Pertemuan G20 Panas karena Rusia, Menlu AS Rubio Batalkan Foto Bersama
Pertemuan tingkat menteri luar negeri dari negara-negara G20 di Atlanta, Amerika Serikat, yang berlangsung sejak Jumat (30/10), diwarnai ketegangan.
Situasi panas tersebut mencuat sebelum diskusi resmi dimulai. Ketegangan dipicu oleh penolakan keras atas kehadiran Rusia dalam forum tersebut.
Sejumlah pejabat Eropa bahkan mengancam akan melakukan aksi walk out ketimbang harus berada dalam satu foto dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat Marco Rubio akhirnya membatalkan agenda sesi foto bersama. Kendati dibatalkan, rangkaian diskusi tetap dilanjutkan sesuai rencana.
Rubio menyerukan persatuan, dengan menyatakan bahwa dunia tengah menghadapi krisis ekonomi dan politik yang saling berkaitan, yang mengancam pasokan energi dan pangan, perdagangan, serta kebebasan navigasi.
Menurut dia, tantangan-tantangan ini tidak hanya berdampak pada Amerika Serikat, tetapi juga pada seluruh dunia.
"Kita berada di titik kritis. Saya menyebutnya sebagai momen untuk menentukan pilihan," ujar Rubio dikutip dari The National News Desk.
Pertemuan ini dibayangi oleh berbagai konflik global, mulai dari perang Rusia di Ukraina, konflik AS-Israel melawan Iran, tarif perdagangan AS, hingga agresivitas manuver di Laut China Selatan.
Laporan Associated Press (AP) mencatat deretan ketegangan tersebut telah memicu lonjakan harga bahan bakar dan menciptakan ketidakpastian dalam sistem perdagangan global.
Lihat Juga : |
Beberapa pejabat Eropa menyatakan keengganannya untuk tampil dalam satu bingkai foto bersama Lavrov. Pemerintah Inggris menyebutkan mereka memiliki kebijakan jangka panjang untuk menolak pertemuan bilateral langsung dengan menteri Rusia sejak invasi negara tersebut ke Ukraina pada tahun 2022.
Menteri Luar Negeri Polandia Radosław merespons pembatalan sesi foto tersebut sebagai "keputusan yang tepat." Sementara itu, Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menekankan, "tidak ada keadaan yang normal dengan Rusia," meski ia mengakui para pejabat tetap perlu berdialog untuk mendiskusikan perbedaan pandangan mereka.
Daftar undangan pertemuan ini juga memicu sorotan. Ukraina, yang menjadi episentrum konflik dengan Rusia, tidak diundang dengan dalih dari Pejabat AS adalah negara tersebut bukanlah anggota resmi G20.
Absennya undangan juga dialami Afrika Selatan, satu-satunya negara Afrika sekaligus salah satu negara pendiri G20 di kelompok tersebut, menyusul riwayat perselisihan dengan Pemerintahan Trump.
Menanggapi hal tersebut, para pejabat Afrika Selatan menegaskan ketidakhadiran mereka bukanlah atas keinginan sendiri. Mereka memastikan kesiapan penuh untuk kembali berpartisipasi saat Inggris mengambil alih keketuaan G20 pada tahun depan.
Terlepas dari polemik daftar undangan, pihak AS menyatakan agenda diskusi menteri tetap akan menyoroti isu kebebasan navigasi di berbagai perairan strategis, meliputi Selat Hormuz, Laut Merah, Laut Hitam, dan Laut China Selatan.
Tak hanya menyoroti perairan, bayang-bayang eskalasi militer di Timur Tengah juga membayangi jalannya pertemuan. Mengutip laporan AP, para pejabat AS telah memperingatkan sejumlah negara Timur Tengah dan sekutu regionalnya untuk bersiaga.
Mereka diminta mengantisipasi kemungkinan berlanjutnya aksi militer AS terhadap Iran pascapemilu paruh waktu pada Selasa mendatang, sekaligus bersiap menghadapi potensi serangan balasan dari Teheran.
Pertemuan tingkat menteri di Atlanta ini dirancang sebagai persiapan menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pemimpin G20 yang akan diselenggarakan oleh Trump di resor golf miliknya di Miami pada Desember mendatang.
Hingga kini, belum ada kepastian mengenai kehadiran Presiden Rusia Vladimir Putin dalam KTT tersebut.
(dhz/dmi)