Ahok, sapaan Basuki, mengatakan tabungan itu merupakan gabungan penghasilan dari gaji, bonus, dan honor selama dia menjadi pembicara di beberapa kesempatan.
"Empat tahun sudah terkumpul hampir Rp3 miliar. (Rencana) mau beli Range Rover nanti," ujar Ahok di Pantai Mutiara, Jakarta Utara, Jumat (31/3).
Ahok menilai pemberian honor kepada pembicara yang diundang merupakan hal lumrah. Hasil honor yang diterima Ahok selama diundang jadi pembicara turut masuk dalam tabungan khusus yang bakal dia belikan mobil mewah.
"KPK ngundang saya bicara saja kasih honor. Boleh terima, dipotong pajak. Saya diundang di (kantor) pajak juga dibayar," kata Ahok.
"Saya tidak tahu (urusan honor). Itu katanya pasangan lain kalau mengundang juga dikasih honor untuk transpor. Pasangan lain juga sama," kata Ahok.
Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) sebelumnya menggelar sidang kode etik dengan memanggil Ketua KPU DKI Sumarno dan Ketua Bawaslu DKI Mimah Susanti, kemarin Gedung DPR/MPR.
Dalam sidang DKPP tersebut, Sumarno dan Mimah mengaku telah menerima honor dari tim Ahok-Djarot dengan bayaran berisar Rp2-3 juta.
"Kami menerima honor, kemudian kami langsung serahkan kepada driver. Kebetulan dia (driver) ada perlu kemudian katanya juga untuk perbaikan," ujar Sumarno.
Ketua DKPP Jimly Asshidiqie mengatakan belum ada aturan yang jelas terkait boleh atau tidaknya penyelenggara pemilu menerima honor jika menjadi pembicara. "Ini sepele tapi bisa jadi besar," ujar Jimly.
Belajar dari kasus ini, Jimly mengatakan ke depannya harus dilakukan evaluasi untuk menegaskan soal aturan penerimaan honor tersebut.
"Sekarang belum dilarang. Ke depan boleh dievaluasi. Tugas penyelenggara pemilu melayani masa terima honor. Yang merasa kepantasannya tinggi masa terima," kata Jimly.