Film NAZA Bongkar Sistem Rahasia Pembunuhan Massal di Gaza oleh Israel

CNN Indonesia
Jumat, 11 Sep 2026 07:40 WIB
Palestinians inspect a mosque hit in an Israeli strike on Monday, carried out after the Israeli military warned residents to evacuate the area, in Deir al-Balah in the central Gaza Strip, August 25, 2026. REUTERS/Mahmoud Issa
Kehancuran Gaza akibat kekejaman Israel. (REUTERS/Mahmoud Issa)

NAZA diproduseri bersama James Wilson dan produser eksekutif Jonathan Glazer. Keduanya sebelumnya terlibat dalam film The Zone of Interest yang meraih Oscar.

Menurut Variety, pemutaran perdana NAZA di Venesia mendapat tepuk tangan selama hampir 25 menit. Durasi tersebut disebut sebagai salah satu tepuk tangan terlama dalam sejarah festival film besar.

Sejumlah penonton bahkan terlihat mengibarkan bendera Palestina setelah pemutaran film. Glazer juga dilaporkan memeluk Abraham dan Szor ketika tepuk tangan berlangsung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Film tersebut dikembangkan berdasarkan laporan investigasi yang sebelumnya diterbitkan +972 Magazine, media berbahasa Ibrani Local Call, dan The Guardian sepanjang 2023 hingga 2025.

Proses produksi NAZA dilakukan dengan pengamanan ketat untuk melindungi para narasumber rahasia. Isi film juga dirahasiakan hingga pemutaran perdananya di Venesia.

Kepala investigasi The Guardian sekaligus produser eksekutif film, Paul Lewis, menyebut NAZA sebagai hasil dari pekerjaan bertahun-tahun untuk mengungkap dan memverifikasi sistem yang digunakan intelijen militer Israel di Gaza.

Abraham mengatakan film tersebut juga memungkinkan timnya melihat hubungan antara berbagai kesaksian yang sebelumnya terpisah.

"Dalam film ini kami berbicara dengan 24 orang. Kami melihat sistem pembunuhan massal. Ada sesuatu tentang sinema yang memungkinkan Anda untuk mengeksplorasi struktur dan sistem serta bagaimana Anda menyatukan berbagai hal," katanya.

Terobosan penting

Direktur artistik Festival Film Venesia Alberto Barbera sebelumnya menyebut NAZA sebagai film yang "benar-benar terobosan". Ia menilai film tersebut sebagai "karya yang secara politis mengganggu dan secara sinematik sangat menarik".

"Ini bukan sekadar kumpulan wawancara biasa," kata Barbera, seperti dilaporkan Cinecittà News.

"Butuh waktu tiga tahun bagi mereka untuk meyakinkan para pejabat intelijen dan militer Israel ini untuk berbagi pekerjaan yang mereka lakukan ketika invasi Gaza dimulai, dan saya jamin, kesaksian mereka sangat mengejutkan," tambahnya.

Perang Israel di Gaza pecah setelah serangan yang dipimpin Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023. Serangan tersebut menewaskan lebih dari 1.200 orang dan menyebabkan 251 orang dibawa ke Gaza sebagai sandera.

Sejak 2023, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 73 ribu warga Palestina dan melukai lebih dari 174 ribu lainnya. Sebagian besar korban disebut merupakan warga sipil.

Pembatasan bantuan makanan dan kehancuran infrastruktur juga memperburuk kondisi kemanusiaan di Gaza.

Lebih dari tiga perempat rumah di wilayah tersebut dilaporkan hancur atau mengalami kerusakan.

Hal tersebut membuat banyak warga Palestina yang selamat tinggal di kamp-kamp pengungsian dengan akses terbatas terhadap air bersih dan sanitasi.

Abraham dan Szor sebelumnya dikenal sebagai dua dari empat sutradara No Other Land, film dokumenter yang memenangkan Oscar pada 2025, dikutip dari the Guardian.

Keduanya mengatakan NAZA memiliki pendekatan serupa dengan No Other Land, yakni menghubungkan berbagai kesaksian untuk menunjukkan gambaran yang lebih besar mengenai sebuah sistem.

Dalam No Other Land, mereka bersama sutradara Palestina Basel Adra dan Hamdan Ballal mendokumentasikan penghancuran rumah-rumah Palestina di Tepi Barat selama lima tahun.

Sementara melalui NAZA, mereka mengumpulkan kesaksian dari 24 perwira intelijen dan tentara Israel untuk menggambarkan sistem militer yang digunakan dalam pembunuhan massal di Gaza.

(mge/bac)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2