Surat-surat dari Generasi Plus
Cut Carnelia
Foto ilustrasi Cut Carnelia. CNN Indonesia / Basith Subastian
Menembus Batas ala Cut Carnelia, Dari Pengadilan ke Pengadilan

Jika Cut Nyak Dien berjuang melawan penjajahan, saya coba berjuang dengan palu melawan ketidakadilan.

Saya Cut Carnelia, seorang hakim sekaligus Ketua Pengadilan Negeri Kudus.

Tak mudah bagi saya untuk memilih jalur penegakan hukum. Jalannya berliku dan terjal. Namun, sejak kecil saya memang tak mau jadi perempuan biasa-biasa saja.

Kalimat ini adalah mantra-mantra yang saya ucapkan nyaris saban hari sejak saya kecil. Sejak saya bisa memahami makna.

Saya lahir di Aceh, Daerah Istimewa Aceh (DIA), tahun 1979. Saya lahir dari orang tua yang tak kaya, tapi sangat memprioritaskan pendidikan. Bagi orang tua saya, warisan terbaik adalah ilmu.

SD Inpres jadi sekolah pertama saya. Lokasinya di daerah pinggiran dengan kondisi yang terbatas dibanding sekolah di kota-kota. Tapi tak masalah. Saya tetap senang menjalaninya. Setelah lulus, saya lanjut ke SMP Negeri Tualang Cut pada 1990.

Keterbatasan ekonomi tak menyurutkan semangat orang tua saya untuk mendukung penuh pendidikan saya dan ketiga adik. Bahkan, saat menginjak bangku SMA, kami dikirim ke Yogyakarta untuk mendapat pendidikan yang lebih baik.

Sebenarnya setelah lulus SMA, saya cukup bimbang mengambil jurusan apa. Sebagai anak dari latar belakang ekonomi pas-pasan, tentu saya ingin ambil jurusan yang punya peluang kerja luas di masa depan.

Saat itu, saya ingin mengambil prodi Hubungan Internasional. Kuliah di Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Pemerintah terlihat sangat menarik. Tapi, saya ragu dan bingung.

Beruntung, ada sahabat orang tua, yaitu Pak Umar, yang bisa membantu saya memecahkan kebimbangan.

“Ambil fakultas yang bisa masuk ke manapun untuk kamu cari kerja. Kalau HI, ruang untuk kerjamu sempit,” kata Pak Umar saat itu.

“Jadi, saya ambil apa?” tanya saya.

“Kamu ambil Hukum. Karena Hukum itu diperlukan di semua bidang,” ujar Pak Umar lagi.

Beasiswa Plus Djarum, cara Tuhan menjawab impian.

(Foto. Dok Pribadi)

Tahun 1996, saya memilih dua program studi kuliah: Ilmu Hukum dan Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Lalu, saat pengumuman tiba, ternyata saya mendapatkan jurusan Ilmu Hukum.

Hari-hari kuliah sebenarnya tak semenyenangkan anak-anak lain. Saya harus berhemat, mengatur keuangan, dan menahan diri membeli barang-barang seperti baju atau sepatu, meskipun pada saat itu saya perlu.

Saya masih ingat saya harus menjahit sendiri sepatu yang robek untuk digunakan kembali. Baju dan tas pun hanya yang itu-itu saja, sementara untuk mengisi perut saya memilih nasi kucing, makanan yang memang murah meriah.

Dengan jatah uang bulanan Rp100 ribu, sebagai mahasiswa saya tak pernah neko-neko. Hari-hari saya hanya ke kelas, belajar, tidur dan kembali ke kelas lagi. Saya ingin cepat-cepat lulus agar bisa meringankan beban orang tua dan membantu adik-adik.

Kalaupun ada uang tersisa, saya cuma berharap bisa memenuhi keinginan-keinginan kecil: pergi ke bioskop Cinema 21 dan makan kepiting.

“Saya lelah dengan keterbatasan ini,” pikir saya pada waktu itu.

Di tengah keinginan saya untuk lulus, saya melihat papan pengumuman soal Djarum Beasiswa Plus. Ini tentu kesempatan untuk setidaknya mengatasi keterbatasan saya.

Dan ternyata benar. Tuhan menjawab impian-impian saya: lolos Djarum Beasiswa Plus. Di tahun 1997, beasiswa yang diberikan Rp600 ribu, jumlah yang sangat banyak bagi saya pada waktu itu.

Di masa itu, Djarum Beasiswa Plus masih berbentuk uang saja, dan belum seperti sekarang yang penuh pelatihan, pembekalan, dan mendidik para penerimanya jadi pemimpin. Tapi tentu sangat berharga bagi saya.

Di kemudian hari, sebagai alumni Beswan, Djarum kerap melibatkan saya untuk jadi motivator. Misalnya pada Juni lalu, saya jadi salah satu pembicara di talkshow bertajuk “Mengabdi Lewat profesi: Cerita dan Inspirasi Karier Layanan Publik."

Ajakan-ajakan seperti ini membuat hati senang. Aktivitas itu bagi saya amal jariyah. Berbagi pengalaman, menyebarkan pengetahuan, dan menyemangati orang-orang.

(Foto. Dok Pribadi)

Suatu kali, saya juga menjadi motivator untuk putra-putri karyawan PT Djarum. Saya bilang, bermimpilah setinggi-tingginya dan coba untuk merengkuhnya.

