Trump Resmi Kirim Surat ke Kongres: Perang AS-Iran Lanjut Lagi
Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi memberitahu Kongres bahwa dia telah melanjutkan operasi militer terhadap Iran.
Pemberitahuan itu dilakukan melalui surat tertanggal 10 Juli 2026. Dalam surat, Trump mengatakan operasi militer AS terhadap Iran dimulai pada 7 Juli setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) diduga menyerang beberapa kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.
"Terlepas dari komitmen ini, Iran kembali menyerang beberapa kapal dagang berbendera netral yang melintasi Selat Hormuz antara tanggal 6-7 Juli 2026," tulis Trump, dikutip Anadolu Agency, Senin.
Iran saat itu mengeklaim kapal tersebut tak mematuhi aturan dan mengabaikan peringatan, sehingga menjadi sasaran. Teheran juga m Selat Hormuz berada di bawah kendali mereka sesuai dengan nota kesepahaman (MoU) yang sudah ditandatangani pada Juni lalu.
Dalam surat ke Kongres, Trump juga menyinggung MoU AS-Iran. Dia mengatakan Teheran harus menggunakan "upaya terbaiknya" untuk mengatur jalur aman bagi kapal-kapal dagang dari Teluk Persia ke Laut Oman. Karena Iran dianggap menyerang kapal dagang, Trump mengatakan pasukan AS merespons dengan "serangan defensif" terhadap target di Iran.
"Pasukan darat Amerika Serikat tidak terlibat dalam serangan ini," kata Trump.
Dia menggambarkan serangan itu terbatas, terukur, direncanakan, dan dieksekusi dengan cara yang dirancang untuk meminimalkan korban sipil. Trump juga memperingatkan pasukan AS tetap siap mengambil tindakan tambahan jika diperlukan.
Sebelumnya, Trump mengatakan AS akan memberlakukan kembali "blokade Iran" dan mengusulkan pengenaan biaya 20 persen ke kapal yang melewati Selat Hormuz sebagai imbalan atas perlindungan AS.
Lihat Juga : |
Komando Pusat AS kemudian menyatakan blokade terhadap kapal yang berlayar ke atau dari pelabuhan Iran akan dilanjutkan pada Selasa.
Dalam beberapa hari terakhir, ketegangan meningkat di Selat Hormuz usai AS menggempur Iran. AS dan Iran padahal sudah meneken MoU yang berisi penghentian pertempuran di semua front dan tidak memulai serangan apapun.
Kedua negara itu juga terlibat negosiasi untuk betul-betul mengakhiri perang. Namun, perundingan kerap buntu terutama saat membahas masa depan nuklir Iran.