Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dituduh berupaya melakukan kudeta setelah blok politiknya gagal mempertahankan kursi Perdana Menteri dalam pemilu pekan lalu.
Sejumlah politisi dan komentator menuding Netanyahu memanfaatkan badan intelijen domestik Israel, Shin Bet, untuk menggugat hasil pemilu dan mempertahankan kekuasaannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tuduhan tersebut muncul setelah blok yang dipimpin Netanyahu tertinggal dari kubu oposisi, menyusul tingginya partisipasi warga Palestina Israel dalam pemilu.
Lebih dari sepekan setelah hasil pemungutan suara diumumkan, Kepala Shin Bet, David Zini, memimpin penyelidikan terhadap dugaan kecurangan dalam pemilu di kalangan warga Palestina.
Penyelidikan itu mencakup dugaan kecurangan pemilu, penyuapan, hingga campur tangan asing. Namun, Shin Bet belum mempublikasikan bukti yang mendukung tuduhan tersebut.
Langkah tersebut juga berlangsung di tengah upaya Netanyahu mendelegitimasi partai-partai yang dipimpin warga Palestina, yakni Ra'am dan Joint List. Kedua partai itu berhasil mengamankan total 19 kursi di parlemen Israel, Knesset, jumlah yang belum pernah mereka capai sebelumnya.
Para pengkritik Netanyahu menilai penyelidikan tersebut merupakan upaya untuk menggagalkan hasil pemilu dan mempertahankan kekuasaan.
Pada Selasa (3/11), Shin Bet menangkap kontributor Middle East Eye, Abd Abu Shahadeh, dengan alasan "penyelidikan terkait keamanan".
Media Israel juga melaporkan Zini ingin menginterogasi sejumlah tokoh politik Palestina, termasuk Ahmad Tibi, Sami Abou Shahadeh, Mansour Abbas, dan Ayman Odeh.
Pemimpin Partai Demokrat sekaligus tokoh oposisi Israel, Yair Golan, memperingatkan bahwa demokrasi Israel sedang menghadapi ancaman.
"Polisi menahan aktivis politik tanpa surat perintah. Shin Bet mencoba menginterogasi pejabat terpilih senior tanpa memberikan bukti. Pemerintah yang akan segera lengser menolak mengakui hasil pemilu," kata Golan, Rabu (4/11).
Ia kemudian menuduh Netanyahu berusaha melakukan kudeta dan merebut kekuasaan melalui kekerasan.
Mantan Perdana Menteri Israel, Yair Lapid, melontarkan tuduhan serupa pada Selasa (3/11). Ia menilai Netanyahu berusaha menghancurkan demokrasi dan mencuri hasil pemilu dengan bantuan orang-orang yang loyal kepadanya di lembaga keamanan.
Pernyataan Lapid tersebut diduga merujuk kepada Zini yang diangkat Netanyahu sebagai kepala Shin Bet.
Sementara itu, pemimpin blok oposisi, Gadi Eisenkot, lebih berhati-hati dalam menyampaikan kritik. Ia menuduh Netanyahu memimpin "upaya terorganisasi" untuk "menyabotase demokrasi Israel" melalui hasutan terhadap pejabat terpilih, ancaman kekerasan di jalanan, serta upaya melemahkan lembaga penegak hukum.
Sejumlah jurnalis dan komentator Israel juga mengkritik langkah Netanyahu.
"Perdana menteri, lingkaran terdekatnya, dan para kolaboratornya di lembaga keamanan dan media massa secara aktif mendorong Israel ke dalam krisis konstitusional paling kritis dalam sejarahnya," tulis jurnalis Haaretz, Amos Harel, seperti dilaporkan Middle East Eye.
Harel menyebut tindakan Netanyahu sebagai upaya "kudeta rezim". Ia menilai penggunaan badan intelijen, hasutan terhadap kelompok minoritas, ancaman kekerasan, dan penolakan terhadap hasil pemilu merupakan taktik yang lazim dalam "buku panduan rezim gelap".
Jurnalis media keuangan Israel Calcalist, Moshe Gorali, juga menuding pemerintah menggunakan lembaga intelijen yang loyal untuk menggagalkan hasil pemilu.
"Menolak untuk mengakui hasil pemilu merupakan eskalasi yang signifikan," tulis Gorali.
Jurnalis Ynet, Ronen Bergman, menyebut Israel "sedang berada di tengah upaya kudeta".





