Kala Pelatih Mesir & Bintang Spanyol Bela Palestina Bikin Israel Kesal

CNN Indonesia
Selasa, 14 Jul 2026 14:20 WIB
Penyerang andalan timnas Spanyol Lamine Yamal termasuk yang vokal membela Palestina dari agresi Israel: (REUTERS/Claudia Greco)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sepak bola ternyata menjadi media efektif untuk membawa pesan perdamaian. Hal itu terlihat saat pelatih Mesir Hossam Hassan mengeskpresikan dukungan kepada Palestina.

Meski tersingkir oleh timnas Argentina dalam laga dramatis di Piala Dunia 2026, ternyata aksi Hassan jadi perbincangan. Terlihat lelaki plontos ini membawa bendera Palestina di lapangan yang mendapat sorotan dunia.

Berbicara pada konferensi pers larut malam di Amerika Serikat, menjelang pertandingan melawan Argentina, Hassan menegaskan pebelaannya terhadap penderitaan warga Palestina.

"Jika ada siapa pun di dunia ini yang tidak merasakan penderitaan rakyat Palestina, mereka telah kehilangan bagian penting dari kemanusiaan mereka, terlepas dari kewarganegaraan, agama, atau latar belakang mereka - apakah Arab, Eropa, Amerika, atau dari mana pun," katanya.

Hassan mendesak setiap orang "yang memegang wewenang atau pengaruh untuk membayangkan diri mereka sendiri atau anak-anak mereka menghabiskan satu hari saja dalam kondisi yang dialami oleh penduduk Gaza dan Palestina, duduk di tempat terbuka di bawah terik matahari atau di tengah hujan dan dingin, tanpa tempat berlindung atau keamanan."

Menyebut situasi tersebut sebagai "noda pada hati nurani seluruh dunia," Hassan menyerukan dukungan untuk Palestina, dengan mengatakan: "Tolong, sampaikan pesan Anda bahwa rakyat Palestina berhak untuk hidup."

Ternyata, bukan Hassan yang mengekspersikan dukungan kepadan Palestina dari dunia sepak bola. Penyerang sayap (winger) timnas Spanyol Lamine Yamal juga melakukan hal yang tak jauh berbeda. Meski bukan dari ajang Piala Dunia, aksinya di perayaan kemenangan Barcelona FC Mei lalu cukup membetot perhatian dunia.

Lamine Yamal, pemain termuda di Piala Dunia, 18 tahun, ayahnya berasal dari Maroko, adalah pemain fenomenal di tim FC Barcelona.

Ia mengibarkan bendera Palestina saat menaiki bus terbuka selama perayaan FC Barcelona setelah memenangkan gelar La Liga Spanyol, pada 11 Mei. Setelah parade di Barcelona, yang menarik sekitar 750.000 pendukung, Yamal mengunggah foto dirinya melambaikan bendera di akun Instagram-nya, yang memiliki lebih dari 42 juta pengikut.

Dibela pemerintah Spanyol

Pemerintah Spanyol membela bintang sepak bola La Roja itu setelah menteri pertahanan Israel menuduh Yamal menghasut "kebencian" terhadap Israel karena mengibarkan bendera Palestina selama perayaan timnya setelah memenangkan gelar juara.

"Lamine hanya mengungkapkan solidaritas dengan Palestina yang dirasakan oleh jutaan warga Spanyol. Ini adalah alasan lain untuk bangga padanya," kata Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez, menurut dkutip dari Politico.

Spanyol adalah salah satu negara di Eropa yang paling vokal mengecam agresi Israel di Jalur Gaza. Negara tersebut secara resmi mengakui kedaulatan negara Palestina pada Mei 2024 dan secara permanen menarik duta besarnya untuk Israel pada Maret di tengah perang melawan Iran.

Israel sewot

Dukungan PM Spanyol itu adalah reaksi atas kritik tajam dari Menteri Pertahanan Israel Israel Katz, yang melalui Twitter menyatakan bahwa Yamal telah memilih untuk "menghasut kebencian terhadap Israel dan menumbuhkan permusuhan sementara tentara kita sedang memerangi organisasi teroris Hamas."

Katz meminta FC Barcelona untuk menjauhkan diri dari tindakan Yamal dan "menegaskan dengan jelas bahwa tidak ada tempat untuk hasutan atau dukungan terhadap terorisme."

Begitu pula dengan reaksi kibar bendera di lapangan oleh pelatih Mesir, Hossam Hasan. Publik Israel disebut marah.

Media The Times of Israel mencatat bahwa Hassan sekali lagi menegaskan posisinya, sementara media Israel Hayom melaporkan kemarahan Israel atas terus-menerusnya ungkapan solidaritas pelatih asal Mesir itu kepada Palestina.

Media Arab berbahasa Inggris, Asharq Al-Awsat mewawancarai sejumlah orang. Beberapa berpendapat bahwa politik dan olahraga harus tetap terpisah, sambil menekankan bahwa posisi tersebut bukan berarti mengabaikan tindakan Israel di Gaza.

(imf/bac)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK