Letusan Krakatau 1883 Pertama yang Dikabarkan Media Seluruh Dunia

CNN Indonesia
Selasa, 08 Sep 2026 21:05 WIB
Letusan Gunung Anak Krakatau. (ANTARA FOTO/Atet Dwi Pramadia)
Jakarta, CNN Indonesia --

Letusan Gunung Krakatau pada 1883 ternyata merupakan bencana pertama di dunia yang disebarkan melalui media.

Sehingga bencana ini bisa diketahui belahan dunia lain hanya beberapa jam setelah terjadi. David Bressan, ahli geologi dan mantan kontributor Forbes menulis, "Dan berkat komunikasi modern, Krakatau adalah berita pertama yang (secara harfiah) menyebar ke seluruh dunia".

Telegraf adalah perangkat yang memungkinkan berita ini meluas dan dikutip banyak media di luar wilayah Indonesia.

Bahkan dalam beberapa jam setelah letusan, berita letusan menyebar dengan cepat melalui jaringan telegraf di seluruh dunia.

"Kecepatan laporan Telegraf, menciptakan kategori bencana yang sama sekali baru: peristiwa berita universal, sebuah kisah yang diikuti, dalam kasus Krakatau , oleh lebih dari setengah populasi dunia," Richard Hamblyn menjelaskan, dikutip dari bukunya, Kisah-Kisah Bumi: Empat Peristiwa yang Mengubah Dunia

Telegram-telegram itu sendiri mengejutkan, dan menunjukkan "kefasihan yang ringkas."

Sebuah telegram yang dikirim dari Batavia ke Singapura pada 27 Agustus 1883 (di hari letusan terjadi) tertulis:

"Siang hari. Serang kegelapan total sepanjang pagi, batu-batu berjatuhan. Desa di dekat Anyer hanyut tersapu banjir.

Batavia kini hampir sepenuhnya gelap-lampu gas padam di malam hari-tidak dapat berkomunikasi dengan Anye, khawatir akan terjadi malapetaka di sana, beberapa jembatan hancur, sungai meluap melalui laut lepas ke pedalaman."

Berita tentang letusan dan tsunami yang menyertainya, dan lebih dari 36.000 korban menyebar dengan cepat berkat jaringan telegraf global yang baru saja dipasang. Jurnal pertama yang memberitakan letusan tersebut adalah Java Bode dari Belanda pada hari yang sama.

Media internasional segera menyusul. Misalnya, jurnal Inggris The Illustrated London News menerbitkan kabar bencana dengan beberapa gambar imajinatif tentang wilayah tersebut.

Artikel dan kisah tragis para penyintas yang diterbitkan di surat kabar tersebut membantu membawa bencana itu ke dalam benak kolektif dan menjadikannya letusan paling terkenal di Bumi.

Beda dengan Tambora

Letusan Gunung Tambora pada 1815 memang lebih dahsyat. Namun penyebaran informasinya bisa disebut tak berjalan.

"Pada saat itu, hanya beberapa pedagang dan diplomat Barat setempat yang mencatat letusan tersebut, dan baru setahun kemudian catatan tentang bencana itu diterbitkan dalam buku "Sejarah Jawa" yang kurang dikenal karya gubernur Inggris di Indonesia dan naturalis Sir Thomas Stamford Bingley Raffles," tulis David Bressan.

(imf/bac)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK