5 Poin Pidato Prabowo di KTT BRICS India, Apa Saja?
CNN Indonesia
Senin, 14 Sep 2026 10:45 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Salah satu poin yang diangkat Presiden Prabowo Subianto di KTT BRICS adalah soal bangsa yang tangguh dilihat dari kemampuan pemerintahnya memberi makan rakyat. (Foto: AFP/ALEXANDER KAZAKOV)
Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subiantomenghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di India pada 12-13 September lalu.
Dalam pertemuan tersebut, Prabowo menyampaikan sejumlah pesan, terutama terhadap negara-negara bagian selatan dunia alias Global South.
Indonesia hadir di KTT BRICS sebagai anggota penuh forum tersebut.
Selama di New Delhi, Prabowo didampingi oleh Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Dorong persatuan Global South
Dalam sesi terbatas bertajuk "Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism", Prabowo mendorong negara-negara Global South agar semakin bersatu untuk menjadi lebih kuat.
Prabowo menyampaikan persatuan Global South sudah terbentuk sejak beberapa dekade lalu di Bandung, dalam konferensi Asia-Afrika.
Ia menuturkan setelah perjalanan panjang melawan imperialisme dan kolonialisme, negara-negara selatan akhirnya bersatu sebagai negara yang setara. Menurutnya, "pelajaran ini tetap sangat penting" dan perlu ditingkatkan dengan kerja sama guna membangun ketahahan berkelanjutan.
"Kami memahami bahwa dengan bersatu, suara kami akan lebih didengar. Kepentingan kami dapat lebih terlindungi dan dimajukan," ujar Prabowo pada Sabtu (12/9).
Dalam kesempatan yang sama, Prabowo juga menyinggung sumber kekuatan negara yang berasal dari rakyat.
Ia menyampaikan bangsa yang tangguh dan mandiri terbentuk dari kemampuan pemerintah memberi makan rakyatnya.
"Kekuatan selalu berawal dari dalam negeri, dari rakyat kita, dari kemampuan kita untuk memberi makan rakyat kita, untuk mengamankan energi yang mereka butuhkan, untuk mendidik anak-anak kita, dan untuk memberi mereka kesempatan untuk sejahtera. Itulah cara kita membangun bangsa yang tangguh dan menjadi benar-benar mandiri," ucap Prabowo.
Prabowo juga mengatakan bahwa kemandirian bangsa turut diperoleh dari ketegasan dan ketangguhan.
"Kami tidak suka didikte oleh satu atau dua kekuatan tertentu. Kita harus tangguh dan kemudian kita akan benar-benar mandiri. Kami telah memperkuat fondasi kami untuk menjaga perdamaian dan membangun kepercayaan," katanya.
Dengan fondasi kuat tersebut, ia meyakini bahwa BRICS merupakan sarana yang tepat untuk bekerja sama, terutama di bidang-bidang yang secara langsung dapat memengaruhi ketahanan bangsa.
Baca di halaman berikutnya >>>
Serukan kerja sama sektor energi
Masih dalam kesempatan yang sama, Prabowo menyerukan agar BRICS memperkuat kerja sama di bidang energi selaku salah satu sektor paling signifikan dalam memengaruhi ketahanan global.
Prabowo berujar dengan menghubungkan sistem energi dan memperkuat keamanan energi, perekonomian akan meningkat dan ketahanan berkelanjutan akan tercipta.
"Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, BRICS mewakili separuh dari seluruh umat manusia, dan sebagian besar perekonomian global serta perdagangan global. BRICS menyatukan pasar terbesar di dunia dan produsen energi utama. Hal ini memberi kita kekuatan kolektif yang sangat besar," ucap Prabowo.
Bagi Prabowo, BRICS memiliki kapasitas untuk mengamankan pasokan pangan dan energi, serta membangun sistem multilateral yang mendukung kebutuhan dan kepentingan semua negara, baik besar maupun kecil, kuat maupun lemah.
"Bayangkan jika pasar, modal, sumber daya, teknologi, dan pengetahuan kita terhubung dengan lebih baik, menciptakan peluang yang lebih besar bagi negara-negara berkembang. Bayangkan jika negara-negara di belahan bumi selatan dapat berbicara dengan lebih percaya diri dan lebih terkoordinasi dalam membentuk lembaga-lembaga yang mengatur dunia kita, dalam melindungi dan meningkatkan perdamaian, dalam memperjuangkan keadilan," katanya.
