Putra Mahkota Saudi dan Trump Bahas Upaya Redakan Konflik Timur Tengah
Mohammed bin Salman dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggelar pembicaraan melalui sambungan telepon untuk membahas langkah meredakan ketegangan di Timur Tengah. Percakapan itu berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran dunia terhadap potensi eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran.
Kantor berita resmi Arab Saudi, SPA, pada Minggu (2/8), melaporkan Putra Mahkota Mohammed bin Salman menekankan pentingnya mengedepankan dialog sebagai jalan utama meredakan ketegangan di kawasan.
"Yang Mulia menegaskan perlunya memprioritaskan dialog untuk mengurangi ketegangan serta mengerahkan seluruh upaya guna mewujudkan gencatan senjata yang dapat membuka jalan bagi solusi diplomatik," demikian pernyataan SPA dikutip dari AFP.
Pembicaraan tersebut berlangsung setelah Trump mengumumkan keputusan menunda rencana serangan baru terhadap Iran. Keputusan itu diambil menyusul permintaan sejumlah negara Teluk yang khawatir konflik akan semakin meluas.
Sebelumnya, Trump menyatakan Amerika Serikat dan Israel sepakat menunda serangan lanjutan terhadap Iran dengan syarat kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama berbulan-bulan dapat segera tercapai.
Beberapa hari sebelumnya, kekhawatiran akan pecahnya konflik yang lebih besar sempat meningkat setelah Trump mengancam akan menghantam Iran 'dengan sangat keras'. Bahkan, sejumlah laporan menyebut Washington mempertimbangkan serangan baru yang menyasar infrastruktur energi Iran.
Namun, sikap Trump berubah setelah melakukan komunikasi dengan Putra Mahkota Saudi. Selain itu, Teheran juga melakukan pembicaraan dengan Riyadh serta negara-negara mediator seperti Pakistan dan Turki.
Meski menunda serangan, Trump menegaskan militer AS tetap dalam kondisi siaga penuh.
"Kami tetap siap sepenuhnya menghadapi Republik Islam Iran. Namun atas permintaan tersebut, saya setuju membatalkan serangan demi masa depan dunia dan kelangsungan Iran yang makmur, dengan syarat kesepakatan dapat segera dicapai," tulis Trump melalui platform Truth Social.
Trump juga menyatakan kesepakatan damai harus mencakup pembukaan penuh dan segera Selat Hormuz serta diakhirinya ancaman nuklir Iran. Ia menambahkan Israel turut mendukung komitmen tersebut.
Kontak diplomatik terus dilakukan
Di sisi lain, kantor berita pemerintah Iran melaporkan Menteri Luar Negeri Iran dan Arab Saudi juga melakukan pembicaraan melalui telepon. Media pemerintah Iran menyebut Teheran turut berkomunikasi dengan Pakistan dan Turki yang selama ini berperan sebagai mediator, guna membahas risiko meningkatnya ketegangan dan ancaman terhadap stabilitas kawasan.
Konflik yang dimulai pada 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Teheran, hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.
Kesepakatan gencatan senjata sebelumnya, yang juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, gagal dipertahankan. Iran kemudian memperketat pengawasan terhadap jalur pelayaran strategis tersebut setelah kedua pihak kembali saling melancarkan serangan dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi itu kembali mendorong kenaikan harga minyak dunia setelah sebelumnya sempat mereda ketika gencatan senjata diberlakukan. Situasi tersebut juga menjadi tantangan politik bagi Trump menjelang pemilu paruh waktu di Amerika Serikat yang akan digelar sekitar tiga bulan lagi.
Ancaman keamanan masih tinggi
Meski upaya diplomasi terus berlangsung, situasi keamanan di Timur Tengah masih belum sepenuhnya stabil. Kedutaan Besar AS di sejumlah ibu kota negara Timur Tengah pada Sabtu telah mengeluarkan peringatan kepada warga negaranya agar mewaspadai kemungkinan eskalasi konflik secara tiba-tiba dan bersiap meninggalkan wilayah tersebut jika diperlukan.
Pada pekan lalu, sebuah drone menghantam kapal pengangkut gas milik perusahaan Amerika yang sedang bersandar di pelabuhan Mesir hingga memicu kebakaran. Pemerintah Mesir masih menyelidiki insiden tersebut dan belum menunjuk pihak yang bertanggung jawab.
Sementara itu, sebuah proyektil yang belum diketahui asalnya juga menghantam kapal tanker di lepas pantai Oman, menurut laporan badan keamanan maritim Inggris. Perusahaan pemantau perdagangan maritim Kpler menyebut lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz turun tajam sejak konflik kembali memanas.
Di jalur strategis lainnya, yakni Selat Bab el-Mandeb, kelompok Houthi yang didukung Iran membantah tuduhan bahwa mereka berencana mengenakan biaya bagi kapal yang melintas. Selat tersebut merupakan jalur penting yang menghubungkan Laut Merah, Samudra Hindia, serta Terusan Suez menuju Laut Mediterania.
(tis/tis)