Calon Pro Palestina Menang Pemilu Awal AS, Menangis Ceritakan Gaza
Politikus Amerika Serikat yang pro terhadap Palestina, Angie Nixon, menang pemilu awal (primary) Selasa (18/8).
Laman The Guardian menyebut Angie sebagai, "politikus progresif yang secara mengejutkan memenangkan pemilu pendahuluan (primary) Partai Demokrat untuk kursi Senat AS di Florida pada Agustus 2026. Ia berhasil mengalahkan pesaingnya yang didukung oleh arus utama partai, Alex Vindman."
Angie adalah anggota Dewan Perwakilan Negara Bagian Florida dari Partai Demokrat.
Setelah kemenangan ini, Partai Demokrat mengincar kemenangan untuk mengalahkan kandidat Republik Ashley Moody dalam pemilihan umum Senat AS. Moody dan Angie akan bersaing untuk menggantikan Marco Rubio ketika ia menjadi menteri luar negeri tahun lalu, November mendatang.
Ketika Israel menyerang Gaza, Angie Nixon pernah memohon kepada rekan-rekannya di ruang sidang Dewan Perwakilan Negara Bagian untuk memanusiakan warga Gaza yang tidak bersalah dengan sebuah resolusi yang menyerukan gencatan senjata dalam perang Israel-Hamas.
Angie berasal dari Duval County, adalah satu-satunya anggota parlemen yang menyebutkan kematian warga Palestina di DPR. Bahkan dialah satu-satunya anggota DPR yang mengajukan resolusi untuk menghentikan serangan ke Gaza pada 2023 silam.
Resolusi yang dia ajukan, HR 31 C , termasuk di antara tiga resolusi di DPR yang membahas perang yang meletus setelah serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober. Dua resolusi lainnya, yang menunjukkan dukungan untuk Israel, berasal dari anggota DPR dari Partai Demokrat, Katherine Waldron, dan anggota DPR dari Partai Republik, Randy Fine.
Ketika membawakan resolusinya, dia meneteskan air mata. Namun para anggota Dewan Perwakilan Florida lainnya justeru memalingkan muka dari Angie Nixon. Resolusi tersebut gagal telak.
Angie menangis saat memperkenalkan resolusi tersebut dan semakin terisak saat menyampaikan pidato penutupnya.
Anggota DPR lainnya menanyakan apakah resolusinya bersimpati kepada teroris dan mempertanyakan mengapa resolusi aslinya tidak menyebutkan orang-orang yang disandera Hamas dan mengapa ia menyebut Palestina sebagai wilayah yang diduduki. Ia mengajukan amandemen terhadap resolusinya pada Selasa pagi untuk menyerukan pembebasan para sandera. Amandemen tersebut tidak disetujui.
"Banyak kolega saya menyatakan bahwa orang-orang takut akan terjadinya pembantaian lain terhadap orang-orang Yahudi. Nah, coba tebak? Pembantaian sedang terjadi sekarang. Seluruh garis keturunan Palestina telah musnah. Mereka telah tiada," kata Nixon sementara anggota Partai Demokrat dan Republik memalingkan muka darinya.
"Kepada masyarakat di tanah air, saya akan berjuang atas nama kalian apa pun yang terjadi. Bahkan jika mereka mengancam untuk mencabut pendanaan.
Bahkan jika mereka mengancam untuk membungkam saya, saya tidak akan tinggal diam. Bahkan jika mereka menghukum saya seperti yang terus mereka lakukan karena saya berbicara untuk komunitas yang terpinggirkan, semua komunitas yang terpinggirkan."
"Dan kalian boleh memalingkan muka dari saya, tetapi saya berada di sisi yang benar dalam sejarah karena saya tidak ingin bayi-bayi itu mati. Resolusi ini diajukan atas nama konstituen saya. Komunitas saya ingin saya memanusiakan para korban yang menderita di luar negeri."
Nixon melanjutkan dalam pidato penutupnya: "Rekan-rekan saya telah mengatakan bahwa mereka tidak akan menyerah dalam perjuangan ini. Kita sudah kehilangan 10.000 warga Palestina yang tewas. Berapa banyak lagi yang akan cukup?"
Segera setelah pertanyaan itu, terdengar suara laki-laki di dalam Gedung Parlemen berteriak: "Semuanya." Namun dari lubang kamera di bawah galeri pers Gedung Parlemen, tidak diketahui siapa orang itu.
"Wah, salah satu kolega saya baru saja mengatakan 'semuanya.' Wah, salah satu kolega saya mengatakan 'semuanya,'" kata Nixon sambil menangis. "Salah satu kolega saya juga menyatakan bahwa ini akan mengeringkan penggalangan dana mereka jika kita memberikan suara pada resolusi ini. Itulah yang telah terjadi pada negara bagian ini."
Pada akhirnya, 104 perwakilan memberikan suara menentang resolusi tersebut. Pemungutan suara itu dilakukan setelah Fine dan perwakilan Partai Republik Jeff Holcomb serta perwakilan Partai Demokrat Michael Gottlieb mengatakan bahwa seruan untuk gencatan senjata adalah anti-Semit.
Perwakilan Partai Demokrat lainnya, Hillary Cassel, juga berbicara menentang Nixon. Secara keseluruhan, 12 orang abstain.
(imf/bac)