Surat-surat dari Generasi Plus
Analisa Widyaningrum
Foto ilustrasi Analisa Widyaningrum. CNN Indonesia / Basith Subastian
Impian Analisa Widyaningrum: Psikologi Tak Boleh Berhenti di Ruang Klinik

“Pendidikan adalah jalan hidup.”

Itu adalah perkataan Ibu yang begitu menancap di dalam diri saya.

Saya adalah Analisa Widyaningrum, CEO Analisa Personality Development Center (APDC).

Sejak SD, semangat untuk terus sekolah mendorong saya dari jenjang ke jenjang, hingga akhirnya saya masuk UGM. Terdengar begitu mulus bagi banyak orang-orang.

Lahir dan tumbuh di Jogja, kota kecil yang penuh kehangatan dari orang-orangnya. Dunia kampus membuka cakrawala saya untuk berdikari. Sejak sekolah dasar hingga menengah kebutuhan saya dipenuhi orangtua. Tentu ada keinginan hidup mandiri.

Bukan apa-apa, biaya kuliah terasa begitu mahal dan saya berpikir cara agar tetap bisa melanjutkan studi tanpa menambah beban orangtua. Bersamaan dengan itu, ujian besar dihadapi keluarga saya.

Ayah saya mengambil pensiun dini saat saya masuk semester empat. Situasi keluarga sempat limbung. Bisnis ibu saya terkena masalah, dan uang pensiun ayah harus digunakan untuk menyelesaikan urusan bisnis tersebut. Di titik itu, saya tahu saya harus bergerak lebih cepat. Saya harus menemukan jalan finansial saya sendiri.

Namun kemudian, harapan muncul. Saya melihat poster tentang Djarum Beasiswa Plus.

Di kampus, Beasiswa Djarum Plus dikenal sebagai salah satu program paling bergengsi. Jumlahnya terbatas, seleksinya ketat, dan yang paling menarik adalah beasiswa ini tidak mewajibkan surat keterangan tidak mampu.

Saya merasa itu penting. Karena meski keluarga saya tidak kaya, saya juga bukan dari keluarga yang masuk kategori kurang mampu. Saya berada di kelas menengah yang tanggung. Tidak sulit-sulit amat, tapi juga tidak cukup mapan untuk bisa banyak santai.

Saya mencoba mendaftar, tanpa membawa narasi kesulitan hidup atau terlihat mellow. Saya hanya membawa apa adanya: prestasi, kegiatan, dan keinginan besar untuk mandiri.

Ketika pengumuman keluar, saya masih ingat rasanya. Saya satu-satunya mahasiswa psikologi UGM di angkatan saya yang lolos. Saya melamun cukup lama. Bukan karena merasa paling hebat, tapi justru sebaliknya, karena IPK teman-teman saya jauh lebih tinggi.

(Foto. Dok Pribadi)

Dari situ saya sadar bahwa Beasiswa Djarum Plus tidak hanya mencari nilai. Mereka mencari karakter dan potensi.

Ternyata benar dugaan saya. Begitu masuk ke programnya, saya merasakan langsung perbedaan besar yang ditawarkan Beasiswa Djarum. Kami mendapatkan pelatihan soft skill, leadership development program, public speaking, sampai ikut kompetisi writing.

Dan hal yang paling indah adalah jejaring yang didapatkan. Teman-teman Beswan dari berbagai daerah sampai hari ini masih menjadi bagian dari kehidupan saya. Bahkan ketika saya sekolah lagi ke Inggris, saya bertemu teman satu kamar sesama Beswan. Ikatan itu tidak pernah putus.

Kemudian saat kembali ke Indonesia, ada satu momen yang menentukan arah hidup saya. Mungkin itu yang jadi titik balik saya sebagai public speaker di lingkup psikologi.

Sekali waktu, saya membantu sebuah acara Beswan Djarum di UGM sebagai moderator. Tanpa saya tahu, di samping saya duduk seorang pria yang sangat sederhana. Beliau memperhatikan cara saya memandu acara, dan setelah selesai, beliau berkata:

Kamu bagus. Kamu alumni Beswan, ya?

