Trump Ngomel usai Dikritik soal MoU AS-Iran: Mereka Bodoh

CNN Indonesia
Kamis, 18 Jun 2026 21:00 WIB
Trump tak terima dikritik usai tanda tangan kesepakatan setop perang AS dengan Iran. Foto: REUTERS/Evan Vucci
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Donald Trump mengecam kritikan yang dilontarkan sejumlah pihak terkait nota kesepahaman yang ditandatangani Amerika Serikat dan Iran.

Trump menyebut mereka yang menuduhnya menawarkan konsesi ke Iran untuk mengakhiri perang sebagai "orang bodoh".

"Orang-orang bodoh ini, yang menganggap saya belum cukup keras terhadap Iran, ketika pasar saham baru saja mencapai rekor tertinggi dan harga minyak 'jatuh', adalah mereka yang cemburu, orang jahat, atau bodoh," tulis Trump di media sosial, beberapa jam setelah menandatangani perjanjian, seperti dilaporkan AFP. 

Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara terpisah telah menandatangani nota kesepahaman berisi 14 poin, demi mengakhiri konflik Timur Tengah yang dimulai sejak Februari lalu.

Saat ini Iran dan AS punya waktu selama 60 hari ke depan untuk memulai perundingan, untuk secara resmi menghentikan perang.

Berdasarkan kesepakatan itu, AS berkomitmen untuk segera menghapuskan sanksi minyak yang melumpuhkan perekonomian Iran.

Selain itu setelah kesepakatan akhir mengenai program nuklir Iran tercapai, AS juga akan memfasilitasi pencairan "kompensasi" untuk rekonstruksi Iran senilai US$300 miliar atau sekitar Rp5.342 triliun, yang didukung oleh negara-negara di kawasan.

Sebaliknya, para pejabat AS menyebut Iran akan mengurangi cadangan uranium yang diperkaya, kemungkinan dengan cara melakukan "down-blending" di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa Bangsa.

Beberapa jam usai penandatanganan kesepakatan, sejumlah media AS meluncurkan kritikan atas MoU yang diteken Trump dengan Iran.

"Gedung Putih menyetujui perpanjangan gencatan senjata ini yang tidak memenuhi tujuan sebelum perang, namun memberikan konsesi keuangan yang sangat besar kepada Teheran," demikian laporan jaringan TV AS, MS NOW.

"Sekarang, pemerintah berusaha mati-matian untuk berargumentasi sebaliknya. Sederhananya, Trump dipermainkan oleh Iran, dan tiak ada yang mau menerima tawarannya," lanjut laporan itu.

Fox News sebagai saluran berita yang biasanya "ramah" dengan pemerintah Trump, mengutip para kritikus yang mengatakan perjanjian itu memberikan Iran keuntungan finansial yang besar.

Menurut para pengamat, seperti dikutip Fox News, Iran justru mendapat keuntungan tanpa perlu benar-benar menghentikan program nuklirnya.

Media Wall Street Journal (WSJ) menyebut perjanjian itu secara luas dipandang sebagai pertaruhan kebijakan luar negeri terbesar pada masa jabatan Trump yang kedua.

"Trump akan menghadapi perlawanan dari kelompok garis keras kebijakan Iran, yang mendatakan bahwa presiden telah menyerah jauh lebih banyak daripada yang ia dapatkan," kutip WSJ.

(dna)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK