Adidas Minta Maaf soal Iklan Sepatu Pakai Model Eks Tentara Israel

CNN Indonesia
Selasa, 08 Sep 2026 07:07 WIB
Ilustrasi Toko Sepatu Adidas
Ilustrasi. Adidas minta maaf soal kontroversi iklan sepatu pakai model eks tentara Israel. Foto: sbl0323/Pixabay
Jakarta, CNN Indonesia --

Perusahaan pakaian olahraga asal Jerman Adidas menyampaikan permintaan maaf usai membuat iklan sepatu khusus difabel memakai model mantan tentara Israel (IDF).

Dalam iklan tersebut Adidas menampilkan Shalev Biton, yang kaki kirinya diamputasi setelah terluka ketika bertugas pada tahun 2021 saat bertugas di IDF, untuk mempromosikan Adidas's Single Shoe.

"Kami menyadari bahwa gambar yang digunakan dalam aktivitas baru-baru ini oleh tim lokal telah menimbulkan kekhawatiran dan reaksi keras," demikian pernyataan Adidas, seperti dilaporkan Anadolu Agency.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami tidak pernah bermaksud untuk menimbulkan pelanggaran, dan kami meminta maaf kepada siapapun yang terkena dampaknya," lanjut pernyataan tersebut.

Adidas mengeklaim bahwa iklan tersebut merupakan inisiatif lokal di Israel, dan bukan bagian dari kampanye global.

Adidas mengatakan layanan Single Shoe tersebut dimaksudkan untuk mempromosikan inklusi, dengan memungkinkan orang-orang dengan perbedaan anggota tubuh untuk hanya membeli sepatu yang mereka butuhkan.

Perusahaan tersebut memperkenalkan layanan ini di 23 negara Eropa sejak Januari, yang menawarkan sepatu individu seharga 50 persen dari harga sepasang di toko dan outlet Adidas.

Adidas mengatakan program ini diperluas ke seluruh Eropa, Asia, dan Timur Tengah, termasuk Palestina, Uni Emirat Arab, Lebanon, Arab Saudi, Kuwait, Qatar, dan Mesir.

Shalev Biton adalah satu dari 11 atlet penyandang disabilitas yang ditampilkan dalam poster yang dipajang di toko Adidas di Israel.

Aktivis pro-Palestina mengkritik keputusan Adidas untuk memasukkan seorang mantan tentara Israel dalam kampanye itu, kontras dengan ribuan warga Palestina yang juga kehilangan anggota tubuh imbas agresi brutal Israel.

Terkait hal ini Adidas juga mengatakan bakal "terus mendengarkan, belajar dan bekerja" untuk memastikan tindakan yang mencerminkan nilai-nilai inklusif.

Adidas juga pernah menghadapi kontroversi serupa dalam beberapa kesempatan, dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2012, perusahaan itu menghadapi seruan boikot atas sponsornya terhadap Maraton Yerusalem yang rutenya melewati Yerusalem Timur yang diduduki.

Pada 2018 lalu Adidas juga mendapat tekanan, ketika lebih dari 130 klub sepak bola dan asosiasi olahraga Palestina mendesak perusahaan itu untuk mengakhiri sponsornya terhadap Asosiasi Sepak Bola Israel.

(dna)