Pamer Akur Sama Kim Jong Un, Trump Klaim Korut Punya 57 Senjata Nuklir

CNN Indonesia
Kamis, 20 Agu 2026 11:30 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Korea Utara memiliki 57 senjata nuklir yang sangat kuat. (Foto: SAUL LOEB / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Korea Utara memiliki 57 senjata nuklir yang sangat kuat.

Pernyataan itu disampaikan Trump pada Rabu (19/8), beberapa hari setelah ia memuji hubungannya dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan menyatakan ingin bertemu.

"Fakta bahwa saya akur dengannya, itu hal yang baik, bukan hal yang buruk. Dia memiliki 57 senjata nuklir yang sangat kuat," kata Trump dalam sebuah acara di Gedung Putih.

Trump mengaku tidak setuju dengan kepemilikan senjata nuklir oleh Korea Utara. Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya tidak pernah terjadi.

"Seharusnya hal itu tidak pernah dibiarkan terjadi. Mereka seharusnya tidak pernah mengizinkannya," ujar Trump.

Namun, ia kembali menegaskan bahwa dirinya memiliki hubungan yang baik dengan Kim.

"Saya sangat akur dengannya," tambahnya.

Dalam unggahan di Truth Social pada Minggu (16/8), Trump mengatakan telah memerintahkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk "secara substansial mengurangi" latihan militer bersama kedua negara.

Trump mengaku tidak menyukai keterlibatan AS dalam latihan tersebut.

"Saya tidak senang dengan fakta bahwa Amerika Serikat, sejak lama, telah setuju untuk berpartisipasi," kata Trump.

Dikutip The Hill, Trump juga mengaitkan keputusan itu dengan penolakan Korea Selatan untuk membantu operasi militer AS di Iran serta hubungan baiknya bersama Kim Jong Un.

"Meskipun agak tidak terkait (?), baru-baru ini saya bertanya kepada Presiden Korea Selatan apakah mereka ingin bergabung dengan kami dalam denuklirisasi Republik Islam Iran, dan mereka menjawab, 'Tidak, terima kasih!'" tulis Trump dalam postingan itu.

Menurut Trump, latihan militer AS-Korea Selatan bukan hanya membutuhkan biaya besar, tetapi juga dapat meningkatkan ketegangan dengan Korea Utara.

Latihan tersebut merupakan kegiatan pertahanan berskala besar yang digelar setiap tahun pada musim semi dan musim panas untuk memperkuat aliansi kedua negara dan meningkatkan kesiapan menghadapi ancaman regional.

"Latihan-latihan ini tidak hanya mahal, sebagian besar biayanya ditanggung oleh Amerika Serikat (seperti biasa!), tetapi juga mengirimkan sinyal yang sama sekali tidak pantas dan bermusuhan kepada sebuah negara yang, selama Donald Trump menjabat sebagai presiden, telah bersikap tidak mengancam dan penuh hormat," tulis Trump.

(mge/rds)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK