Kronologi Napi AS Christa Pike Tetap Hidup usai Disuntik Mati 2 Kali

CNN Indonesia
Jumat, 09 Okt 2026 14:40 WIB
A picture taken on December 4, 2007 shows death row inmate Christa Pike entering a Knox County Criminal Court in Knoxville, Tennessee, US., obtained by Reuters on September 30, 2026.  J. Miles Cary/ Knoxville News Sentinel/USA TODAY NETWORK via REUTE
Terpidana mati di AS Christa Pike selamat dari maut usai gagal dieksekusi dengan dua suntikan. Foto: via REUTERS/J. Miles Cary
Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang narapidana di Amerika Serikat (AS), Christa Pike, menghebohkan publik karena selamat dari maut setelah dieksekusi mati dua kali dengan suntikan.

Christa Pike, satu-satunya perempuan yang divonis mati di negara bagian Tennessee, masih tetap bernafas setelah diberi suntikan mematikan dua kali pada 30 September malam.

Pike dinyatakan bersalah atas kasus pembunuhan teman sekelasnya pada tahun 1995 silam. Ia yang saat itu berumur 18 tahun menyiksa dan membunuh rekan sekelasnya, Colleen Slemmer (19), di Knoxville, Tennessee, bersama-sama dengan pacarnya, Tadaryl Shipp.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka menyayat Slemmer dengan cutter, mengukir pentagram di dadanya, dan mengambil sebagian tengkoraknya.

Pada 1996, Pike dijatuhi hukuman mati dan menjadi satu-satunya perempuan yang akan dieksekusi di Tennessee selama bertahun-tahun. Pacarnya, Shipp, sementara itu dihukum penjara seumur hidup karena terlalu muda untuk memenuhi syarat hukuman mati di Tennessee.

Pada 30 September malam hari, petugas akhirnya menyuntikkan pentobarbital ke tubuh Pike, setelah eksekusi sempat tertunda karena pengadilan banding federal.

Namun, dosis itu secara mengejutkan gagal menghentikan denyut jantung Pike. Petugas kemudian menyuntikkan dosis kedua sesuai protokol, namun lagi-lagi Pike bertahan hidup.

Menurut pengacaranya, Pike ketika itu terdengar "menangis, merintih, dan bernapas keras". Wartawan yang hadir di ruang sidang juga mendengarnya bernapas dan mendengkur keras.

Setelah dipastikan bahwa Pike tidak meninggal, ia dilarikan ke rumah sakit untuk diberikan perawatan.

Kuasa hukum Pike sebelum ini sempat meminta kliennya dihukum penjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat karena kondisi medis yang diidap Pike. Pike mengidap trombositosis, kondisi ketika jumlah trombosit (keping darah) terlalu tinggi di dalam darah. Hal ini bisa mengakibatkan darah mudah menggumpal dan menyumbat pembuluh darah.

Tim pengacara Pike telah memperingatkan bahwa jika gumpalan darah terbentuk di tempat suntikan, hal itu bisa menghalangi zat kimia masuk ke dalam pembuluh darahnya.

Pasca eksekusi gagal, lengan Pike membengkak dan kulitnya melepuh bak luka bakar. Setelah dirawat di rumah sakit, kondisi fisik Pike saat ini belum diketahui secara keseluruhan.

Ada laporan bahwa Pike sudah sadar dan terbangun dengan keadaan marah dan bingung. Pada 6 Oktober, Pike juga disebut sudah bisa berjalan dengan bantuan di sekitar kamarnya.

Namun, masih belum jelas apakah Pike memiliki masalah kesehatan jangka panjang setelah ini.

Saat ini, penyelidikan sedang dilakukan untuk mengetahui penyebab Pike lolos dari maut. Sementara itu, Komisaris Departemen Pemasyarakatan Tennessee, Frank Strada, mengundurkan diri menyusul peristiwa ini.

(blq/dna)