Mengenal Kyushoku, Cara Sukses Jepang Bikin MBG di Sekolah

CNN Indonesia
Selasa, 29 Sep 2026 11:05 WIB
Ilustrasi Anak Perempuan
Ilustrasi. Foto: calvinwang6808020/Pixabay

Menu disusun ahli gizi

Menu kyushoku dirancang oleh guru diet dan nutrisi atau ahli gizi sekolah. Mereka memastikan makanan memenuhi kebutuhan gizi siswa sesuai usia dan tahap perkembangan.

Menu juga disusun berdasarkan standar nutrisi yang ditetapkan pemerintah Jepang.

Secara umum, satu menu terdiri dari makanan pokok, hidangan utama, lauk, susu, serta buah atau makanan penutup. Makanan pokok dapat berupa nasi, roti, atau mi seperti udon dan ramen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hidangan utama dapat berupa ikan bakar, ayam karaage, tahu, atau patty hamburger. Sementara lauknya dapat berupa sayuran tumis, salad, atau acar.

Susu biasanya disajikan setiap hari. Buah musiman, yogurt, atau jeli juga dapat menjadi makanan penutup.

Menu dapat berubah mengikuti musim dan budaya daerah. Pada momen tertentu, sekolah menyajikan makanan yang berkaitan dengan tradisi Jepang seperti Hinamatsuri, Tanabata, atau Setsubun.

Menu biasanya dipublikasikan setiap bulan sehingga keluarga mengetahui makanan yang akan dikonsumsi anak mereka, lapor Japan Child Support.

Sekolah juga memperkenalkan makanan khas daerah. Beberapa sekolah bahkan menyajikan makanan internasional untuk mengenalkan siswa pada budaya kuliner negara lain.

Bahan pangan lokal juga digunakan di sejumlah sekolah. Langkah ini membantu siswa mengenal hasil pertanian dari daerah tempat mereka tinggal.

Salah satu kajian tentang kyushoku mencatat sekitar 56 persen pembelian makanan oleh sekolah Jepang pada 2021 berasal dari sumber lokal.

Hal tersebut membawa Filosofi "dari ladang ke meja". Penggunaan bahan lokal tersebut mencerminkan keterkaitan sistem makan siang sekolah dengan hasil pertanian dan bahan pangan musiman.

Makan siang jadi bagian dari pelajaran

Kyushoku membuat makanan terhubung dengan pelajaran di kelas. Misalnya, ketika siswa mempelajari sayuran musiman dalam pelajaran sains, bahan tersebut dapat muncul dalam menu makan siang.

Dengan cara itu, siswa dapat melihat hubungan antara materi pelajaran dan kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran juga dapat mencakup asal-usul bahan makanan. Siswa dapat mengetahui bagaimana makanan diproduksi dan siapa yang terlibat dalam proses tersebut.

Informasi mengenai kandungan nutrisi dalam menu juga dibahas bersama guru. Sekolah kemudian menggunakan makanan daerah dan hidangan internasional untuk memperluas wawasan siswa tentang budaya kuliner.

Pada saat yang sama, siswa diajarkan untuk mengurangi limbah makanan dan menjaga lingkungan.

Standar gizi dan kebersihan ketat

Kyushoku tidak hanya memiliki aturan mengenai menu. Jepang juga menerapkan standar dalam pengelolaan makanan sekolah.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi Jepang atau MEXT mengatur berbagai aspek keamanan makanan sekolah. Mulai dari pemilihan bahan, pengolahan, hingga penyajian kepada siswa harus memperhatikan kebersihan dan keamanan pangan.

Menu juga dibuat berdasarkan standar kebutuhan gizi anak sesuai usia. Tujuannya untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi siswa selama masa pertumbuhan.

Jepang juga mengembangkan sistem guru diet dan nutrisi dalam pengelolaan makan tersebut.

Ada biaya, tetapi sebagian disubsidi

Kyushoku pada dasarnya bukan program yang sepenuhnya gratis.

Profesor pendidikan nutrisi Universitas Ochanomizu, Akamatsu Rie, mengatakan biaya makan siang di sejumlah pemerintah daerah berada di kisaran 300 hingga 350 yen per porsi.

Orang tua pada dasarnya membayar biaya makan siang bulanan yang mencakup biaya bahan makanan.

Menurut Japan Child Support, rata-rata biaya bulanan berada di kisaran 4.000-4.500 yen untuk siswa sekolah dasar dan 4.500-5.000 yen untuk siswa sekolah menengah pertama.

Pembayaran biasanya dilakukan melalui transfer otomatis bank atau rekening yang ditunjuk sekolah pada awal atau pertengahan setiap bulan.

Namun, pemerintah daerah dapat memberikan subsidi. Beberapa pemerintah daerah bahkan menanggung seluruh biaya makan siang bagi keluarga tertentu.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kota besar, termasuk Tokyo, juga bergerak menuju penyediaan kyushoku gratis untuk mengurangi beban keluarga. Kebijakan tersebut membuat pemerintah daerah harus menyiapkan anggaran tambahan.

Tantangan

Meski telah berjalan selama puluhan tahun, kyushoku tidak sepenuhnya bebas dari masalah. Salah satu tantangannya adalah memenuhi kebutuhan siswa yang memiliki alergi makanan atau kondisi kesehatan tertentu.

Dalam sejumlah kasus, sekolah dapat menyediakan makanan yang menghilangkan bahan pemicu alergi. Namun, kemampuan setiap sekolah berbeda sehingga kebutuhan anak perlu dibicarakan dengan pihak sekolah.

Kebutuhan berdasarkan agama atau pilihan tertentu juga menjadi tantangan di sebagian sekolah negeri Jepang. Pilihan seperti halal, kosher, vegetarian, dan vegan belum selalu dapat dipenuhi oleh sekolah.

Dalam kondisi tertentu, siswa dapat diperbolehkan membawa bekal dari rumah.

Meski menghadapi berbagai tantangan, kyushoku menunjukkan bahwa makan siang sekolah di Jepang tidak hanya dirancang untuk membuat siswa kenyang.

Sistem tersebut menggabungkan pemenuhan gizi dengan pendidikan. Siswa makan bersama, belajar memilih makanan, mengenal asal pangan, memahami budaya kuliner, menjaga kebersihan, hingga bertanggung jawab terhadap limbah makanan.

(mge/dna)

HALAMAN:
1 2