Drone Bunuh Diri Hizbullah FPV Bikin Tentara Israel Ketakutan

bac | CNN Indonesia
Rabu, 03 Jun 2026 07:55 WIB
Ilustrasi drone Hizbullah. (AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Milisi Hizbullah di Lebanon mengembangkan drone bunuh diri yang bikin pasukan darat Israel begitu ketakutan di medan tempur.

Drone FPV (First-Person-View) Hizbullah itu memiliki hulu ledak yang selalu tepat sasaran menghujam pos-pos pasukan Israel (IDF) pada malam hari yang gelap gulita.

Fakta yang paling mengkhawatirkan tentara IDF bahwa drone-drone yang diproduksi secara murah itu terus mengalami kemajuan sehingga semakin efektif menargetkan musuh-musuhnya.

Drone bunuh diri tersebut untuk pertama kalinya berhasil menyerang pasukan IDF dalam beberapa hari belakangan, dikutip dari media Israel Yedioth Ahronoth (Ynetnews).

Insiden pertama terjadi pada Sabtu (30/5) malam lalu ketika drone FPV mampu menghujam posisi Brigade Givati dan menewaskan Sersan Michael Tyukin, di Ashkelon, wilayah utara pendudukan Isral.

Serangan berikutnya terjadi pada Minggu (31/5) malam. Drone tersebut secara tepat menyerang posisi komando Maglan IDF dan menewaskan Sersan Adam Tzarfati di Rosh HaAyin.

"Sangat tidak lazim bahwa drone menyerang pasukan di malam hari. Hal itu belum pernah terjadi pada tim tempur sebelumnya," kata seorang prajurit pengintai Givati setelah mengunjungi pasukan yang terluka dalam serangan drone terhadap pasukan yang sedang menuju daerah Beaufort.

Pada Minggu, dokter Batalyon Shaked Brigade Givati, Kapten Dr Ori Yosef Silvester, tewas dalam serangan drone FPV di siang hari.

Militer Israel khawatir bahwa Hizbullah melengkapi drone FPV dengan serat optik sistem termal, sehingga memungkinkan mereka beroperasi di malam hari.

Kemajuan seperti itu akan sangat signifikan karena setiap komponen yang ditambahkan ke drone akan akan berat, mengurangi waktu terbang dan kemampuan manuver. Namun, penambahan itu tak mengurangi kemampuan drone FPV yang melaju sangat kencang dan tepat sasaran.

Karena alasan itu, kematian Tyukin dan Tzarfati dalam serangan drone FPV di malam hari menimbulkan ketakutan yang sangat besar bagi militer Israel. Drone itu bisa sewaktu-waktu menghabisi nyawa satu-persatu tentara Israel di medan tempur.

Meski demikian, penilaian IDF hingga saat ini menunjukkan bahwa drone FPV itu tidak dilengkapi dengan sistem termal yang akan mengindikasikan peningkatan kemampuan operasional saat gelap. IDF masih menangani insiden ini dengan sangat serius.

"Kemajuan kurva pembelajaran terus meningkat, dan bukan hanya dengan drone. Mereka meningkatkan akurasi tembakan mereka setiap saat. Itulah mengapa kami mencoba untuk terus bergerak sebanyak mungkin, baik di zona keamanan di sepanjang Garis Kuning maupun selama operasi manuver, daripada tetap statis," kata pejabat militer Israel.

IDF dan Hizbullah terus terlibat pertempuran yang disebut pejabat militer Israel sebagai pertempuran adaptatif.

Menurut sumber keamanan Israel, Hizbullah mempelajari taktik IDF dan meningkatkan kemampuan mereka dari waktu ke waktu. Para anggotanya sebagian besar telah menarik diri dari baku tembak langsung, tetapi mereka terus mempelajari metode operasional Israel sepanjang pertempuran.

Drone murah dengan optik fiber

Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa Hizbullah berhasil meningkatkan kemampuan drone FPV yang menggunakan optik fiber yang beroperasi di perbatasan.

Drone yang relatif murah ini telah menjadi senjata pilihan bagi kelompok yang didukung Iran, menawarkan alternatif untuk rudal jarak jauh atau RPG. Sistem ini dirakit dan dimodifikasi di bengkel-bengkel di Lebanon selatan, tempat para anggota Hizbullah menambahkan komponen termasuk roda pendaratan, kamera, dan muatan bahan peledak.

Peningkatan utama, komponen yang diimpor dari perang Rusia-Ukraina, adalah kabel serat optik fisik yang menghubungkan drone FPV langsung ke stasiun kendali operatornya.

Kabel tersebut, yang dapat membentang sekitar 10 kilometer, atau lebih dari 6 mil, memungkinkan drone mencapai target yang jauh tanpa bergantung pada sinyal radio yang dapat dideteksi, dihalangi, atau diganggu oleh sistem peperangan elektronik Israel.

Kemampuan itu telah membuat drone FPV serat optik berbiaya rendah semakin menonjol untuk serangan dan pengintaian di medan perang Ukraina yang sangat terganggu sinyalnya.

Di pihak lain, IDF secara signifikan memperluas penggunaan jaring pelindung dan memperketat prosedur untuk mendeteksi dan mencegat drone FPV.

Sebagai bagian dari upaya untuk melawan ancaman drone, militer telah secara drastis mengurangi penggunaan peralatan teknik berat seperti ekskavator dan buldoser yang bisa menjadi sasaran empuk drone FPV.

Salah satu tujuan perluasan operasi ke arah wilayah Beaufort adalah untuk mempersulit Hizbullah meluncurkan drone FPV ke komunitas warga Israel di sepanjang perbatasan utara.

"Mereka mundur ke barisan rumah berikutnya, terkadang ratusan meter lebih jauh ke belakang," kata seorang pejabat militer.

"Kami berharap dalam waktu dekat kita akan melihat beberapa perubahan dalam ancaman ini, terutama bagi penduduk Israel utara."

Sementara itu, tentara yang terluka terus menerima kunjungan dari rekan-rekan mereka di Pusat Medis Rambam di Haifa. Banyak yang menggambarkan rasa frustrasi.

"Lima belas orang telah tewas selama apa yang seharusnya menjadi gencatan senjata, padahal sebenarnya tidak ada gencatan senjata," kata seorang tentara saat mengunjungi seorang teman yang terluka dalam serangan drone FPV.

"Mungkin drone Hizbullah sekarang memiliki kamera termal baru dan mereka benar-benar dapat melihat pergerakan pasukan kami."



KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK