Ini Pemimpin yang Bangkitkan Rwanda dari Kehancuran, Dicap Otoriter

CNN Indonesia
Rabu, 14 Okt 2026 17:30 WIB
Kigali , Rwanda
Ibu kota Rwanda, Kigali. (iStockphoto/ stellalevi)

Sosok di balik kebangkitan negara ini adalah mantan militer yang kemudian jadi presiden, Paul Kagame. Dia berhasil meredakan perang suku, dan sejak 2000 jadi Presiden.

Pada 2019 saat peringatan 25 tahun perang suku, dia mengatakan, "Dua puluh lima tahun kemudian, kita telah membangun masyarakat yang stabil, ekonomi yang stabil," kata Kagame.

"Kita sedang berkembang. Semuanya masih dalam proses, tetapi Anda dapat mengukur dan memahami di mana kita berada di masa lalu dan di mana kita berada sekarang," katanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Langkah-langkah yang diambil sangat mengesankan. Negara ini tetap miskin, tetapi pemerintah Kagame berupaya memposisikannya sebagai sesuatu yang luar biasa di Afrika: tempat untuk berbisnis.

Rwanda menempati peringkat ke-29 dalam survei Bank Dunia yang menilai lingkungan bisnis dari 190 negara.

Dan Rwanda telah membuat kemajuan yang mencolok dalam hal kesetaraan gender: 61 persen anggota parlemennya adalah perempuan, lebih tinggi daripada negara lain mana pun.

Forum Ekonomi Dunia mengatakan hanya lima negara yang secara signifikan mempersempit kesenjangan tersebut, demikian laporan The Times.

Namun dalam hal lain, pemerintahan Kagame memenuhi klise pemerintahan di Afrika, di mana organisasi pengawas Freedom House mengatakan hanya 20 prsen negara yang memenuhi syarat sebagai negara "bebas".

Rwanda pada dasarnya adalah negara satu partai, didominasi oleh Front Patriotik Rwanda dan dengan Kagame sebagai orang yang sangat diperlukan. Berdasarkan konstitusi, yang direvisi empat tahun lalu, ia dapat menjabat hingga tahun 2034.

Departemen Luar Negeri AS mengutip laporan tentang "pembunuhan sewenang-wenang oleh pasukan keamanan negara; penghilangan paksa oleh pasukan keamanan negara; penyiksaan oleh pasukan keamanan negara termasuk pencekikan, sengatan listrik, eksekusi palsu; penahanan sewenang-wenang oleh pasukan keamanan negara; tahanan politik" dan banyak lagi.

Lawan politik juga ditemukan tewas di negara lain.

Associated Press merangkum semuanya dengan singkat pada bulan April 2019: "25 tahun setelah genosida, Kagame dari Rwanda dipuji dan ditakuti."

Kagame mempelajari kedua deskripsi tersebut.

Britannica memberi gambaran, Kagame terus berupaya membangun kembali negara dan dipuji karena telah mencapai kemajuan yang signifikan, seperti mendorong perekonomian yang kuat secara konsisten dan meningkatkan kondisi sosial di Rwanda.

Namun, pujian atas kemajuan yang terjadi di bawah pemerintahannya terus diimbangi oleh kritik atas intoleransinya terhadap perbedaan pendapat politik dan kebebasan media , serta dugaan keterlibatan Rwanda yang berkelanjutan dalam konflik di negara-negara tetangga. Meskipun demikian, ia tetap populer di banyak kalangan di dalam dan luar negeri.

(imf/bac)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2