Saya tidak tahu siapa beliau, sampai akhirnya saya menyadari, itu adalah Pak Primadi Serad, Program Director Djarum Foundation.

Percakapan singkat itu mengubah banyak hal dalam hidup saya.

Beliau menawarkan saya kesempatan menjadi motivator untuk adik-adik Beswan Djarum. Saya yang saat itu masih mahasiswa S2, belum menjadi psikolog resmi, sempat bingung. Tapi saya memegang satu prinsip hidup, yaitu jangan menolak kesempatan yang datang sebelum benar-benar tahu apa yang bisa dilakukan dengan kesempatan itu.

Saya menerima ajakan itu dengan membawa materi tentang kecerdasan emosi di hadapan Pak Prim dalam sebuah acara di Jakarta. Karier public speaking saya sekaligus dimulai di sana. Pak Prim terus mendukung saya untuk terus maju bahkan mengarahkan ikut kelas public speaking profesional.

(Foto. Dok Pribadi)

Berkat bekal itu saya berani membentuk Analisa Personality Development Center, sebuah klinik dan konsultan psikologi di Jogja, tempat kelahiran saya.

Motivasi saya sederhana: saya ingin ilmu saya bermanfaat. Saya ingin psikologi tidak berhenti di ruang klinik. Saya ingin membawanya ke ruang publik, ke perusahaan, ke komunitas, ke orang-orang yang butuh tempat aman untuk bercerita.

Saya membuka kelas pengembangan diri, mendampingi pasien di rumah sakit, hingga akhirnya merambah dunia organisasi dan korporasi. Salah satu alasan saya masuk ke ranah organisasi adalah karena klien saya bekerja di perusahaan besar dan mereka merekomendasikan saya untuk mengisi sesi di tempat kerja mereka.

Dari sana, dampak itu berlipat-lipat.

Hari ini, Personality Development Center milik saya punya tim dengan psikolog-psikolog muda yang belajar membangun diri dan berdampak. Kami membuka program magang agar adik-adik mahasiswa psikologi belajar langsung tentang praktik profesional.

Dan setiap kali ada seseorang datang setelah sesi dan berkata: “Mbak Ana, terima kasih. Saya tadi hampir menyerah, tapi sekarang saya punya alasan untuk bertahan.”

Itu adalah bayaran yang tidak bisa dihitung dengan angka apa pun.

Pesan untuk Beswan Djarum

Jika bicara tentang impian, saya selalu teringat kembali pada impian sepuluh tahun lalu: menjadikan psikologi sebagai kebutuhan publik.

Hari ini, masyarakat Indonesia sudah jauh lebih sadar terhadap isu kesehatan mental dibanding satu dekade lalu. Tapi masih banyak stigma yang bertahan.

Masih ada orang yang menganggap “curhat ke psikolog itu lemah”, atau “laki-laki tidak boleh rapuh”, atau “perempuan harus begini dan begitu”.

(Foto. Dok Pribadi)

Harapan saya sederhana, ingin suatu hari nanti kesehatan mental menjadi topik sehari-hari, bukan sesuatu yang harus disembunyikan.

Saya ingin tetap berada dalam koridor belajar, mengajar, bertumbuh, dan menebar dampak melalui psikologi.

Untuk adik-adik Beswan Djarum, pesan saya hanya satu: nikmati perjalanan hidup.

Karena suatu hari nanti, kita akan merindukan masa-masa itu. Kita akan mengingat masa ketika ditempa, diuji, dan disiapkan.

Beasiswa Djarum Plus ibarat pesawat. Mereka menyediakan mesin, bahan bakar, dan kopilot. Tapi kita adalah pilotnya. Suatu saat, pasti akan ada turbulensi. Kamu mungkin harus turun dari ketinggian sejenak. Tapi jika tetap memegang nilai-nilai sebagai Beswan Djarum, kita akan sampai ke tujuan.

Dan semoga dari Beswan Djarum lahir lebih banyak pemimpin yang membawa manfaat. Karena pada akhirnya, bukan tentang seberapa jauh kita melangkah, tapi seberapa banyak yang merasakan langkah itu.