Militer AS Mulai Buntu, Kehabisan Akal untuk Tekan Iran

CNN Indonesia
Senin, 03 Agu 2026 20:40 WIB
A US Navy F/18 Hornet jet prepares to land on the deck of the USS George H.W. Bush aircraft carrier on May 11, 2018 in the Atlantic Ocean. - For ten days some 300 French sailors, including 16 pilots, their 12 Rafales fighter jets and one Hawkeye Surv
Ilustrasi. Militer AS disebut mulai kehabisan ide untuk menekan Iran. Foto: AFP/ERIC BARADAT
Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat (AS) mulai kehabisan cara untuk menekan Iran dalam perangnya di Timur Tengah. Hal itu diketahui usai seorang perwira senior AS menulis email (surat elektronik/surel) kepada berbagai analis militer untuk mendapatkan bantuan akan ide-ide baru.

"Kami sedang mencari cara-cara baru yang kreatif dan tidak konvensional untuk menekan dan menghukum Iran," bunyi pesan perwira senior tersebut, menurut sumber yang mengetahui isi pesan itu kepada CNN.

Pesan ini dikonfirmasi oleh sumber kedua yang mengatakan permintaan tersebut dikirim minggu lalu seiring dengan kebuntuan Washington untuk menangani Teheran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut sumber kedua, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengakui bahwa mereka perlu mengevaluasi kembali strategi dalam melawan Iran.

Para pejabat militer mengatakan permintaan pendapat semacam ini tidak biasa dilakukan melalui surel. Permintaan ini menjadi salah satu indikasi terbatasnya pilihan yang tersedia bagi Presiden AS Donald Trump, yang mungkin juga merupakan pilihan yang tidak menyenangkan.

CENTCOM sudah bersuara mengenai pesan surel ini. Juru bicara CENTCOM Kapten Timothy Hawkins mengatakan pihaknya memiliki sejarah panjang dalam berpikir dan bekerja "dengan cara-cara inovatif."

"(Komandan CENTCOM) Laksamana (Brad) Cooper, khususnya, menghubungi anggota-anggota tim hebat kami, tanpa memandang pangkat, untuk mencapai tingkat kinerja operasional tertinggi," ujar Hawkins dalam sebuah pernyataan.

Email militer AS ini dikirim sebelum Trump mengancam akan melancarkan serangan baru ke Iran, yang akhirnya dibatalkan usai para pejabat Timur Tengah, khususnya Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MbS), turun tangan menghubungi Trump untuk memintanya meredakan ketegangan.

Menurut dua sumber yang mengetahui rencana militer AS, Washington sudah bersiap menyerang Gunung Pickaxe dan sejumlah situs Iran yang diyakini berisi material atau peralatan nuklir.

Namun, menurut keduanya, serangan itu tidak akan cukup berhasil bahkan dengan senjata konvensional AS yang paling ampuh sekalipun. Sebab, fasilitas-fasilitas tersebut terkubur jauh di bawah tanah.

Untuk benar-benar menghancurkannya, AS kemungkinan perlu menggunakan pasukan darat. Risiko luar biasa ini enggan diambil Trump, di tengah desakan publik mengenai transparansi pemerintahannya terkait korban jiwa di kalangan militer.

Delapan belas prajurit AS dilaporkan tewas dalam pertempuran sejauh ini.

Menurut sumber lain, Trump saat ini sedang mempertimbangkan serangan yang mirip dengan pertunjukan "kembang api", yang dapat menghantam lokasi yang sama atau serupa dengan yang ditargetkan setahun lalu.

Harapannya, agar AS meraih kemenangan simbolis yang dapat memungkinkan Trump keluar dari perang tanpa benar-benar mencapai salah satu tujuan awal, yakni melucuti program nuklir Iran.

Jika skenario ini dilakukan, isu utama perang Iran sepertinya tidak akan terselesaikan: klaim Iran atas Selat Hormuz.

"Pada akhirnya, Presiden AS akan menginginkan kesepakatan, jadi dia akan terus mencari cara untuk bersikap tegas dan keluar dari situasi ini," kata salah satu sumber yang mengetahui diskusi perencanaan baru-baru ini.

"Anda butuh pikiran-pikiran kreatif di saat-saat tertentu, terutama jika Anda kehabisan pilihan konvensional," lanjutnya.

Badan Intelijen Pusat (CIA) maupun Badan Intelijen Pertahanan (DIA) sudah menyimpulkan bahwa apa pun pemboman yang dilakukan AS, tidak akan mengubah posisi negosiasi Iran.

Penasihat militer paling senior presiden, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, telah mengakui secara terbuka bahwa pengeboman saja kemungkinan besar tidak akan mencapai semua tujuan yang sebelumnya dinyatakan Trump untuk perang tersebut.

"Kekuatan udara memiliki batasnya," kata Caine kepada para anggota parlemen bulan lalu.

Berbagai opsi untuk meningkatkan konflik telah disampaikan kepada Trump selama berbulan-bulan dan diperdebatkan panjang lebar. Aset-aset militer juga sudah dikirim ke Timur Tengah untuk mengantisipasi persetujuan Trump.

Beberapa pejabat AS mengatakan salah satu rencana yang disusun oleh CENTCOM melibatkan pemboman besar-besaran selama satu atau dua minggu untuk melumpuhkan kemampuan rudal Iran.

Namun, Trump sejauh ini menahan diri, sebagian karena mendengar kekhawatiran Caine tentang menipisnya stok rudal pencegat.

Sejumlah pejabat lain juga telah menyampaikan kekhawatiran tentang risiko tingginya korban sipil jika Trump melanjutkan ancamannya untuk menyerang infrastruktur seperti jembatan dan pabrik desalinasi air.

Trump sebetulnya bisa saja meningkatkan eskalasi dengan mengerahkan pasukan darat. Tapi, ini akan bertentangan dengan janji utamanya saat kampanye dulu: "Saya tidak akan mengirim Anda untuk berperang dan mati dalam perang asing bodoh yang tidak pernah berakhir."

(blq/dna)