Ini Pemimpin yang Bangkitkan Rwanda dari Kehancuran, Dicap Otoriter
CNN Indonesia
Rabu, 14 Okt 2026 17:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Sosok di balik kebangkitan Rwanda adalah mantan militer yang kemudian jadi presiden, Paul Kagame, berhasil meredakan perang suku. (REUTERS/Jean Bizimana)
Jakarta, CNN Indonesia --
Ingatan tentang perang suku antara Hutu dan Tutsi di Rwanda yang menelan 1 juta korban nyawa, masih membekas di benak banyak orang.
Peristiwa tahun 1994 itu ditetapkan sebagai genosida oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Puluhan ribu orang jadi tersangka dengan pengadilan yang memakan waktu bertahun-tahun. Nama Rwanda kemudian identik dengan kekerasan.
Namun saat ini, negara tersebut hadir dengan prestasi ekonomi yang membanggakan. Rwanda sudah memantapkan diri jadi tuan rumah balapan Formula 1. Ajang F1 Gran Prix Rwanda akan masuk kalender di awal 2030-an dan sudah memiliki kesepakatan selama 10 tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan demikian, maka ajang balapan akan digelar di Afrika kembali sejak terakhir kali diadakan pada 1993 lewat GP Afrika Selatan di Sirkuit Kyalami, Gauteng.
Kabar tersebut disampaikan F1 lewat akun resmi milik mereka. Meski belum ada waktu pasti soal GP Rwanda, namun F1 sudah menyebutkan kerja sama selama 10 tahun.
"Formula 1 kembali ke Afrika dengan kesepakatan 10 tahun balapan di Rwanda. African Grand Prix direncanakan bakal bergabung ke kalender F1 pada awal 2030-an," tulis F1 dalam pernyataan resmi mereka.
"Dengan kehadiran Rwanda dalam kalender balapan pada dekade mendatang, olahraga ini akan digelar di tiap benua, membawa kejuaraan dunia makin dekat pada suporter di seluruh dunia."
"Afrika selalu jadi bagian dari masa depan Formula One, sejak awal kami selalu ingin kembali dengan cara yang tepat, dengan partner yang tepat, tentunya berlandaskan komitmen jangka panjang dan visi yang jeas untuk menghadirkan dampak yang bermutu," tutur Presiden F1 Stefano Domenicali.
Kebangkitan Rwanda
Pilihan pada Rwanda salah satunya karena negara ini memperlihatkan pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat dan membanggakan.
Laman Xinhua menuliskan, ekonomi Rwanda terus tumbuh kuat pada semester pertama (H1) tahun 2026, dengan produk domestik bruto (PDB) riil tumbuh sebesar 9,7 persen secara tahunan, didukung oleh sektor jasa, industri, dan pertanian.
Sektor jasa terus menjadi penopang ekspansi ekonomi, tumbuh sebesar 7,4 persen pada semester pertama tahun 2026, terutama didukung oleh kinerja yang kuat di sektor perdagangan dan jasa transportasi, demikian menurut pernyataan tersebut.
Sektor industri mencatatkan pertumbuhan yang kuat sebesar 15,5 persen, sementara sektor pertanian berkembang sebesar 5,9 persen pada periode tersebut.
"Terlepas dari guncangan yang dialami ekonomi kita tahun ini, pertumbuhan PDB sebesar 9,7 persen dalam enam bulan pertama sangat tinggi. Pertumbuhan ini berbasis luas, didorong oleh kinerja yang kuat di sektor industri, jasa, dan pertanian, dengan konstruksi dan manufaktur memainkan peran kunci," kata Soraya Hakuziyaremye, gubernur Bank Nasional Rwanda, saat merilis pernyataan tersebut di Kigali, ibu kota Rwanda.
Sosok Paul Kagame, pemimpin yang membawa Rwanda bangkit dari kehancuran...
Sosok di balik kebangkitan negara ini adalah mantan militer yang kemudian jadi presiden, Paul Kagame. Dia berhasil meredakan perang suku, dan sejak 2000 jadi Presiden.
Pada 2019 saat peringatan 25 tahun perang suku, dia mengatakan, "Dua puluh lima tahun kemudian, kita telah membangun masyarakat yang stabil, ekonomi yang stabil," kata Kagame.
"Kita sedang berkembang. Semuanya masih dalam proses, tetapi Anda dapat mengukur dan memahami di mana kita berada di masa lalu dan di mana kita berada sekarang," katanya.
Langkah-langkah yang diambil sangat mengesankan. Negara ini tetap miskin, tetapi pemerintah Kagame berupaya memposisikannya sebagai sesuatu yang luar biasa di Afrika: tempat untuk berbisnis.
