia serta penurunan nilai rupiah.
Bloomberg menyoroti penurunan indeks saham acuan menyusul pengumuman Prabowo. Media tersebut juga memperhatikan stagnasi nilai rupiah, yang telah turun sekitar 6 persen tahun ini terhadap dolar.
"Harga minyak sawit berjangka yang didagangkan di Kuala Lumpur, yang digunakan sebagai patokan global, melonjak 2 persen ke level tertinggi dalam dua pekan setelah pengumuman tersebut, menambah kenaikan sekitar 4 persen selama tiga sesi sebelumnya," tulis Bloomberg.
(blq/bac) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]


