Kota Selatan Iran Digempur AS, Ledakan Terjadi di Hormozgan dan Sirik

tim | CNN Indonesia
Rabu, 15 Jul 2026 07:25 WIB
A satellite image shows damage at the control tower in the port of Chabahar, Iran, July 9, 2026, after the U.S. military said on Wednesday (July 8) it launched fresh strikes on Iran to keep the Strait of Hormuz open to shipping. 2026 PLANET LABS PBC/
Serangan terbaru AS targetkan kota-kota di wilayah selatan Iran. Foto: via REUTERS/2026 PLANET LABS PBC
Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat kembali menggempur habis-habisan Iran pada Selasa (14/7), memicu rentetan ledakan di kota Hormozgan dan Sirik.

Media semi pemerintah Iran juga melaporkan proyektil menghantam lokasi di dekat Kota Hajiabad, Hormozgan, Selatan Iran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan serangan militer AS menghantam pos pasukan penjaga perbatasan di Hormozgan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Serangan itu menewaskan tiga anggota keluarga Javad Hasanzadeh, penjaga hutan yang pekerja keras," kata Baghaei, dikutip Al Jazeera.

Dia lantas menyebut operasi itu sebagai "kejahatan perang baru" dari pemerintahan Donald Trump.

"Daftar kejahatan Amerika terhadap rakyat Iran semakin panjang setiap harinya," kata Baghaei.

"Dan setiap harinya, Amerika menampakkan lapisan baru permusuhannya terhadap Iran," imbuh dia.

Sementara itu, Pasukan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengaku memang meluncurkan serangan tambahan ke Iran.

"Untuk terus melemahkan kemampuan Iran yang digunakan untuk menyerang kapal komersial di Selat Hormuz," demikian pernyataan CENTCOM.

Militer AS juga menuduh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah menyerang tujuh kapal komersial selama pekan lalu.

Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, mengatakan serangan itu menyebabkan hampir selusin anggota kru sipil tewas, hilang, atau terluka. Ia juga mengatakan Iran meluncurkan puluhan rudal dan drone ke arah negara-negara Teluk.

Dalam beberapa hari terakhir, Amerika Serikat kembali menggempur habis-habisan Iran meski sempat gencatan senjata dan sepakat menandatangani nota kesepahaman (MoU).

MoU itu berisi penghentian pertempuran dari semua front, tak memulai serangan, menghargai kedaulatan masing-masing, hingga tak ikut campur urusan internal masing-masing.

Namun, AS tercatat beberapa kali melanggar MoU. Mereka bahkan menargetkan infrastruktur sipil, yang merupakan kejahatan perang.

(dan/isa/dna) Add as a preferred
source on Google