Jakarta, CNN Indonesia -- Dua calon pemimpin negara malah menelan kekalahan dalam pemilihan umum di negara masing-masing meski telah mendapat dukungan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Terbaru, senator sekaligus putra mantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro, Flávio Bolsonaro, kalah dari presiden petahana, Luiz Inácio Lula da Silva, dalam pemilihan presiden yang digelar pada Minggu (25/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, mantan Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orbán, juga kehilangan kekuasaan setelah 20 tahun berkuasa usai kalah dalam pemilihan pada 12 April lalu. Orbán dikalahkan Partai Tisza yang dipimpin Péter Magyar.
Kekalahan kedua tokoh tersebut menjadi sorotan karena mereka mendapatkan dukungan dari Trump.
Lula Kalahkan Putra Bolsonaro di Brasil
Pada Minggu (25/10), Lula da Silva atau yang kerap disapa Lula memenangkan pemilihan presiden Brasil setelah mengalahkan Flávio.
Berdasarkan hasil penghitungan yang dikutip Al Jazeera, Lula meraih lebih dari 51 persen suara, sedangkan Flávio memperoleh sekitar 48 persen. Otoritas pemilihan menyatakan Lula sebagai pemenang ketika sekitar 98,76 persen suara telah dihitung.
Kemenangan tersebut membawa Lula, yang berusia 80 tahun, kembali menjabat sebagai presiden untuk keempat kalinya. Hasil ini juga menjadi pukulan bagi keluarga Bolsonaro, yang sebelumnya gagal mengalahkan Lula dalam pemilihan presiden 2022.
Namun, Flávio menolak menerima hasil pemilu tersebut dan menyatakan akan menempuh jalur hukum untuk menggugatnya.
"Mustahil untuk mengakui hasil pemilu mengingat bagaimana peristiwa ini terjadi," kata Flávio kepada para pendukungnya di Brasilia setelah kemenangan Lula diumumkan.
"Kami akan menempuh jalur hukum. Kami akan meminta agar pemilihan ini dibatalkan," lanjutnya.
Perselisihan muncul setelah pemungutan suara di Brasil diperpanjang selama dua jam menyusul permintaan dari kedua kubu. Tim kampanye Lula meminta perpanjangan waktu dengan alasan adanya insiden yang memengaruhi bus transportasi pemilih di sejumlah negara bagian.
Sementara itu, tim kampanye Flávio juga meminta perpanjangan waktu di beberapa wilayah karena hujan lebat dinilai menyulitkan pemilih mencapai tempat pemungutan suara.
Hakim Mahkamah Agung Brasil, Cristiano Zanin, mengabulkan permintaan dari tim kampanye Lula. Namun, belum jelas bagaimana proses hukum yang dijanjikan Flávio akan memengaruhi hasil pemilu.
Sebelum pemungutan suara ditutup, Trump mengatakan dirinya "memantau" pemilihan presiden Brasil. Ia tidak menyebutkan kandidat yang ingin dimenangkannya, meskipun sebelumnya memuji penampilan Flávio pada putaran pertama.
"Saya tidak ingin membahas itu, tetapi kami sedang mengamati," kata Trump kepada wartawan pada Minggu (25/10).
Trump memiliki hubungan dekat dengan keluarga Bolsonaro. Pada 2022, Trump secara terbuka mendukung Jair Bolsonaro yang saat itu mencalonkan diri kembali sebagai presiden Brasil melawan Lula.
Reuters juga melaporkan bahwa sejumlah pejabat di Kementerian Luar Negeri AS mendorong pemberian sanksi terhadap Brasil sebagai bagian dari upaya menekan pemerintahan Lula dan membantu keluarga Bolsonaro kembali berkuasa.
Lula menjadikan pembelaan terhadap kedaulatan Brasil dan penolakan terhadap campur tangan asing sebagai tema utama kampanyenya. Ia juga mengkritik kebijakan tarif Trump serta pernyataan publik presiden AS tersebut mengenai proses hukum terhadap Jair Bolsonaro.
Dalam pidato kemenangannya, Lula menggambarkan harus "mengatasi campur tangan dari luar" dalam upayanya untuk meraih masa jabatan keempat.
"Pemilu ini merupakan kekalahan bagi penyangkalan," kata Lula pada Minggu malam.
"Ini adalah kekalahan bagi kebohongan," lanjutnya.
Baca di halaman berikutnya >>>
Dari Brasil ke Hungaria, 2 Sekutu Trump Kalah Pemilu
Capres Brasil sekaligus putra mantan Presiden Jair Bolsonaro, Flavio Bolsonaro. (Foto: REUTERS/Agustin Marcarian)
Orbán Kalah Setelah 16 Tahun Berkuasa
Sebelum kekalahan Bolsonaro di Brasil, sekutu Trump lainnya, Viktor Orbán, lebih dulu kehilangan kekuasaan di Hungaria.
Orbán kalah dalam pemilihan parlemen pada 12 April. Partai Tisza yang dipimpin Péter Magyar berhasil mengalahkan partai Orbán setelah perdana menteri tersebut berkuasa selama 16 tahun.
Kemenangan Magyar menandai perubahan politik besar di Hungaria. Ia mengusung arah politik yang lebih dekat dengan Uni Eropa, sementara Orbán selama bertahun-tahun berselisih dengan blok tersebut mengenai berbagai isu, termasuk perang Rusia di Ukraina.
Orbán dikenal mengusung konsep "demokrasi iliberal" dengan kebijakan yang mencakup pembatasan imigrasi, kritik terhadap lembaga internasional, serta perselisihan dengan media dan institusi pendidikan.
Trump secara terbuka mendukung Orbán menjelang pemilu tersebut. Pada 5 Februari, Trump mengumumkan dukungannya melalui platform Truth Social dan menyebut Orbán sebagai "pemimpin yang benar-benar kuat dan berpengaruh".
"Hubungan antara Hungaria dan Amerika Serikat telah mencapai tingkat kerja sama dan pencapaian spektakuler yang baru di bawah pemerintahan saya, sebagian besar berkat Perdana Menteri Orbán," tulis Trump, seperti dilaporkan Reuters.
Trump juga menegaskan kembali dukungannya terhadap upaya Orbán mempertahankan jabatan perdana menteri.
"Saya bangga mendukung Viktor untuk terpilih kembali pada tahun 2022, dan merasa terhormat untuk melakukannya lagi," tulis Trump.
Dukungan Trump tidak hanya disampaikan melalui media sosial. Wakil Presiden AS, JD Vance, juga datang ke Hungaria menjelang pemilu untuk mendukung Orbán. Trump bahkan sempat berbicara melalui telepon dalam sebuah rapat umum kampanye yang dihadiri Vance.
Trump juga mengatakan pemerintahannya siap menggunakan kekuatan ekonomi AS untuk memperkuat perekonomian Hungaria jika Orbán kembali menang.
Namun, dukungan tersebut tidak cukup untuk mempertahankan kekuasaan Orbán. Pemilih Hungaria justru memberikan kemenangan kepada Magyar setelah 16 tahun pemerintahan Orbán.
Orbán sendiri merupakan pemimpin Eropa pertama yang mendukung Trump ketika mencalonkan diri sebagai presiden AS pada 2016. Keduanya memiliki kedekatan pandangan dalam sejumlah isu, termasuk kebijakan imigrasi dan kritik terhadap lembaga internasional.
Setelah kekalahan Orbán, anggota parlemen AS dari Partai Demokrat dan Partai Republik memberikan beragam tanggapan. Sejumlah anggota parlemen dari kedua partai juga mengucapkan selamat kepada Magyar.