Apa Itu Serikat Santo Pius X yang Membangkang Paus?

CNN Indonesia
Rabu, 01 Jul 2026 13:56 WIB
Serikat Santo Pius X (Society of Saint Pius X/SSPX) menjadi sorotan usai membangkang Vatikan dengan menunjuk 4 uskup baru tanpa persetujuan Paus Leo XIV. (Foto: REUTERS/Yara Nardi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Serikat Santo Pius X atau kerap disebut Society of Saint Pius X (SSPX) menjadi sorotan usai membangkang aturan Vatikan dengan menunjuk empat uskup baru tanpa persetujuan Paus Leo XIV.

Aliran Katolik ultra-tradisionalis yang memiliki sekitar 600 ribu pengikut di seluruh dunia itu berencana menahbiskan empat uskup baru yakni dua warga Prancis, satu warga Amerika Serikat, dan satu warga Swiss, tanpa mengikuti aturan dan persetujuan Vatikan.

Upacara pentahbisan akan digelar dalam misa bebrahasa Latin yang diperkirakan berlangsung sekitar empat jam di ladang Econe, Swiss, dan dihadiri sekitar 15.000 umat.

Lokasi tersebut merupakan tempat yang sama ketika pendiri SSPX, Marcel Lefebvre, secara kontroversial menahbiskan empat uskup tanpa persetujuan Vatikan pada 38 tahun lalu.

Pembangkangan ini sampai memicu Paus Leo XIV menyurati SSPX dan memohon kelompok itu membatalkan aksi ini agar tidak mencoreng kesucian agama Katolik.

"Saya memohon dan meminta dengan sepenuh hati kepada Anda: tolong batalkan niat ini dan kembalilah!" tulis Paus Leo XIV dalam suratnya kepada SSPX pada Senin. Ia menyebut pentahbisan tersebut sebagai "tindakan skismatik".

"Mengoyak jubah Kristus yang tak terpisahkan adalah dosa yang sangat berat," tulis Paus.

Sementara itu, pemimpin tertinggi SSPX, Pastor Davide Pagliarani, dalam pernyataannya pada Selasa menegaskan kelompoknya tetap akan melanjutkan pentahbisan tersebut dan bersikeras bahwa SSPX "bukan kelompok skismatik maupun musuh Gereja".

Apa itu Serikat Santo Pius X atau SSPX?

Society of Saint Pius X (SSPX) merupakan kelompok Katolik ultra-tradisionalis yang menyatakan diri mereka memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma.

Berdiri pada 1970 di Swiss oleh Uskup Agung asal Prancis, Marcel Lefebvre, SSPX merupakan kelompok Katolik fundamentalis yang menolak berbagai reformasi liberal yang diperkenalkan melalui Konsili Vatikan II pada 1960-an.

Namun, lima tahun kemudian SSPX secara resmi dibubarkan oleh Uskup Fribourg. Pada 1988, kelompok tersebut tetap menahbiskan empat uskup tanpa persetujuan Paus, yang berujung pada ekskomunikasi terhadap mereka.

"Ini bukan tindakan pemberontakan, melainkan tindakan yang lahir dari kecintaan kepada Gereja," kata Pastor Michel Rion, dosen teologi di seminari tersebut, salah satu dari lima seminari SSPX di dunia kepada AFP.

SSPX memiliki kehadiran yang cukup aktif di Amerika Serikat, dengan kantor pusat di Missouri serta sebuah seminari untuk mendidik calon imam di Dillwyn, Virginia. Salah satu uskup yang akan ditahbiskan pada Rabu adalah Pastor Michael Goldade, yang saat ini memimpin seminari tersebut.

Meski hanya memiliki sekitar 700 imam dan 600.000 pengikut di seluruh dunia-jumlah yang relatif kecil dibandingkan Gereja Katolik Roma yang memiliki sekitar 1,4 miliar umat dan sekitar 400.000 imam-Paus Leo XIV memandang ancaman terhadap persatuan Gereja ini sebagai persoalan yang sangat serius.

Apa alasan SPPX membangkang Vatikan?

SSPX menganut interpretasi yang sangat ketat terhadap tradisi Katolik Roma. Misa mereka menggunakan bahasa Latin dan dipimpin imam yang menghadap altar, membelakangi jemaat.

Dikutip CNN, perpecahan SSPX dengan Gereja Katolik Roma berakar pada penolakan Lefebvre dan para pengikutnya terhadap reformasi Gereja yang diperkenalkan melalui Konsili Vatikan II pada 1960-an.

Kelompok yang dikenal sebagai "Lefebvrist" itu menolak ajaran Konsili Vatikan II mengenai kebebasan beragama, ekumenisme (hubungan dengan denominasi Kristen lain dan agama-agama lain), serta pembaruan tata peribadatan Katolik. Salah satu keputusan penting konsili tersebut adalah mengecam segala bentuk antisemitisme.

Kaum Lefebvrist berpendapat bahwa mereka harus tetap menahbiskan uskup tanpa persetujuan Paus karena Gereja Katolik saat ini berada dalam "keadaan darurat" akibat masuknya gagasan-gagasan liberal dan "modernis".

Menurut mereka, keselamatan jiwa harus menjadi prioritas utama. Dalam beberapa hari terakhir, SSPX bahkan menerbitkan dokumen setebal 28 halaman berjudul *Profesi Iman Katolik* yang diklaim bertujuan "mencerahkan jiwa-jiwa dalam menghadapi berbagai kesalahan modern."

"Gereja terus berupaya menyesuaikan diri untuk menyampaikan pesannya demi menuntun jiwa-jiwa menuju surga. Namun, Gereja telah terlalu banyak menyesuaikan diri dengan dunia," kata Rion.

(rds/bac)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK