Menteri Agama Malaysia Ajak Warga Salat Hajat Berdoa Kabut Asap Hilang
Menteri Urusan Agama Malaysia, Zulkifli Hasan, mengimbau umat Islam untuk melaksanakan salat hajat di tengah kondisi kabut asap imbas kebakaran hutan dan lahan Indonesia yang melanda negara tersebut.
Dalam unggahan di Facebook Rabu (14/10), Zulkifli menyerukan agar salat hajat dilaksanakan secara serentak di seluruh masjid dan surau di Malaysia.
"Kabut asap semakin memburuk, dan senjata kita adalah doa. Saya mengimbau agar salat hajat dilaksanakan secara serentak di seluruh masjid dan surau di Wilayah Persekutuan," kata Zulkifli dalam unggahan di Facebook seperti dikutip Malay Mail.
"Semoga Allah SWT melimpahkan berkah-Nya dan menurunkan hujan yang membawa manfaat," tulisnya lagi dalam unggahan tersebut.
Kualitas udara di sejumlah daerah Malaysia termasuk ibu kota Kuala Lumpur masih dan bahkan memburuk menyusul kabut asap dari karhutla Indonesia yang belum juga hilang.
Ratusan sekolah di Malaysia juga ikut terdampak kabut asap karhutla hingga terpaksa menutup kegiatan belajar dan mengajar di kelas untuk sementara waktu.
Malaysia sebelumnya telah menyatakan akan membawa masalah kabut asap ini ke pertemuan menteri luar negeri ASEAN di Filipina pada November mendatang.
Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan mengatakan masalah ini perlu perhatian khusus karena tidak tercakup dalam mekanisme ASEAN yang sudah ada untuk bencana alam.
"Kita sudah memiliki mekanisme ASEAN untuk bencana alam, tetapi kabut asap tidak termasuk atau diklasifikasikan di dalamnya," ucap Mohamad pada Senin (12/10), seperti dikutip Bernama.
Mohamad menambahkan ia sudah bicara dengan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Arrmanatha Nasir mengenai masalah ini, dan Arrmanatha memberitahunya bahwa jarak pandang yang amat buruk di daerah terdampak telah menghambat operasi pemadaman dari udara.
"Indonesia memiliki antara tiga hingga empat pesawat terbang dan 34 helikopter, tetapi mereka tidak bisa lepas landas karena jarak pandang sangat buruk sehingga tidak aman untuk penerbangan apa pun di daerah terdampak," katanya.
"Namun, mereka telah mengerahkan 60 ribu orang untuk bekerja di lapangan," lanjut Mohamad.
Mohamad juga mencermati bahwa Indonesia menghadapi tantangan untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) karena peristiwa itu terjadi jauh di pedalaman, di tengah kondisi pasokan air terbatas dan api membakar lahan gambut.
(rds)