“Penuhi kepala dengan impian, dan jangan sia-siakan waktu selagi muda,” kata saya.

November ini, saya juga senang kembali berbagi dengan teman-teman Beswan Djarum.

Kembali ke cerita perjalanan di bangku kuliah, saya berhasil lulus S1 hanya dalam waktu 3,5 tahun. Tentu Djarum Beasiswa Plus jadi bagian tak terpisahkan. Orang tua haru sekaligus bangga.

Setelah kuliah sebenarnya saya juga ingin buru-buru bekerja. Namun, tak disangka, orang tua ingin saya melanjutkan program magister.

“Sekolah lagi, saya maunya kamu lebih,” kata ibu saat merespons keinginan saya cari uang.

Saya manut kemauan ibu dan saya langsung daftar S2 dengan jurusan Manajemen Keuangan. Tentu sembari bekerja ini-itu.

Saya mengambil jurusan Manajemen Keuangan dengan tujuan sederhana, yaitu jadi ibu rumah tangga sekaligus konsultan keuangan, pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah.

Saya tak kepikiran sedikit pun untuk jadi hakim.

Tantangan jadi hakim

Jalan cerita hidup saya berubah pada suatu titik, tepatnya pada 2000, ketika teman saya, Mas Bambang, memberi tahu ada pembukaan calon hakim di Sleman. Saya tak senang-senang amat, tetapi tetap daftar.

Dan, Tuhan punya rencana lain: Saya lolos. Setelah mengikuti pendidikan dan pelatihan, saya ditempatkan di Pengadilan Negeri Sleman menjadi hakim anggota.

Menjadi bagian penegakan hukum ternyata menyenangkan. Saya lalu dipanggil oleh Direktorat Jenderal Badan Peradilan Umum (Badilum) untuk mengikuti tes fit and proper. Saya lulus dan menjadi wakil di Pengadilan Negeri Langsa, Aceh.

Setelah itu, saya naik jadi Ketua Pengadilan Negeri di Lubuk Sikaping, Sumatera Barat kemudian dimutasi ke PN Kuala Simpang, Daerah Istimewa Aceh menjadi ketua.

Dua kali jadi ketua PN kelas 2, saya kembali dipanggil lagi mengikuti tes fit and proper untuk kelas 1B. Dari Aceh saya berangkat ke Jakarta dengan memasrahkan harapan pada Tuhan.

Tuhan merestui jalan ini. Saya lulus dan ditempatkan di PN Tebing Tinggi Kelas 1B Sumatera Utara. Saya sempat menjadi wakil, setahun kemudian naik jadi ketua PN Tebing Tinggi.

(Foto. Pemkab Kudus)

Hari-hari di PN Tebing Tinggi tak selalu mudah. Bahkan, saya pernah menghadapi massa yang begitu marah. Kejadian itu bermula saat ada kasus di praperadilan yang ditangani hakim anggota PN Tebing Tinggi. Kasus ini berimbas ke demonstrasi massal.

Sebagai KPN, saya tak mungkin memproses permohonan banding praperadilan yang dikabulkan hakim saat itu, sehingga massa berdemonstrasi dan menuntut saya dicopot sebagai KPN Tebing Tinggi. Saya harus menghadapi dengan tegar.

“Saya harus menghadapi. Saya harus bertindak,” pikir saya pada waktu itu.

Saat itu saya akan melaksanakan eksekusi dengan termohon eksekusi merupakan pemerintah Kota Tebing Tinggi. Sebagai bagian dari Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), saya merasa perlu bersosialisasi, bersinergi, dan menjalin hubungan baik serta saling mendukung dengan pemerintah setempat.

Namun, pada waktu itu segalanya berseberangan.

Saya berusaha menjelaskan sesuai ketentuan yang harus ditegakkan dan tupoksi saya sebagai KPN untuk melaksanakan tugas. Namun, apa yang saya lakukan tak bisa memuaskan mereka dan akhirnya saya menuai risiko dibenci hingga diasingkan.

Saya cuma bisa lapang dan menghadapinya dengan keyakinan Allah bersama saya. Saya bersyukur tidak lari sekaligus tidak tenggelam. Masalah itu akhirnya berlalu.

Seiring berjalannya waktu, tugas saya di Tebing Tinggi rampung. Lega bukan main.

Kalau boleh saya gambarkan, “Seperti mengayuh ke lautan, saya akhirnya sampai ke tepi. Tidak berbalik. Tidak tenggelam.”

Pengalaman ini mengajarkan saya makna kepemimpinan. Bagi saya, pemimpin adalah contoh, teladan, dan tanggung jawab.

Beres di Tebing Tinggi, saya sekarang di sini: Pengadilan Negeri Kudus sebagai ketua.

Di usia saat ini, saya hanya mengikuti arus, terserah Tuhan Yang Maha Kuasa. Jika Dia menghendaki saya melangkah lebih jauh, maka akan saya tempuh. Tapi jika tidak, saya sudah merasa sangat cukup dengan yang sudah dilalui selama ini.

Saya tak lagi banyak harapan untuk diri sendiri karena Allah sudah memberi banyak kenikmatan. Tapi, saya punya harapan besar ke generasi muda di negara ini.

"Jangan jadi perempuan yang biasa-biasa saja," ini yang terus saya ucapkan kepada generasi muda di setiap kesempatan.

Negara akan maju jika orang berpikiran maju.