Alasan Swiss Akan Jadi Tuan Rumah Perjanjian Damai AS-Iran
Setelah saling serang sejak 28 Februari, kini Amerika Serikat dan Iran sepakat mengakhiri perang.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional Kazem Gharibabadi membeberkan bahwa teks nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan AS telah rampung dan akan ditandatangani secara resmi pada hari Jumat di Swiss.
"Teks nota kesepahaman telah diselesaikan, dan penandatanganan resmi Nota Kesepahaman Islamabad akan berlangsung di Swiss pada Jumat," kata Kazem Gharibabadi kepada media pemerintah.
"Komitmen kami akan berlaku mulai Jumat," tegas Gharibabadi.
Gharibabadi mengatakan nota kesepahaman tersebut "bukan semata-mata hasil upaya diplomatik," tetapi juga apa yang ia gambarkan sebagai "pencapaian militer" Iran.
Sementara Kementerian Luar Negeri Swiss mengatakan pihaknya mengusulkan "Swiss sebagai tempat untuk kemungkinan penandatanganan, jika para pihak menyetujuinya."
Pada Kamis (11/6), empat pesawat angkut C-17 Angkatan Udara AS berangkat ke Eropa membawa peralatan untuk kemungkinan kunjungan Wakil Presiden JD Vance ke Jenewa untuk penandatanganan perjanjian prospektif antara AS dan Iran, lapor Axios.
Persiapan yang dilaporkan tersebut menyusul komentar Presiden Donald Trump bahwa Washington dan Teheran telah mencapai "kesepakatan besar" dan dapat menandatangani perjanjian tersebut paling cepat akhir pekan ini.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga telah mengkonfirmasi bahwa kedua pihak telah menyepakati "draf akhir" dari kemungkinan kesepakatan dan bahwa "langkah selanjutnya" sedang diselesaikan.
Mengapa Swiss?
Swiss dengan ibu kota Jenewa sudah lama dikenal sebagai negara yang netral. Santo terkenal Swiss, Nicholas dari Flüe (1417-1487), pernah berkata, "Jangan ikut campur dalam urusan orang lain."
Hal ini kemudian menjadi ciri khas kebijakan luar negeri Swiss selama hampir 500 tahun. Negara ini pada dasarnya telah bersikap netral sejak tahun 1515, status yang dijamin oleh kekuatan-kekuatan besar Eropa setelah Perang Napoleon pada tahun 1815.
Netralitas berarti menghindari partisipasi dalam perang antar negara lain. Komunitas internasional menyepakati hak dan kewajiban negara-negara netral di masa perang pada tahun 1907.
Di masa damai, negara-negara netral seperti Swiss menetapkan aturan mereka sendiri, tetapi menganggap bahwa mereka harus tetap berada di luar blok militer.
Status netralitas tidak hanya melindungi Swiss dari perang, tetapi juga mencegah negara itu terpecah belah ketika komunitas bahasa yang berbeda mungkin tergoda untuk memihak pihak yang bertikai dalam kasus konflik.
Netralitas Swiss di zaman modern
Dikutip dari laman Expatica, sejak berakhirnya Perang Dingin, negara ini bergabung dengan Kemitraan untuk Perdamaian NATO pada tahun 1996, menekankan keinginan untuk mempromosikan perdamaian dan keamanan sambil tetap berhak untuk menarik diri.
Sikap netral Swiss memungkinkan negara tersebut untuk bertindak sebagai mediator. Para diplomatnya sering mewakili kepentingan negara-negara yang tidak memiliki hubungan satu sama lain. Dengan demikian, misalnya, Swiss menjaga kepentingan AS di Kuba dan Iran, serta kepentingan Kuba di AS.
Swiss menawarkan tempat netral untuk menyelenggarakan konferensi dan pertemuan sensitif.
Misalnya, pertemuan pertama antara Mikhail Gorbachev dan Ronald Reagan (1985) atau antara Bill Clinton dan Presiden Suriah Bashar al-Assad (2000) berlangsung di Jenewa.
Swiss juga menjadi tempat perundingan perdamaian antara berbagai pemerintah dan kelompok pemberontak, termasuk Indonesia, Spanyol, dan Sri Lanka.
Negara pegunungan Alpen ini juga menjadi tuan rumah perundingan penyelesaian konflik di pulau Siprus.
Swiss memainkan peran utama dalam upaya internasional untuk mewujudkan dialog antara pemerintah Kolombia dan pemberontak FARC sejak tahun 2001.
Kementerian Luar Negeri Swiss memiliki Kelompok Pakar untuk Pembangunan Perdamaian Sipil (SEP).
Anggota SEP bekerja secara diam-diam di sejumlah negara sebagai fasilitator yang mempertemukan faksi-faksi yang bertentangan. Di antara konflik-konflik di mana para ahli ini telah memberikan nasihat adalah perang saudara Sudan, yang berakhir pada tahun 2005.
Jenewa berfungsi sebagai ibu kota internasional Swiss. Bahkan, kota ini menjadi tempat bagi sekitar 200 organisasi internasional dan misi diplomatik dari sekitar 170 negara. Jenewa juga merupakan markas besar PBB di Eropa dan markas besar Komite Internasional Palang Merah.
(imf/bac)