Presiden Iran di PBB: Kami yang Diserang, tapi Kami yang Dicap Teroris
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengkritik tajam Amerika Serikat (AS) saat pidato di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pezeshkian mengatakan AS menyerang Iran dan melakukan aksi terorisme terhadap rakyat Iran, tapi malah menuduh dan mengecap Iran sebagai teroris.
"Presiden Amerika Serikat menyebut kami sebagai teroris. Kami justru telah menjadi korban terorisme," kata Pezeshkian.
Pezeshkian menuturkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dibunuh AS-Israel pada 28 Februari lalu "tanpa dasar hukum atau alasan yang sah." Ratusan anak sekolah di Minab juga tewas akibat bom dan senjata AS-Israel, padahal mereka tidak melakukan kejahatan apa pun.
"Lamerd, salah satu kota kecil di sebuah provinsi di Iran, memiliki gedung olahraga tempat anak-anak sedang asyik bermain. Amerika Serikat, dengan menggunakan senjata berhulu ledak ganda, menargetkan gedung tersebut," kata Pezeshkian.
"Mereka membunuh, menjadikan syuhada para ilmuwan, laki-laki, perempuan, dan anak-anak kami. Anak-anak tak berdosa yang sesungguhnya tidak melakukan kejahatan maupun dosa apa pun," ucapnya.
"Mereka yang merupakan teroris, serta melatih dan melindungi teroris, justru melabeli kami sebagai teroris."
Pezeshkian menyatakan aksi Iran dalam konflik dengan AS-Israel saat ini murni bentuk bela diri. Sebab rakyat Iran telah menjadi korban serangan dan agresi tak beralasan.
Pezeshkian kemudian menyinggung kejahatan Israel di Palestina yang mencerminkan arti teror sesungguhnya.
"Di Gaza, lebih dari 70 ribu warga sipil tak berdosa dibunuh secara brutal. Ratusan ribu orang terpaksa mengungsi. Mereka melakukan genosida dengan memanfaatkan teknologi yang mereka miliki. Lalu mereka melabeli pihak lain sebagai teroris," ucapnya.
Pezeshkian menyebutkan pendudukan dan kekerasan Israel di Palestina masih terus berlanjut meskipun berbagai resolusi telah diadopsi. Palestina, terutama Gaza, menurutnya menjadi simbol kegagalan mekanisme internasional untuk mencegah penderitaan warga sipil.
"Kita tidak bisa bicara tentang perdamaian tanpa mengabaikan Palestina. Perdamaian abadi di Asia Barat tidak mungkin terjadi tanpa keadilan bagi Palestina. Selama pendudukan, agresi, dan ketidakadilan masih terjadi di dunia, perlawanan akan terus berlanjut," tukasnya.
Pada kesempatan itu, Pezeshkian juga mempertanyakan tuduhan AS-Israel selama ini bahwa Iran merupakan sumber ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah.
"Apakah kami sumber ketidakstabilan? Kami hanya ingin hidup secara mandiri. Kami dituduh sebagai pihak yang menyebabkan ketidakstabilan. Apakah mereka yang melakukan terorisme dan tindak kejahatan itu merupakan pelindung perdamaian dan stabilitas?" ujarnya.
"Tidak ada satu pun hukum internasional yang mereka patuhi."
Ia kemudian menegaskan bahwa Iran tidak pernah menjadi agresor dan tidak pernah memulai perang. Teheran selalu menunjukkan komitmen di meja perundingan.
Karenanya, agresi terhadap Iran, tidak akan "dibiarkan tanpa balasan."
(blq/dna/bac)