Meski begitu, Prabowo percaya bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) harus tetap menjadi pusat sistem multilateral yang lebih kuat tersebut. Seiring dengan itu, ia meyakini bahwa PBB mesti direformasi agar lebih representatif, responsif, dan lebih mampu memberikan hasil nyata bagi rakyat.
"Pada saat yang sama, lembaga keuangan internasional kita juga harus berevolusi. Perdagangan dan mata uang tidak boleh dijadikan senjata. Lembaga-lembaga tersebut harus lebih responsif terhadap kebutuhan negara-negara berkembang, termasuk dengan menyediakan akses yang lebih baik terhadap sumber daya," ujar Prabowo seperti dikutip laman resmi Presiden RI.
Tegaskan RI bukan lagi importir
Sementara itu, dalam sesi terbuka bertajuk "Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability: Shaping the Future for Inclusive Global Growth", Prabowo bicara mengenai peningkatan Indonesia dari yang semula importir menjadi eksportir.
Ia berujar posisi Indonesia tersebut dapat menjadikan ekonomi hijau sebagai peluang sekaligus memperkuat daya saing dalam rantai nilai global.
"Selama bertahun-tahun, Indonesia merupakan importir terbesar biji-bijian, beras, dan jagung. Kini, kita telah menjadi eksportir dan mampu meningkatkan dukungan bagi seluruh dunia," tutur Prabowo.
Prabowo menyampaikan BRICS sudah menjadi rantai pasokan dunia. Oleh karena itu, ia mengajak para anggota mengoptimalkannya dengan melakukan industrialisasi bersama.
"Mari kita melakukan industrialisasi bersama, dan mari kita optimalkan sumber daya dan kapasitas yang kita miliki bersama," kata Prabowo.
Gaungkan peran Global South dalam tatanan dunia
Pada forum tersebut, Prabowo turut menggaungkan peran yang lebih signifikan bagi Global South dalam membentuk tatanan dunia.
Prabowo berujar dalam empat tahun, negara-negara akan mencapai tahun 2030, yang memiliki target agenda untuk pembangunan berkelanjutan.
"Kita telah menyepakati Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Kita telah membuat komitmen yang jelas untuk mengangkat rakyat kita keluar dari kemiskinan
Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subiantomenghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di India pada 12-13 September lalu.
Dalam pertemuan tersebut, Prabowo menyampaikan sejumlah pesan, terutama terhadap negara-negara bagian selatan dunia alias Global South.
Indonesia hadir di KTT BRICS sebagai anggota penuh forum tersebut.
Selama di New Delhi, Prabowo didampingi oleh Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Dorong persatuan Global South
Dalam sesi terbatas bertajuk "Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism", Prabowo mendorong negara-negara Global South agar semakin bersatu untuk menjadi lebih kuat.
Prabowo menyampaikan persatuan Global South sudah terbentuk sejak beberapa dekade lalu di Bandung, dalam konferensi Asia-Afrika.
Ia menuturkan setelah perjalanan panjang melawan imperialisme dan kolonialisme, negara-negara selatan akhirnya bersatu sebagai negara yang setara. Menurutnya, "pelajaran ini tetap sangat penting" dan perlu ditingkatkan dengan kerja sama guna membangun ketahahan berkelanjutan.
"Kami memahami bahwa dengan bersatu, suara kami akan lebih didengar. Kepentingan kami dapat lebih terlindungi dan dimajukan," ujar Prabowo pada Sabtu (12/9).
Dalam kesempatan yang sama, Prabowo juga menyinggung sumber kekuatan negara yang berasal dari rakyat.
Ia menyampaikan bangsa yang tangguh dan mandiri terbentuk dari kemampuan pemerintah memberi makan rakyatnya.
"Kekuatan selalu berawal dari dalam negeri, dari rakyat kita, dari kemampuan kita untuk memberi makan rakyat kita, untuk mengamankan energi yang mereka butuhkan, untuk mendidik anak-anak kita, dan untuk memberi mereka kesempatan untuk sejahtera. Itulah cara kita membangun bangsa yang tangguh dan menjadi benar-benar mandiri," ucap Prabowo.
Prabowo juga mengatakan bahwa kemandirian bangsa turut diperoleh dari ketegasan dan ketangguhan.
