Tuduh Pemilu Curang, Ribuan Warga India Demo Tuntut Ketua KPU Mundur

CNN Indonesia
Senin, 02 Nov 2026 09:15 WIB
Ribuan warga di India turun ke jalan di New Delhi menuntut Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Gyanesh Kumar mundur menyusul dugaan kecurangan pemilu. Ilustrasi. (Foto: REUTERS/Adnan Abidi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ribuan warga di India turun ke jalan di New Delhi menuntut Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Gyanesh Kumar mundur menyusul dugaan kecurangan pemilu.

KPU India dituduh merilis daftar pemilih yang dimanipulasi demi menguntungkan partai penguasa Perdana Menteri Narendra Modi, Bharatiya Janata (BJP), Minggu (1/10).

Para demonstran melakukan long march dari pusat New Delhi menuju lapangan Ramlila Maidan yang bersejarah. Ratusan polisi yang dilengkapi pentungan dan perisai dikerahkan ke lokasi unjuk rasa.

Polisi menutup beberapa stasiun dan melakukan penjagaan ketat. Kericuhan pun terjadi saat massa yang tertahan berusaha mendobrak barikade.

Unjuk rasa ini juga bersamaan dengan acara kampanye dari Partai Kongres Nasional India. Di India, acara kampanye dan demonstrasi yang bersamaan merupakan hal biasa.

Pemimpin demo yang juga dari partai oposisi Kongres Nasional India, Rahul Gandhi, menuduh KPU menghapus 130 juta nama dari daftar pemilih dan membuat umat Muslim atau minoritas lain yang tak mendukung partai Modi kehilangan suara.

"Pencurian suara ini bukan pencurian biasa. Ini adalah pencurian setiap suara India, ini disebut pengkhianatan," kata Gandhi, dikutip NDTV.

"Tanpa Gynaesh Kumar, Narendra Modi tak akan menjadi Perdana Menteri begitu pula dengan Amit Shah Menteri Dalam Negeri," imbuh dia.

Lebih lanjut, Gandhi mengatakan suara dicuri dengan memanipulasi daftar pemilih dalam pemillu Lok Sabha 2024. Setelah pemilihan ini, 15 persen daftar pemilih dihapus.

Saat Gandhi dan pemimpin partai Kongres berorasi kericuhan tetap terjadi. Di saat yang sama, gerakan sipil yang dipimpin muda-mudi Partai Kecaok menggelar aksi terpisah.

Setelah Gandhi menyampaikan pendapatnya di acara itu, dia dan pemimpin partai Kongres pergi meninggalkan lokasi dengan jip. Para demonstran mengibarkan bendera India dan partai mengiringi kepergian mereka.

Usai kampanye akbar ditutup, kelumpuhan total terjadi karena sejak awal polisi melakukan pengetatan pemeriksaan. Puluhan bus demonstran terjebak macet dan memicu keributan ke sesama pengguna jalan.

Menteri Kesehatan Jagat Prakash Nadda mengatakan acara itu drama yang memang direncanakan dengan cermat.

"Apa yang terjadi hari ini di Ramlila Maidan bukanlah tindakan penghormatan terhadap demokrasi," kata dia, dikutip Al Jazeera.

"Ini adalah konspirasi yang direncanakan untuk menjerumuskan bangsa ke dalam anarki, semuanya atas nama demokrasi," ujar Nada lagi.

Partai-partai oposisi, organisasi mahasiswa, dan Partai Kecoak telah menggelar demonstrasi hampir setiap hari sejak akhir September. Mereka menyerukan Kumar mundur. Rangkaian demo ini sekaligus menjadi krisis politik sejak Modi menjabat pada 2014.

(isa/rds)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK