Jakarta, CNN Indonesia -- Malaysia tengah membangun pulau buatan bernama Silicon Island di selatan Penang untuk memperluas industri semikonduktor dan memenuhi kebutuhan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang terus meningkat.
Proyek reklamasi seluas 2.300 hektare itu diperkirakan selesai dalam sekitar satu dekade.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengembang menargetkan Silicon Island dapat menarik investasi sekitar RM75 miliar dan menyumbang RM1,1 triliun terhadap perekonomian Malaysia hingga 2050.
Silicon Island juga diproyeksikan menciptakan sekitar 220.000 lapangan kerja pada 2050. Kawasan tersebut nantinya tidak hanya berisi fasilitas industri, tetapi juga perkantoran, hotel, dan apartemen.
Pembangunan pulau ini menjadi solusi atas keterbatasan lahan di Penang. Selama lebih dari lima dekade, Penang berkembang menjadi salah satu pusat industri elektronik dan semikonduktor terbesar di Asia Tenggara.
Sejumlah perusahaan teknologi besar, seperti Intel Corp, Advanced Micro Devices (AMD), dan ASE Technology, telah memperluas operasi mereka di kawasan Bayan Lepas, dekat Bandara Internasional Penang.
[Gambas:Video CNN]
Namun, perkembangan industri membuat lahan di Penang semakin terbatas.
"Ruang untuk pertumbuhan lebih lanjut di Penang semakin terbatas," kata Ketua Menteri Penang Chow Kon Yeow kepada Bloomberg.
Menurut Chow, Silicon Island dapat membantu Penang mempertahankan kekuatan industrinya sekaligus mempersiapkan diri menghadapi perkembangan teknologi global berikutnya.
Kawasan tersebut juga menjadi bagian dari upaya Malaysia untuk meningkatkan posisi dalam rantai pasok semikonduktor global.
Selama ini, Malaysia dikenal kuat dalam proses perakitan dan pengujian chip.
Melalui Silicon Island, Malaysia ingin menarik kegiatan dengan nilai lebih tinggi, seperti desain semikonduktor, pengemasan canggih, dan pengujian otomatis.
Ledakan kebutuhan AI menjadi salah satu faktor yang mendorong pembangunan tersebut. Perusahaan teknologi global kini berlomba meningkatkan kapasitas pusat data dan infrastruktur AI, sehingga kebutuhan terhadap chip dan komponen pendukung ikut meningkat.
Presiden Asosiasi Industri Semikonduktor Malaysia Wong Siew Hai memperkirakan ekspor produk listrik dan elektronik Malaysia tahun ini mencapai lebih dari RM900 miliar. Hampir tiga perempat dari ekspor tersebut berasal dari semikonduktor.
Malaysia saat ini menjadi eksportir semikonduktor terbesar keenam di dunia.
Wong mengatakan tingginya permintaan dari perusahaan teknologi membuat sejumlah produsen sudah mendekati kapasitas maksimal. Kondisi itu mendorong perusahaan mencari lokasi baru untuk memperluas produksi.
"Komitmen yang saat ini diminta perusahaan-perusahaan ini adalah berapa banyak dan seberapa cepat Anda dapat memproduksi?" ujar Wakil Direktur Proyek Silicon Island Development Tan Jun Jing.
"Itulah mengapa banyak dari mereka benar-benar menjajaki ekspansi untuk memenuhi permintaan pelanggan," lanjutnya.
Menurut Tan, sejumlah perusahaan dari Taiwan dan Jepang telah menunjukkan minat terhadap Silicon Island. Salah satu calon investor Jepang bahkan telah mengunjungi lokasi proyek tiga kali dalam dua bulan.
Selain meningkatnya permintaan chip, ketegangan Amerika Serikat dan China juga menjadi peluang bagi Malaysia. Sejumlah perusahaan berusaha mengurangi ketergantungan terhadap China dengan menyebarkan fasilitas produksi ke negara lain.
