Kualitas Udara Masih Buruk, Singapura Siapkan Prosedur Darurat

CNN Indonesia
Sabtu, 10 Okt 2026 09:40 WIB
Kualitas udara di Singapura masih dalam kategori tidak sehat pada Sabtu (10/10) pagi setelah catatan terburuk pada 9 Oktober. (AFP/Anthony Wallace)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kualitas udara di Singapura dilaporkan masih berada dalam kategori tidak sehat pada Sabtu (10/10) pagi, menyusul rekor tertinggi pekatnya kabut asap yang menyelimuti wilayah tersebut tahun ini pada Jumat (9/10).

Berdasarkan data Badan Lingkungan Hidup Nasional (NEA) Singapura pada pukul 07.00 waktu setempat, indeks standar pencemar udara (PSI) 24 jam mencatatkan angka 176 di wilayah tengah, 162 di barat, 157 di timur, 141 di selatan, dan 125 di utara.

Meski sedikit menurun dibandingkan puncak tertinggi musim asap tahun ini pada Jumat (9/10) sore yang sempat menyentuh angka 192 di wilayah tengah, seluruh area Singapura tercatat masih melampaui batas ambang aman 100.

CNA pada Sabtu (10/10) memberitakan kabut asap tersebut terdeteksi berhembus dari titik panas kebakaran hutan dan lahan di Sumatra bagian selatan serta Kalimantan, yang terbawa angin hingga menutupi wilayah Singapura.

Menyikapi situasi ini, Tim Tugas Haze Singapura yang melibatkan 28 lembaga pemerintah telah disiagakan untuk meluncurkan serangkaian prosedur darurat jika PSI melampaui angka 200.

Jika angka sudah melebihi 200, mereka akan mulai membagikan masker N95, pembukaan posko perlindungan ber-AC, hingga penghentian aktivitas luar ruangan untuk anak-anak dan pekerja.

[Gambas:Video CNN]

Buruknya kualitas udara ini berlangsung tepat saat rangkaian balapan F1 Singapore Grand Prix digelar di Sirkuit Marina Bay, yang dijadwalkan menggelar balapan sprint perdana pada Sabtu (10/10).

Situasi kesehatan lingkungan yang kian memprihatinkan ini bahkan mendapatkan sorotan mendalam dari pebalap Formula 1 Carlos Sainz Jr. di tengah gelaran Singapore Grand Prix pekan ini.

Pebalap tim Williams, Carlos Sainz, mengaku memantau secara cermat perkembangan kualitas udara di lokasi balapan dan menyuarakan kekhawatirannya terkait potensi gangguan kesehatan.

"Saya membaca beberapa informasi soal itu. Rasanya ini bukan tempat paling sehat untuk bernapas saat ini, mengingat tingginya tingkat polusi akibat kebakaran di Indonesia," ujar Sainz seperti diberitakan Racing News 365 pada Jumat (9/10).

Sainz menyinggung dilema para pebalap yang tetap diharuskan melakoni aktivitas olahraga berat di luar ruangan meski otoritas setempat mengimbau warga untuk membatasi kegiatan fisik di udara terbuka.

Namun, ia menegaskan para pebalap akan tetap patuh pada panduan dari pihak berwenang dan penyelenggara.

"Pada kasus seperti ini, kami selalu berpatokan pada apa yang dikatakan otoritas. Lagi pula, ini olahraga yang unik. Saat membalap, kami sudah terbiasa menghirup sisa pembakaran bahan bakar dari mobil di depan sejak berusia 11 atau 12 tahun," ucapnya.

"Jadi memang diperdebatkan apakah ini olahraga yang sehat atau tidak, tetapi kami menyukainya," tutur pebalap asal Spanyol yang menang GP Singapura 2023 tersebut.

"Soal kabut asap ini tentu hal yang berbeda, tetapi kami harus tetap mengikuti keputusan resmi dari pihak berwenang," lanjutnya.

Pihak F1 dan penyelenggara lokal memastikan terus memantau perkembangan situasi dan telah menyiapkan langkah antisipasi darurat.

Hingga saat ini, kondisi di lintasan dinilai masih memungkinkan dan belum ada indikasi penundaan atau pembatalan sesi balapan.

(chri)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK