Program 'MBG' Ala Trump di Sekolah-sekolah AS Tersandung Masalah

CNN Indonesia
Senin, 05 Okt 2026 14:53 WIB
Ilustrasi anak sekolah
Ilustrasi. (istockphoto/track5)

Memasak dari awal juga membutuhkan keterampilan tambahan. Staf harus mampu menangani daging mentah, mengikuti resep dan standar nutrisi, serta menggunakan peralatan seperti pisau dan alat pengukus dengan aman.

Masalah lain adalah biaya.

Meriden menghabiskan sekitar US$5,07 untuk setiap makan siang tahun lalu. Biaya itu mencakup US$2,44 untuk tenaga kerja, US$2,04 untuk makanan, dan sekitar US$0,20 untuk peralatan. Sisanya digunakan untuk kebersihan, perlengkapan kantor, utilitas, dan pelatihan staf.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, penggantian biaya dari pemerintah federal hanya sekitar US$4,80 per makanan.

Maffe memperkirakan kondisi itu akan menciptakan defisit sekitar US$250 ribu. Untuk menutup kekurangan tersebut, sekolah menjual makanan ringan dan minuman sehat, menyediakan katering untuk kegiatan distrik, serta menggunakan sejumlah dana dari pemerintah negara bagian.

Distrik Meriden sendiri tidak memberikan dukungan untuk operasional layanan makanan sekolah.

Maffe pun khawatir dengan standar nutrisi baru Kementerian Pertanian AS yang akan segera diterapkan.

Jika aturan tersebut mengharuskan sekolah menyediakan lebih banyak makanan segar, Maffe mengaku belum mengetahui bagaimana sekolahnya dapat memenuhi ketentuan itu.

"Saya tidak tahu bagaimana saya akan melakukannya. Sungguh," katanya.

Kementerian Pertanian AS mengatakan tingkat penggantian biaya makanan ditetapkan oleh Kongres. Lembaga itu juga menyebut pemerintah telah memberikan hibah untuk mendukung pembelian peralatan sekolah selama hampir 20 tahun.

"Membangun Kesehatan Amerika Kembali dimulai dari ruang kelas, dan (Kementerian Pertanian AS) USDA sangat antusias untuk turut berperan," kata juru bicara Kementerian Pertanian AS.

Ada sekolah yang mulai berhasil

Meski menghadapi berbagai kendala, sejumlah distrik sekolah mulai berhasil meningkatkan makanan yang dibuat dari bahan segar.

Littleton Public Schools di Colorado, misalnya, membuka dapur produksi pusat senilai AS$4 juta pada musim gugur tahun lalu.

Dana pembangunan berasal dari anggaran distrik, sisa dana Covid-19 dalam layanan nutrisi, dan sumbangan yayasan lokal.

Tiga koki bekerja di dapur tersebut untuk menyiapkan berbagai makanan. Mereka membuat muffin zucchini dan adonan pancake untuk sarapan.

Untuk makan siang, mereka menyiapkan bahan cabai, taco dengan daging sapi lokal, pai ayam, saus marinara, dan campuran rempah-rempah.

Makanan tersebut kemudian dikirim untuk dimasak atau diselesaikan di 21 sekolah dalam distrik tersebut.

Sebelum dapur pusat dibangun, hanya sekitar seperempat menu makan siang yang dibuat menggunakan bahan segar. Setelah fasilitas itu beroperasi, porsinya meningkat lebih dari dua kali lipat.

Namun, perubahan menu juga menghadirkan tantangan baru.

Direktur layanan gizi Littleton, Jessica Gould, mengatakan sejumlah siswa sudah terbiasa dengan makanan olahan.

"Beberapa anak terbiasa dengan makaroni dan keju Kraft," kata Gould.

"Kami mencoba membuat lompatan besar di sini. Membuat selera mereka mengikuti perubahan ini akan menjadi tantangan kami selanjutnya," ujarnya.

(bac/mge/bac)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2