Penang dinilai memiliki keunggulan karena sudah memiliki jaringan pabrik, tenaga kerja terampil, insinyur, serta pemasok yang mendukung industri semikonduktor.
Namun, Silicon Island tidak akan langsung beroperasi dalam waktu dekat. Proses reklamasi diperkirakan membutuhkan tiga hingga empat tahun. Pembangunan keseluruhan kawasan dapat berlangsung hingga 15 tahun.
Operasi industri pertama ditargetkan mulai berjalan pada awal 2029. Penjualan lahan industri juga direncanakan dimulai pada awal 2027.
Di pusat Silicon Island akan dibangun Green Technology Park seluas sekitar 700 hektare. Kawasan ini akan difokuskan pada industri desain semikonduktor, pengemasan canggih, dan pengujian otomatis.
Fase pertama Green Technology Park ditargetkan menggunakan energi terbarukan sepenuhnya. Kawasan itu nantinya akan terhubung dengan pulau utama Penang melalui jembatan sepanjang 380 meter.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Lokasi Silicon Island
Ilustrasi. (iStock/Nalidsa Sukprasert)
Lokasi Silicon Island juga dekat dengan Bandara Internasional Penang. Kondisi tersebut membuat kawasan ini dinilai cocok untuk perusahaan yang membutuhkan pengiriman komponen melalui udara.
Sementara itu, perusahaan yang lebih banyak menggunakan jalur laut diperkirakan akan memilih lokasi di daratan utama karena lebih dekat dengan pelabuhan.
Proyek ini membutuhkan biaya besar. Gamuda Bhd, yang menguasai 70 persen Silicon Island Development, membiayai reklamasi dan pembangunan infrastruktur senilai RM14 miliar melalui pinjaman sindikasi.
Silicon Island ditargetkan mencapai titik impas dalam delapan tahun.
Pemerintah Penang memiliki 30 persen saham dalam perusahaan pengembang tersebut dan berhak atas bagian keuntungan.
Selain menjadi kawasan industri, Silicon Island dirancang sebagai kawasan perkotaan. Proyek ini mencakup sekitar 20.000 rumah di lahan seluas 360 hektare, termasuk kondominium dan hunian terjangkau.
Hampir seperlima wilayah pulau juga akan digunakan sebagai ruang hijau, termasuk taman, pantai, dan lahan basah mangrove.
Silicon Island juga akan menjadi titik awal pembangunan sistem kereta ringan pertama di Penang. Jalur Mutiara sepanjang 29,5 kilometer akan menghubungkan kawasan tersebut dengan Bayan Lepas, Bandara Internasional Penang, dan George Town.
[Gambas:Infografis CNN]
Jalur tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2031. Konsorsium yang dipimpin Gamuda telah memenangkan kontrak senilai RM7,93 miliar untuk pekerjaan sipil tahap pertama.
Proyek Silicon Island menghadapi persaingan dari negara dan wilayah lain yang juga ingin mengambil keuntungan dari pertumbuhan industri chip dan AI.
Singapura gencar ke manufaktur canggih, sementara Vietnam berupaya mendapatkan bagian proyek yang lebih besar. India juga banyak berinvestasi untuk membangun industri semikonduktor.
Di Malaysia sendiri, beberapa negara bagian seperti Kedah dan Selangor berupaya menarik minat produsen chip.
Silicon Island juga dibandingkan dengan Forest City, proyek kota reklamasi besar di Johor yang dikembangkan oleh perusahaan properti China, Country Garden.
Namun, pengembang Silicon Island menilai proyek mereka memiliki dasar yang berbeda. Forest City mengandalkan sektor properti dan pembeli asing, sedangkan Silicon Island menjadikan industri sebagai penggerak utama pembangunan.
"Banyak orang membandingkan kami dengan Forest City, tetapi saat ini jika Anda melihatnya, ini murni kawasan perumahan dan komersial. Katalis utama kami akan berupa sektor industri," kata Tan.