Taiwan Kembali Gelar Kelas Akmil Anti-Komunis Setelah Setop 24 Tahun
Kementerian Pertahanan Taiwan menyatakan bahwa akademi militer Taiwan akan kembali mengadakan kelas patriotisme "antikomunis" bagi para lulusannya, setelah program tersebut dihentikan selama sekitar 24 tahun.
Kementerian Pertahanan Taiwan menyebut kelas tersebut kini dihidupkan kembali karena meningkatnya ancaman militer dan infiltrasi dari China.
"Para lulusan perlu memahami secara jelas ancaman terhadap keamanan nasional dan menyadari misi militer, yakni 'mengapa kita berperang dan untuk siapa kita berperang'," tulis Kementerian Pertahanan Taiwan seperti diberitakan Reuters pada Minggu (5/7).
Kelas tersebut kembali digelar setelah 24 tahun ditiadakan. Program resmi pendidikan patriotisme "antikomunis" bagi lulusan akademi militer dihentikan pada 2002, kemudian program tersebut diganti menjadi "pendidikan patriotisme."
Menurut Kementerian Pertahanan Taiwan, para lulusan akan mendapatkan kuliah dari sejumlah pejabat pemerintah, termasuk dari Mainland Affairs Council yang mengurusi kebijakan terhadap China, Dewan Keamanan Nasional, Kementerian Kehakiman, serta lembaga riset pemerintah Academia Sinica.
"Tujuannya adalah membangun pemahaman yang jelas di kalangan lulusan mengenai siapa kawan dan siapa lawan," tambah kementerian tersebut.
Langkah itu diambil dengan alasan meningkatnya ancaman dari China, di tengah laporan pejabat senior mengenai meningkatnya aktivitas angkatan laut China.
Pada masa Perang Dingin, pemerintah Taiwan secara luas menggelar kampanye antikomunis yang menggambarkan China sebagai ancaman terhadap keamanan negara pulau tersebut.
Kendati demikian, Kementerian Pertahanan China belum memberikan tanggapan terkait hal tersebut. Namun, pemerintah China tidak pernah menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer untuk mengambil alih Taiwan.
Militer China pun hampir setiap hari beroperasi di sekitar Taiwan.
Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Taiwan, Joseph W menyampaikan bahwa hingga Jumat (3/7), Taiwan melacak lebih dari 110 kapal militer dan kapal penjaga pantai China yang beroperasi di sepanjang First Island Chain.
"Mobilisasi besar-besaran armada maritim China di sepanjang First Island Chain merupakan tanda jelas dari ekspansionisme mereka," ujar Wu di X pada Sabtu (4/7), merujuk pada kawasan yang membentang dari Jepang, Taiwan, Filipina, hingga Kalimantan.
Pada Sabtu, Penjaga Pantai China juga meluncurkan patroli baru di lepas pantai timur Taiwan. Langkah tersebut memicu respons keras dari Taipei yang menegaskan Beijing tidak memiliki yurisdiksi di perairan tersebut. Pemerintah Taiwan terus menolak klaim kedaulatan China atas pulau itu.
(van/fea)