Muncul ke Permukaan, Ini Kata Pemimpin Iran Khamenei soal MoU AS

CNN Indonesia
Jumat, 19 Jun 2026 09:20 WIB
Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei buka suara soal MoU upaya mengakhiri perang diteken Presiden Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump. (Foto: AFP/AMIR KHOLOUSI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menyatakan telah menyetujui nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani Presiden Masoud Pezeshkian dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri perang.

Dalam pernyataan terbarunya pada Kamis (18/6), Khamenei menuturkan ia tetap menyetujui MoU itu meski memiliki sejumlah keberatan. Pernyataan Khamenei itu disampaikan bersamaan dengan langkah AS mencabut blokade terhadap kapal dan pelabuhan-pelabuhan Iran.

"Namun saya memberikan persetujuan karena adanya komitmen dari para pejabat, termasuk Presiden Pezeshkian, untuk melindungi hak-hak bangsa Iran," tulis Khamenei seperti dikutip AFP.

Ia menambahkan bahwa "negosiasi tatap muka" dengan Amerika Serikat akan dilakukan pada masa mendatang, tetapi hal itu tidak berarti "menerima sudut pandang musuh".

Khamenei menjadi Pemimpin Tertinggi Iran menggantikan sang ayah, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara AS-Israel pada hari pertama perang pada 28 Februari lalu.

Selama masa kepemimpinannya, Ali Khamenei berulang kali mengizinkan para pejabat Iran bernegosiasi dengan pihak Barat meskipun dirinya sendiri tidak pernah menunjukkan antusiasme terhadap proses tersebut.

Sementara itu, putranya, Mojtaba Khamenei, belum pernah muncul di hadapan publik sejak ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Upacara pemakaman sang ayah yang dijadwalkan berlangsung awal Juli diperkirakan akan menjadi sorotan karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kepemimpinan baru Iran.

Berdasarkan isi kesepakatan, Washington berkomitmen untuk segera mencabut sanksi minyak yang selama ini melumpuhkan perekonomian Iran.

Selain itu, setelah tercapai kesepakatan final mengenai program nuklir Iran, Amerika Serikat akan memfasilitasi pencairan dana rekonstruksi senilai US$300 miliar yang didukung negara-negara kawasan.

Kesepakatan diharapkan dapat mengakhiri konflik antara AS dan Israel melawan Iran yang berlangsung selama lima pekan penuh hingga gencatan senjata tercapai pada awal April.

Namun, sebagian warga Iran masih meragukan prospek perdamaian jangka panjang.

"Saya tidak yakin ini akan menjadi kesepakatan yang bertahan lama. Bisa saja setelah 60 hari mereka kembali berperang," kata Mina, seorang psikolog berusia 54 tahun dari Teheran.

Pandangan serupa juga diungkapkan Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang memimpin proses penandatanganan kesepakatan di Istana Versailles dalam langkah yang ia sebut sebagai inisiatif "spontan" dari Trump.

Macron mengatakan dirinya "tidak percaya" bahwa perang tersebut benar-benar telah berakhir sepenuhnya. Hal itu diungkapkan saat menyaksikan Presiden Donald Trump meneken MoU dengan Iran secara digital di sela-sela KTT G7 di Prancis.

(rds)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK