2 Sekutu Malah Kalah Pemilu usai Dapat Dukungan Jor-joran Trump

CNN Indonesia
Senin, 26 Okt 2026 22:00 WIB
Brazilian Senator and presidential candidate Flavio Bolsonaro of the right-wing Liberal Party (PL) attends a televised debate with Brazilian President Luiz Inacio Lula da Silva of the leftist Workers' Party (PT), who is seeking reelection, ahead of t
Capres Brasil sekaligus putra mantan Presiden Jair Bolsonaro, Flavio Bolsonaro. (Foto: REUTERS/Agustin Marcarian)

Orbán Kalah Setelah 16 Tahun Berkuasa

Sebelum kekalahan Bolsonaro di Brasil, sekutu Trump lainnya, Viktor Orbán, lebih dulu kehilangan kekuasaan di Hungaria.

Orbán kalah dalam pemilihan parlemen pada 12 April. Partai Tisza yang dipimpin Péter Magyar berhasil mengalahkan partai Orbán setelah perdana menteri tersebut berkuasa selama 16 tahun.

Kemenangan Magyar menandai perubahan politik besar di Hungaria. Ia mengusung arah politik yang lebih dekat dengan Uni Eropa, sementara Orbán selama bertahun-tahun berselisih dengan blok tersebut mengenai berbagai isu, termasuk perang Rusia di Ukraina.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Orbán dikenal mengusung konsep "demokrasi iliberal" dengan kebijakan yang mencakup pembatasan imigrasi, kritik terhadap lembaga internasional, serta perselisihan dengan media dan institusi pendidikan.

Trump secara terbuka mendukung Orbán menjelang pemilu tersebut. Pada 5 Februari, Trump mengumumkan dukungannya melalui platform Truth Social dan menyebut Orbán sebagai "pemimpin yang benar-benar kuat dan berpengaruh".

"Hubungan antara Hungaria dan Amerika Serikat telah mencapai tingkat kerja sama dan pencapaian spektakuler yang baru di bawah pemerintahan saya, sebagian besar berkat Perdana Menteri Orbán," tulis Trump, seperti dilaporkan Reuters.

Trump juga menegaskan kembali dukungannya terhadap upaya Orbán mempertahankan jabatan perdana menteri.

"Saya bangga mendukung Viktor untuk terpilih kembali pada tahun 2022, dan merasa terhormat untuk melakukannya lagi," tulis Trump.

Dukungan Trump tidak hanya disampaikan melalui media sosial. Wakil Presiden AS, JD Vance, juga datang ke Hungaria menjelang pemilu untuk mendukung Orbán. Trump bahkan sempat berbicara melalui telepon dalam sebuah rapat umum kampanye yang dihadiri Vance.

Trump juga mengatakan pemerintahannya siap menggunakan kekuatan ekonomi AS untuk memperkuat perekonomian Hungaria jika Orbán kembali menang.

Namun, dukungan tersebut tidak cukup untuk mempertahankan kekuasaan Orbán. Pemilih Hungaria justru memberikan kemenangan kepada Magyar setelah 16 tahun pemerintahan Orbán.

Orbán sendiri merupakan pemimpin Eropa pertama yang mendukung Trump ketika mencalonkan diri sebagai presiden AS pada 2016. Keduanya memiliki kedekatan pandangan dalam sejumlah isu, termasuk kebijakan imigrasi dan kritik terhadap lembaga internasional.

Setelah kekalahan Orbán, anggota parlemen AS dari Partai Demokrat dan Partai Republik memberikan beragam tanggapan. Sejumlah anggota parlemen dari kedua partai juga mengucapkan selamat kepada Magyar.

(mge/rds)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2