Iran Olok-olok AS via Ramalan Suku Bunga yang Jadi Kenyataan

CNN Indonesia
Jumat, 18 Sep 2026 08:10 WIB
Ketua parlemen Iran sekaligus negosiator perundingan dengan Amerika Serikat, Mohammad Bagher Ghalibaf. (Foto: ICANA NEWS AGENCY / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua parlemen Iran sekaligus negosiator perundingan dengan Amerika Serikat, Mohammad Bagher Ghalibaf, ternyata sudah meramal angka kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) AS.

Ghalibaf memprediksi kalau AS kemungkinan mengalami kenaikan suku bunga imbas perangnya dengan Iran sejak tujuh bulan terakhir.

Dalam sebuah unggahan di X pada Rabu (16/9), Ghalibaf menuliskan persamaan Taylor, sebuah rumus yang digunakan bank sentral untuk menentukan suku bunga. Rumus itu ditulis bersama pesan sarat olokan.

"Mari kita lihat apakah kenaikan suku bunga bisa membuka SOH atau menghasilkan satu barel (minyak)," tulisnya.

Ghalibaf menyinggung minyak lantaran kondisi pasokan dan harga minyak dunia terus tertekan imbas blokade Selat Hormuz, titik pusat perang AS vs Iran selama beberapa bulan terakhir. Hampir seluruh negara di dunia, termasuk AS, ikut merasakan pasokan minyak yang berkurang hingga membuat harga minyak dunia terus meningkat.

"Anda tidak menetapkan batas 25 bps [basis points] pada sebuah titik hambatan ... Itu adalah premi risiko SOH, dan Kami yang menetapkannya," tambahnya.

Beberapa jam setelah Ghalibaf mengunggah kicauan tersebut, Federal Reserve AS benar-benar menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis points, seperti prediksi Ghalibaf.

Sejak awal perang, Ghalibaf sering menggunakan argumen keuangan untuk mengejek pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Hal itu dilakukan untuk menunjukkan kemampuan Iran dalam merugikan AS secara ekonomi kecuali jika Washington mengubah pendekatannya.

"Ini adalah aksi propaganda spektakuler dari Iran, sebuah negara yang setidaknya pada tahun 2026 telah menunjukkan kemampuan mengesankan untuk memprovokasi lawannya, AS," kata analis pasar di IG Group, Chris Beauchamp, kepada Al Jazeera.

Namun, apa sebenarnya yang ingin disampaikan Ghalibaf? Apa itu persamaan Taylor, apakah perang Iran memengaruhi suku bunga AS, dan apakah Teheran yang menentukannya seperti yang dikatakan Ghalibaf?

Persamaan Taylor

Dilansir dari Al Jazeera, persamaan Taylor adalah rumus yang digunakan para ekonom untuk memperkirakan di mana bank sentral harus menetapkan suku bunga berdasarkan inflasi dan kekuatan ekonomi.

Rumus ini dikembangkan oleh John Taylor pada awal 1990-an yang menghubungkan suku bunga dana federal AS dengan inflasi dan kesenjangan output, perbedaan antara output ekonomi aktual dan potensinya.

Dalam bentuk paling sederhana, rumusnya adalah:

Tingkat bunga = inflasi + 0,5(kesenjangan output) + 0,5(inflasi − 2%) + 2%.

Artinya, suku bunga yang direkomendasikan naik ketika inflasi bergerak di atas target 2 persen atau ketika output ekonomi melebihi potensinya. Suku bunga tersebut turun ketika inflasi melemah atau ekonomi beroperasi di bawah potensinya.

Namun, persamaan tersebut hanyalah patokan, bukan aturan baku yang harus diikuti secara ketat. Para pembuat kebijakan di Federal Reserve mempertimbangkan faktor ekonomi lainnya ketika menetapkan suku bunga.

Apakah perang Iran benar berdampak pada kenaikan suku bunga AS?

Para ahli mengatakan tarif yang diberlakukan Trump, guncangan energi imbas perang Iran, dan investasi besar-besaran terkait kecerdasan buatan (AI) jika digabungkan telah membuat tekanan inflasi tetap tinggi.

"Perang Iran, secara tidak langsung, merupakan pendorong utama kenaikan harga saham tadi malam, meskipun tidak ada yang mau mengakuinya," kata Beauchamp.

"Lonjakan harga energi, ditambah dengan kenaikan imbal hasil obligasi, telah mendorong The Fed ke posisi terpojok tanpa jalan keluar," lanjutnya.

Susannah Streeter, kepala strategi investasi di Wealth Club, juga mengamini bahwa balasan Iran terhadap AS dan sekutunya di seluruh Teluk telah "meningkatkan kekhawatiran tentang pasokan energi dan menyebabkan perkiraan inflasi yang lebih tinggi".

"Gejolak geopolitik yang sedang berlangsung dan harga minyak mentah yang tinggi tentu menjadi isu utama di balik keputusan The Fed untuk menaikkan suku bunga," katanya.

Kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Rabu merupakan yang pertama dalam tiga tahun.

Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan pertempuran antara AS dan Iran, yang telah mendorong kenaikan harga bensin, membantu meyakinkan para pejabat The Fed untuk mendukung suku bunga yang lebih tinggi.

"Tidak ada tempat untuk bersembunyi dari titik-titik rawan di seluruh dunia," kata Warsh.

Namun, Streeter dari Wealth Club mengatakan meskipun perang di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak jelas menjadi salah satu elemen dalam keputusan The Fed, itu bukanlah "satu-satunya faktor yang berperan".

"Pengeluaran besar-besaran dari perusahaan-perusahaan AI berskala besar juga telah merembes ke seluruh perekonomian, dengan investasi modal yang kuat dan permintaan domestik yang tangguh menambah tekanan inflasi, sehingga para pembuat kebijakan akan melihat gambaran keseluruhan," catatnya.

"Jadi, meskipun Teheran bisa dibilang memiliki pengaruh pada beberapa kekuatan yang memengaruhi kebijakan moneter AS, khususnya melalui dampak konflik terhadap pasokan dan harga minyak, Teheran bukanlah pihak yang 'menentukan' suku bunga AS."

(blq/rds)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK