Ambisi Pakistan Damaikan AS-Iran Dibayangi Krisis Dalam Negeri
Pakistan terus berupaya memperkuat peran diplomatiknya dalam memediasi upaya perdamaian antara Amerika Serikat dan Timur Tengah, sejak konflik tersebut pertama kali meletus pada 28 Februari 2026.
Situasi kawasan yang naik turun, dan bahkan sering kali terjadi eskalasi, membuat Pakistan semakin berusaha tampil sebagai mediator utama.
Jajaran pemimpin Pakistan, mulai dari Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif hingga Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir, aktif mempresentasikan Pakistan sebagai negara regional yang bertanggung jawab dan mampu membantu dialog di tengah krisis.
"Pemerintah dan media Pakistan berusaha menggambarkan negaranya sebagai penghubung antara dunia Muslim dan Barat," ujar Thiemo Rickenstorf, analis geopolitik asal Jerman dari Centre for Euro-Asian Studies.
"Langkah ini sekaligus menghidupkan kembali ambisi lama Pakistan untuk menjadi suara utama komunitas Muslim global," sambungnya.
Namun demikian, Rickenstorf mempertanyakan sejauh mana Pakistan mampu memainkan peran kepemimpinan tersebut mengingat kondisi domestiknya sendiri yang masih menghadapi banyak persoalan.
"Perhatian perlu diarahkan pada fakta, bahwa apa sebenarnya yang dapat dicapai dari negara dengan ekonomi, pemerintahan, dan kesejahteraan publik yang belum berkembang? Ini masih menjadi pertanyaan serius," ungkapnya.
Rickenstorf menilai Pakistan saat ini tengah menghadapi salah satu krisis ekonomi terberat dalam beberapa tahun terakhir. Negara itu disebut terus bergantung pada pinjaman dana talangan IMF untuk menjaga perekonomiannya tetap berjalan.
Ia juga menyoroti cadangan devisa Pakistan yang beberapa kali berada di level mengkhawatirkan, kenaikan harga kebutuhan pokok, hingga persoalan pasokan energi yang masih memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat.
Menurut dia, tingginya biaya listrik, pengangguran, dan menurunnya daya beli telah memicu frustrasi di kalangan masyarakat Pakistan.
"Bagi banyak warga Pakistan, hidup itu sendiri adalah perjuangan," tutur Rickenstorf.
Dunia Muslim Modern
Ia menyebut keluarga kelas menengah mulai memangkas pengeluaran, bisnis kecil banyak yang tutup, dan para lulusan muda berupaya mencari pekerjaan di luar negeri.
Meski demikian, Rickenstorf menilai elite politik Pakistan justru terlihat lebih fokus pada agenda geopolitik besar dan citra simbolik di dunia Muslim dibanding menyelesaikan persoalan dalam negeri.
Ia mengatakan situasi itu sebenarnya bukan hal baru. Selama bertahun-tahun, Pakistan berusaha mempertahankan citra sebagai pemimpin alami negara-negara Muslim, terutama karena statusnya sebagai satu-satunya negara mayoritas Muslim yang memiliki senjata nuklir.
Menurut dia, isu Kashmir, Palestina, Afghanistan, dan berbagai isu terkait Islam kerap menjadi bagian penting dalam wacana politik Pakistan dengan mengusung konsep "Muslim Ummah." Namun, Rickenstorf menilai dunia Muslim modern kini jauh lebih kompleks.
Di banyak negara Muslim, fokus pembangunan disebut telah bergeser ke arah pengembangan ekonomi, teknologi, infrastruktur, dan investasi asing.
Ia menilai negara-negara seperti Saudi Arabia, Turkey, Qatar, dan United Arab Emirates kini tampil lebih dominan secara ekonomi, diplomatik, dan modernisasi.
Sementara itu, Pakistan dinilai masih dibayangi instabilitas politik, dominasi militer dalam arena politik, lemahnya institusi, serta krisis finansial.
Rickenstorf juga menilai pendekatan Pakistan terhadap ketegangan Iran bukan semata persoalan ideologi, melainkan terkait kepentingan keamanan dan ekonomi nasional.
Menurut dia, Islamabad memahami bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah dapat mendorong kenaikan harga minyak yang akan memperburuk kondisi ekonomi Pakistan yang sudah rapuh.
Selain itu, Pakistan juga memiliki populasi Syiah dalam jumlah besar yang dinilai berpotensi memicu ketegangan sektarian apabila instabilitas Iran meluas ke Pakistan.
"Diplomasi Pakistan sangat terkait dengan kepentingan keamanan dan ekonominya," sebut Rickenstorf.
Meski demikian, di dalam negeri langkah tersebut disebut dipromosikan sebagai bukti bahwa Pakistan sedang menjadi kekuatan utama di dunia Muslim.
Rickenstorf menyebut situasi itu menghadirkan paradoks. Di satu sisi, Pakistan ingin diakui sebagai pembawa perdamaian dan kekuatan Muslim yang berkontribusi di panggung internasional.
Namun di sisi lain, negara itu juga terus menghadapi kritik terkait kemunduran demokrasi, kebebasan pers, polarisasi politik, dan isu hak asasi manusia.
Membangun Citra Pakistan
Ia menyoroti kasus penghilangan paksa dan represi negara yang disebut masih menjadi persoalan berulang di wilayah seperti Balochistan.
"Bagaimana sebuah negara dapat disebut memimpin negara lain jika tidak mampu memimpin dirinya sendiri dengan baik?" Katanya.
"Bagaimana sebuah negara dapat disebut pemimpin bangsa lain jika tidak mampu memimpin dirinya sendiri dalam stabilitas, keamanan ekonomi, dan kesetaraan hak?"
Menurut Rickenstorf, diplomasi simbolik memang dapat membantu memperkuat institusi dan citra negara, tetapi tidak dapat menggantikan fondasi domestik yang kuat.
Ia juga menilai terdapat unsur pertunjukan politik domestik dalam ambisi Pakistan menjadi pemimpin dunia Muslim.
Menurut dia, relevansi internasional sering kali membantu pemerintah mengalihkan perhatian dari kontroversi domestik ketika inflasi meningkat, lapangan kerja berkurang, dan ketidakpuasan publik membesar.
"Keberhasilan politik luar negeri dan narasi nasionalis menjadi alat politik," tulisnya.
Pada akhirnya, Rickenstorf menilai Pakistan perlu lebih fokus menyelesaikan persoalan internal sebelum memainkan peran besar di dunia Muslim.
Ia mengatakan upaya memperkuat ekonomi, meningkatkan pendidikan, memperbaiki akuntabilitas demokrasi, dan menjaga kesejahteraan masyarakat akan jauh lebih efektif membangun citra Pakistan dibanding manuver geopolitik simbolik.
"Kepemimpinan sejati tidak dibangun dari pidato, diplomasi televisi, atau retorika simbolik, melainkan dibangun di atas stabilitas, kekuatan ekonomi, kepercayaan publik, dan kemampuan negara untuk memprioritaskan martabat serta peluang bagi warganya sendiri terlebih dahulu," pungkas Rickenstorf.
(dna)