Rwanda menempati peringkat ke-29 dalam survei Bank Dunia yang menilai lingkungan bisnis dari 190 negara.
Dan Rwanda telah membuat kemajuan yang mencolok dalam hal kesetaraan gender: 61 persen anggota parlemennya adalah perempuan, lebih tinggi daripada negara lain mana pun.
Forum Ekonomi Dunia mengatakan hanya lima negara yang secara signifikan mempersempit kesenjangan tersebut, demikian laporan The Times.
Namun dalam hal lain, pemerintahan Kagame memenuhi klise pemerintahan di Afrika, di mana organisasi pengawas Freedom House mengatakan hanya 20 prsen negara yang memenuhi syarat sebagai negara "bebas".
Rwanda pada dasarnya adalah negara satu partai, didominasi oleh Front Patriotik Rwanda dan dengan Kagame sebagai orang yang sangat diperlukan. Berdasarkan konstitusi, yang direvisi empat tahun lalu, ia dapat menjabat hingga tahun 2034.
Departemen Luar Negeri AS mengutip laporan tentang "pembunuhan sewenang-wenang oleh pasukan keamanan negara; penghilangan paksa oleh pasukan keamanan negara; penyiksaan oleh pasukan keamanan negara termasuk pencekikan, sengatan listrik, eksekusi palsu; penahanan sewenang-wenang oleh pasukan keamanan negara; tahanan politik" dan banyak lagi.
Lawan politik juga ditemukan tewas di negara lain.
Associated Press merangkum semuanya dengan singkat pada bulan April 2019: "25 tahun setelah genosida, Kagame dari Rwanda dipuji dan ditakuti."
Kagame mempelajari kedua deskripsi tersebut.
Britannica memberi gambaran, Kagame terus berupaya membangun kembali negara dan dipuji karena telah mencapai kemajuan yang signifikan, seperti mendorong perekonomian yang kuat secara konsisten dan meningkatkan kondisi sosial di Rwanda.
Namun, pujian atas kemajuan yang terjadi di bawah pemerintahannya terus diimbangi oleh kritik atas intoleransinya terhadap perbedaan pendapat politik dan kebebasan media , serta dugaan keterlibatan Rwanda yang berkelanjutan dalam konflik di negara-negara tetangga. Meskipun demikian, ia tetap populer di banyak kalangan di dalam dan luar negeri.
Jakarta, CNN Indonesia --
Ingatan tentang perang suku antara Hutu dan Tutsi di Rwanda yang menelan 1 juta korban nyawa, masih membekas di benak banyak orang.
Peristiwa tahun 1994 itu ditetapkan sebagai genosida oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Puluhan ribu orang jadi tersangka dengan pengadilan yang memakan waktu bertahun-tahun. Nama Rwanda kemudian identik dengan kekerasan.
Namun saat ini, negara tersebut hadir dengan prestasi ekonomi yang membanggakan. Rwanda sudah memantapkan diri jadi tuan rumah balapan Formula 1. Ajang F1 Gran Prix Rwanda akan masuk kalender di awal 2030-an dan sudah memiliki kesepakatan selama 10 tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan demikian, maka ajang balapan akan digelar di Afrika kembali sejak terakhir kali diadakan pada 1993 lewat GP Afrika Selatan di Sirkuit Kyalami, Gauteng.
Kabar tersebut disampaikan F1 lewat akun resmi milik mereka. Meski belum ada waktu pasti soal GP Rwanda, namun F1 sudah menyebutkan kerja sama selama 10 tahun.
"Formula 1 kembali ke Afrika dengan kesepakatan 10 tahun balapan di Rwanda. African Grand Prix direncanakan bakal bergabung ke kalender F1 pada awal 2030-an," tulis F1 dalam pernyataan resmi mereka.
"Dengan kehadiran Rwanda dalam kalender balapan pada dekade mendatang, olahraga ini akan digelar di tiap benua, membawa kejuaraan dunia makin dekat pada suporter di seluruh dunia."
"Afrika selalu jadi bagian dari masa depan Formula One, sejak awal kami selalu ingin kembali dengan cara yang tepat, dengan partner yang tepat, tentunya berlandaskan komitmen jangka panjang dan visi yang jeas untuk menghadirkan dampak yang bermutu," tutur Presiden F1 Stefano Domenicali.
Kebangkitan Rwanda
Pilihan pada Rwanda salah satunya karena negara ini memperlihatkan pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat dan membanggakan.
