Putin Mau Bahas Perang dengan Trump dan Xi Jinping, Ogah Ajak Zelensky

CNN Indonesia
Selasa, 20 Okt 2026 06:56 WIB
U.S. President Donald Trump and Russian President Vladimir Putin hold a press conference following their meeting to negotiate an end to the war in Ukraine, at Joint Base Elmendorf-Richardson in Anchorage, Alaska, U.S., August 15, 2025. REUTERS/Jeenah
Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan mengusulkan pertemuan puncak dengan Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping untuk membahas perang Ukraina. (Foto: REUTERS/Jeenah Moon)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan mengusulkan pertemuan puncak dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping untuk membahas perang Ukraina.

Namun dalam usulan itu, Putin tak mengajak atau melibatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Eks pejabat intelijen Rusia mengatakan ke Wall Street Journal yang dikutip CNBC pada Senin (19/10) bahwa pertemuan itu disinggung dalam percakapan telepon Putin ke Trump pada 9 Oktober.

Pertemuan tiga kepala negara itu, lanjut dia, mungkin akan berlangsung di sela Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Shenzhen, China pada November mendatang.

Percakapan itu juga menghasilkan kesepakatan penjualan solar Rusia di pasar global.

Sejauh ini belum ada tanggapan dari Trump maupun Putin soal panggilan telepon dan rencana pertemuan tiga kepala negara.

Namun, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengonfirmasi bahwa memang ada pembicaraan soal "pertemuan." Tapi, dia tak membeberkan dengan rinci.

"Saya tidak tahu apakah itu sudah final, tetapi presiden sudah menyatakan dengan jelas," kata dia ke Reuters.

"Presiden terbuka terhadap segala hal yang bisa dilakukannya untuk membantu mengakhiri perang, jika memungkinkan, dan kami akan terus mencari peluang untuk melakukan hal itu," imbuh Rubio.

Gagasan pertemuan itu muncul di tengah ketegangan Ukraina dan AS. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah langkah pemerintahan Trump menimbulkan pertanyaan baru tentang peran Washington sebagai mitra militer terpenting Kyiv.

Pekan lalu misalnya, Trump mencabut sanksi ekspor diesel Rusia saat harga bahan bakar minyak mengkhawatirkan imbas perang AS-Iran.

Di luar itu, Trump dan Zelensky juga kerap berselisih. Presiden AS ini menuduh sekutunya tak ingin mengakhiri perang, sementara Presiden Ukraina menyebut tindakan Trump yang longgar ke Rusia bisa memperpanjang konflik.

Rusia meluncurkan invasi ke Ukraina pada Februari 2022. Hingga saat ini, mereka masih bertempur.

Komunitas internasional sudah berulang kali menyerulan gencatan senjata permanen dan mengusulkan menjadi mediator. Namun, seruan itu belum terlaksana.

(isa/rds)
placeholder