Minat Belajar Bahasa Indonesia di Australia Menurun, Apa Penyebabnya?

CNN Indonesia
Senin, 13 Jul 2026 17:30 WIB
Ilustrasi bendera Australia dan bendera Indonesia
Ilustrasi. (CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani)
Jakarta, CNN Indonesia --

Essington School yang berada di kota Darwin, Australia menghentikan program studi bahasa Indonesia pada 2025 lalu.

Padahal program ini sudah berjalan lama. Sekolah bergengsi ini bahkan pernah menjalin kerjasama dengan SMA 10 Padang pada 2007 silam untuk pertukaran pelajar.

Kepada media Australia, ABC, pihak sekolah mengatakan, "setelah sekian lama mengajarkan Bahasa Indonesia", mereka akan menutup programnya pada akhir semester satu pada tahun 2025.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Keputusan untuk menutup program Bahasa Indonesia didasarkan pada tinjauan menyeluruh terhadap prioritas kurikulum, masukan orang tua, dan keterlibatan siswa," kata juru bicara sekolah tersebut.

"Kami akan berkonsultasi dengan pihak keluarga pada awal 2025 untuk menjajaki bahasa yang diminati. Meski bahasa Indonesia jadi pilihan yang berharga, Essington tetap berkomitmen untuk membekali siswa dengan kemampuan global."

Essington bukanlah satu-satunya sekolah menengah yang menutup program pilihan bahasa Indonesia. Penutupan program Bahasa Indonesia di Essington terjadi setelah Scotch Collge, salah satu sekolah paling elite di Melbourne juga melakukannya awal tahun 2025 lalu.

Padahal kata Bayu Prihantoro yang tiba di Melbourne pertengahan 2023 untuk bekerja sebagai asisten guru Bahasa Indonesia di Scotch, murid-muridnya senang belajar Bahasa Indonesia.

"Bisa dibilang 80, 90 persen anak-anak antusias dan senang belajar Bahasa Indonesia, terutama saat penutur asli datang. Tapi tiba-tiba, program itu dihapus. Dihapus dari kurikulum," katanya kepada ABC.

Data dari Komite Tetap Dewan Perwakilan Rakyat Bidang Pendidikan Australia menunjukkan laporan tentang keamanan dan kemakmuran di Asia, yang dibahas pada peluncuran Kapabilitas Sahabat Parlemen Asia yang baru di Gedung Parlemen.

Laporan tersebut mencatat bahwa dari 2005 hingga 2024, terjadi penurunan sebesar 75 persen dalam pendaftaran universitas untuk studi bahasa Asia Tenggara.

Bahasa Indonesia menjadi kurang populer untuk dipelajari, dengan penurunan hampir 60 persen dari tahun 2010 hingga 2024 pada siswa kelas 12 yang memilih untuk mempelajari bahasa tersebut.

Para ahli memberi tahu Komite bahwa jika tren ini berlanjut, bahasa Indonesia 'akan punah secara fungsional pada tahun 2031.'

Merujuk pada laporan Konsorsium Australia untuk Studi Indonesia di Dalam Negeri (ACICIS), jumlah perguruan tinggi di Australia yang masih menyelenggarakan program Bahasa Indonesia pada 2023 tinggal 13 institusi, jauh berkurang dibandingkan sekitar 22 kampus dalam dua dekade terakhir.

Di beberapa wilayah, eksistensi program ini bahkan sempat terancam hilang sepenuhnya di tingkat universitas ketika Universitas Tasmania mempertimbangkan penghentian pengajaran Bahasa Indonesia.

Tidak penting lagi?

Beredar anggapan bahwa menurunnya siswa Australia belajar Bahasa Indonesia karena dianggap tidak lagi penting. Pengakuan itu datang dari Presiden Asosiasi Guru Bahasa Indonesia Victoria (VILTA) Silvy Wantania.

Dia mengatakan menurunnya minat untuk belajar Bahasa Indonesia adalah karena orang Australia pada umumnya masih menganggap Indonesia kurang penting dibandingkan negara-negara Barat, atau bahkan negara-negara Asia lainnya.