Laman Xinhua menuliskan, ekonomi Rwanda terus tumbuh kuat pada semester pertama (H1) tahun 2026, dengan produk domestik bruto (PDB) riil tumbuh sebesar 9,7 persen secara tahunan, didukung oleh sektor jasa, industri, dan pertanian.
Sektor jasa terus menjadi penopang ekspansi ekonomi, tumbuh sebesar 7,4 persen pada semester pertama tahun 2026, terutama didukung oleh kinerja yang kuat di sektor perdagangan dan jasa transportasi, demikian menurut pernyataan tersebut.
Sektor industri mencatatkan pertumbuhan yang kuat sebesar 15,5 persen, sementara sektor pertanian berkembang sebesar 5,9 persen pada periode tersebut.
"Terlepas dari guncangan yang dialami ekonomi kita tahun ini, pertumbuhan PDB sebesar 9,7 persen dalam enam bulan pertama sangat tinggi. Pertumbuhan ini berbasis luas, didorong oleh kinerja yang kuat di sektor industri, jasa, dan pertanian, dengan konstruksi dan manufaktur memainkan peran kunci," kata Soraya Hakuziyaremye, gubernur Bank Nasional Rwanda, saat merilis pernyataan tersebut di Kigali, ibu kota Rwanda.
Sosok Paul Kagame, pemimpin yang membawa Rwanda bangkit dari kehancuran...
Siapa Paul Kagame?
Ibu kota Rwanda, Kigali. (iStockphoto/ stellalevi)
Sosok di balik kebangkitan negara ini adalah mantan militer yang kemudian jadi presiden, Paul Kagame. Dia berhasil meredakan perang suku, dan sejak 2000 jadi Presiden.
Pada 2019 saat peringatan 25 tahun perang suku, dia mengatakan, "Dua puluh lima tahun kemudian, kita telah membangun masyarakat yang stabil, ekonomi yang stabil," kata Kagame.
"Kita sedang berkembang. Semuanya masih dalam proses, tetapi Anda dapat mengukur dan memahami di mana kita berada di masa lalu dan di mana kita berada sekarang," katanya.
Langkah-langkah yang diambil sangat mengesankan. Negara ini tetap miskin, tetapi pemerintah Kagame berupaya memposisikannya sebagai sesuatu yang luar biasa di Afrika: tempat untuk berbisnis.
Rwanda menempati peringkat ke-29 dalam survei Bank Dunia yang menilai lingkungan bisnis dari 190 negara.
Dan Rwanda telah membuat kemajuan yang mencolok dalam hal kesetaraan gender: 61 persen anggota parlemennya adalah perempuan, lebih tinggi daripada negara lain mana pun.
Forum Ekonomi Dunia mengatakan hanya lima negara yang secara signifikan mempersempit kesenjangan tersebut, demikian laporan The Times.
Namun dalam hal lain, pemerintahan Kagame memenuhi klise pemerintahan di Afrika, di mana organisasi pengawas Freedom House mengatakan hanya 20 prsen negara yang memenuhi syarat sebagai negara "bebas".
Rwanda pada dasarnya adalah negara satu partai, didominasi oleh Front Patriotik Rwanda dan dengan Kagame sebagai orang yang sangat diperlukan. Berdasarkan konstitusi, yang direvisi empat tahun lalu, ia dapat menjabat hingga tahun 2034.
Departemen Luar Negeri AS mengutip laporan tentang "pembunuhan sewenang-wenang oleh pasukan keamanan negara; penghilangan paksa oleh pasukan keamanan negara; penyiksaan oleh pasukan keamanan negara termasuk pencekikan, sengatan listrik, eksekusi palsu; penahanan sewenang-wenang oleh pasukan keamanan negara; tahanan politik" dan banyak lagi.
Lawan politik juga ditemukan tewas di negara lain.
Associated Press merangkum semuanya dengan singkat pada bulan April 2019: "25 tahun setelah genosida, Kagame dari Rwanda dipuji dan ditakuti."
Kagame mempelajari kedua deskripsi tersebut.
Britannica memberi gambaran, Kagame terus berupaya membangun kembali negara dan dipuji karena telah mencapai kemajuan yang signifikan, seperti mendorong perekonomian yang kuat secara konsisten dan meningkatkan kondisi sosial di Rwanda.
Namun, pujian atas kemajuan yang terjadi di bawah pemerintahannya terus diimbangi oleh kritik atas intoleransinya terhadap perbedaan pendapat politik dan kebebasan media , serta dugaan keterlibatan Rwanda yang berkelanjutan dalam konflik di negara-negara tetangga. Meskipun demikian, ia tetap populer di banyak kalangan di dalam dan luar negeri.