"Kami tidak suka didikte oleh satu atau dua kekuatan tertentu. Kita harus tangguh dan kemudian kita akan benar-benar mandiri. Kami telah memperkuat fondasi kami untuk menjaga perdamaian dan membangun kepercayaan," katanya.
Dengan fondasi kuat tersebut, ia meyakini bahwa BRICS merupakan sarana yang tepat untuk bekerja sama, terutama di bidang-bidang yang secara langsung dapat memengaruhi ketahanan bangsa.
Baca di halaman berikutnya >>>
Poin-poin Penting Pidato Prabowo di KTT BRICS India
Momen Sesi Foto BRICS, Prabowo di Barisan depan Bareng Xi Jinping-Putin (Foto: Sekretariat Presiden)
Serukan kerja sama sektor energi
Masih dalam kesempatan yang sama, Prabowo menyerukan agar BRICS memperkuat kerja sama di bidang energi selaku salah satu sektor paling signifikan dalam memengaruhi ketahanan global.
Prabowo berujar dengan menghubungkan sistem energi dan memperkuat keamanan energi, perekonomian akan meningkat dan ketahanan berkelanjutan akan tercipta.
"Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, BRICS mewakili separuh dari seluruh umat manusia, dan sebagian besar perekonomian global serta perdagangan global. BRICS menyatukan pasar terbesar di dunia dan produsen energi utama. Hal ini memberi kita kekuatan kolektif yang sangat besar," ucap Prabowo.
Bagi Prabowo, BRICS memiliki kapasitas untuk mengamankan pasokan pangan dan energi, serta membangun sistem multilateral yang mendukung kebutuhan dan kepentingan semua negara, baik besar maupun kecil, kuat maupun lemah.
"Bayangkan jika pasar, modal, sumber daya, teknologi, dan pengetahuan kita terhubung dengan lebih baik, menciptakan peluang yang lebih besar bagi negara-negara berkembang. Bayangkan jika negara-negara di belahan bumi selatan dapat berbicara dengan lebih percaya diri dan lebih terkoordinasi dalam membentuk lembaga-lembaga yang mengatur dunia kita, dalam melindungi dan meningkatkan perdamaian, dalam memperjuangkan keadilan," katanya.
Meski begitu, Prabowo percaya bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) harus tetap menjadi pusat sistem multilateral yang lebih kuat tersebut. Seiring dengan itu, ia meyakini bahwa PBB mesti direformasi agar lebih representatif, responsif, dan lebih mampu memberikan hasil nyata bagi rakyat.
"Pada saat yang sama, lembaga keuangan internasional kita juga harus berevolusi. Perdagangan dan mata uang tidak boleh dijadikan senjata. Lembaga-lembaga tersebut harus lebih responsif terhadap kebutuhan negara-negara berkembang, termasuk dengan menyediakan akses yang lebih baik terhadap sumber daya," ujar Prabowo seperti dikutip laman resmi Presiden RI.
Tegaskan RI bukan lagi importir
Sementara itu, dalam sesi terbuka bertajuk "Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability: Shaping the Future for Inclusive Global Growth", Prabowo bicara mengenai peningkatan Indonesia dari yang semula importir menjadi eksportir.
Ia berujar posisi Indonesia tersebut dapat menjadikan ekonomi hijau sebagai peluang sekaligus memperkuat daya saing dalam rantai nilai global.
"Selama bertahun-tahun, Indonesia merupakan importir terbesar biji-bijian, beras, dan jagung. Kini, kita telah menjadi eksportir dan mampu meningkatkan dukungan bagi seluruh dunia," tutur Prabowo.
Prabowo menyampaikan BRICS sudah menjadi rantai pasokan dunia. Oleh karena itu, ia mengajak para anggota mengoptimalkannya dengan melakukan industrialisasi bersama.
"Mari kita melakukan industrialisasi bersama, dan mari kita optimalkan sumber daya dan kapasitas yang kita miliki bersama," kata Prabowo.
Gaungkan peran Global South dalam tatanan dunia
Pada forum tersebut, Prabowo turut menggaungkan peran yang lebih signifikan bagi Global South dalam membentuk tatanan dunia.
Prabowo berujar dalam empat tahun, negara-negara akan mencapai tahun 2030, yang memiliki target agenda untuk pembangunan berkelanjutan.
"Kita telah menyepakati Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Kita telah membuat komitmen yang jelas untuk mengangkat rakyat kita keluar dari kemiskinan