"Banyak orang tidak menganggap Indonesia penting, mereka cuma suka ke Bali untuk berlibur," katanya.

Namun, Komite Tetap Dewan Perwakilan Rakyat Bidang Pendidikan punya alasan berbeda. Komite mendengar dua alasan untuk tren penurunan pembelajaran bahasa Indonesia di antara bahasa-bahasa lain yang digunakan di kawasan ini. Pertama, AI akan menggantikan kebutuhan untuk belajar bahasa.

Alasan kedua yang didengar oleh komite adalah bahwa diaspora Australia-Asia akan mengisi kesenjangan dalam pemahaman bahasa dan budaya di kawasan tersebut. Lebih dari sepertiga penduduk Australia lahir di luar negeri, di mana orang-orang dari India, Cina, Filipina, Inggris, dan Selandia Baru mewakili kelompok migran terbesar di negara tersebut.

Sementara menurut Alistair Welsh, dosen Bahasa Indonesia di Deakin University Melbourne, keputusan untuk mengakhiri program Bahasa Indonesia pada dasarnya bersifat "ideologis."

Sebab, "Saya mendengar kasus baru-baru ini di mana mereka mengganti Bahasa Indonesia dengan bahasa Prancis, ini adalah keputusan yang didasarkan ideologi," katanya.

Memang ada beberapa sekolah dan kampus yang memberi alasan teknis, misalnya karena tidak mampu mempekerjakan staf. Tapi kata Welsh, sekarang banyak juga sekolah yang memiliki staf tapi tetap menutup programnya.

Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitsa Gadjah Mada (UGM), Wira Kurniawati menjelaskan bahwa merosotnya minat mempelajari Bahasa Indonesia dipicu oleh sejumlah faktor, baik yang berasal dari dinamika internal maupun eksternal di Australia, yang satu sama lain saling berkelindan. Baginya, peristiwa geopolotik di kedua negara, seperti peristiwa bom Bali serta pandemi COVID-19 menjadi salah satu pemicu.

Selain itu, terdapat dinamika internal Australia, seperti dinamika politik, sistem migrasi, dan sumber daya manusia yang menguasai Bahasa Indonesia cukup terbatas.

"Banyak juga sekolah-sekolah yang mulai menutup kelas bahasa Indonesia karena diawali dari permasalahan bom Bali dan COVID-19. Di Australia juga terdapat beberapa permasalahan internalnya seperti kondisi politiknya, sistem migrasi, dan sumber daya manusia yang menguasai Bahasa Indonesia terbatas," ujar Wira, dikutip dari laman UGM.

Wira menambahkan, peningkatan kemahiran masyarakat Indonesia dalam berbahasa Inggris turut memengaruhi urgensi warga Australia dalam belajar bahasa Indonesia.

"Belum lagi, masyarakat Indonesia sudah mahir dalam berbahasa Inggris, sehingga urgensi mereka untuk belajar bahasa Indonesia tidaklah banyak," tambahnya.

Wira mengaku ada beberapa alasan bagi mahasiswa asing tertarik untuk mempelajari Bahasa Indonesia adalah karena ekonomi, pendidikan, adat istiadat, dan pariwisata.

Sehingga penguasaan Bahasa Indonesia membuka peluang kerja sama bisnis dan investasi sekaligus memperluas akses berjejaring secara profesional. Pengakuan Bahasa Indonesia di sidang PBB pada 2023 juga turut meningkatkan legitimasi dan daya tarik global, terkhususnya bagi mereka di bidang pendidikan dan penelitian.

Selain itu, sektor pariwisata juga mengambil peran yang besar mengingat Indonesia dikenal sebagai destinasi wisata unggulan yang membuat banyak wisatawan terdorong mempelajari bahasanya demi memperkaya pengalaman selama berkunjung.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Add as a preferred
source on Google
Penyebab Minat Belajar Bahasa Indonesia di Australia Terus Menurun BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2