Surat-surat dari Generasi Plus
Indra Rudiansyah
Foto ilustrasi Indra Rudiansyah. CNN Indonesia / Basith Subastian
AstraZeneca Hingga mRNA, Perjalanan Membawa Imunitas ke Publik

Pandemi COVID-19 mengguncang seluruh penjuru dunia dan memicu kepanikan.

Kepanikan mereda saat vaksin-vaksin mulai lahir, membawa imunitas untuk publik.

Saya Indra Rudiansyah, peneliti vaksin di Biofarma yang saat ini tengah mengembangkan vaksin mRNA.

Saya memang tertarik dengan sains, tapi tak pernah terpikirkan untuk terjun ke dunia mikrobiologi. Saat kecil, biologi bagi saya hanya salah satu bagian pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang diajarkan di sekolah.

Kedekatan saya dengan biologi dimulai saat kelas 1 SMA. Kala itu, Biofarma mengadakan kompetisi sekaligus mengundang siswa-siswi SMA di Bandung untuk belajar tentang vaksin.

Perkenalan tersebut memicu rasa penasaran yang membuat saya menelusuri lebih dalam bidang ini.

Masa SMA berlalu, waktunya memilih kampus. Dua jurusan jadi target saya di Institut Teknologi Bandung (ITB), perminyakan dan mikrobiologi.

Mungkin memang jodohnya dengan vaksin, saya tidak masuk Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM), tapi berlabuh di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH).

Masih ingin dekat dengan sumber daya mineral, gas, dan minyak bumi, saya mengambil sub ilmu mikrobiologi yang dekat dengan material tersebut. Salah satu penelitian yang saya lakukan adalah mengubah batu bara menjadi gas metan dengan bantuan mikroba.

Fokus pada bidang ini berlanjut hingga magister. Saya mengambil program fast track dan melanjutkan di prodi Bioteknologi. Di sini, fokus penelitian saya adalah mencari cara untuk meng-enhance oil recovery dengan bantuan mikroba.

Banyak hal yang saya temui selama 5 tahun berkampus di Ganesha. Di antara berbagai macam cerita dunia perkuliahan, saya bertemu dengan Djarum Beasiswa Plus.

Saya terbilang beruntung kala itu. Setelah absen dari ITB selama beberapa tahun, beasiswa ini kembali dan saya menjadi salah satu pendaftar.

(Foto. Dok Pribadi)

Periode pembukaan pendaftaran sedikit terlambat dan membuat timeline penerimaan cukup rapat. Alhasil, kurasi awal sedikit longgar dan pemilik IPK lebih dari 3 boleh mendaftar.

Tak terlalu banyak yang mendaftar kala itu, mungkin hanya 15-20 orang. Dari jumlah tersebut, 12 orang akhirnya menjadi Beswan Djarum, termasuk saya.

Manfaat utama beasiswa tentu saja dukungan finansial untuk perkuliahan. Namun, banyak hal lain yang saya dapat di sini, yang memberikan dampak jangka panjang untuk hidup saya.

Saya terlibat di hampir semua kegiatan yang diadakan Djarum Beasiswa Plus, mulai dari National Building hingga National Debate dan Writing Competition.

National Building, kegiatan yang pertama saya ikuti, menjadi salah satu kegiatan yang paling berkesan. Di sini, saya bertemu dengan para Beswan Djarum dari berbagai sudut Tanah Air.

Jejaring yang terbangun dari kegiatan tersebut bahkan berlanjut hingga hari ini, setelah kami lulus dari kampus dan berkarier di bidangnya masing-masing.

Kegiatan-kegiatan sebagai Beswan Djarum juga turut membentuk pemahaman saya soal leadership. Leadership di mata saya bukan soal jabatan atau posisi, tetapi soal kemampuan. Kemampuan seseorang memberikan arahan, petunjuk, untuk mencapai tujuan bersama.

Seorang pemimpin bisa jadi tidak memiliki leadership yang baik, dan seorang anggota bisa saja memiliki kemampuan leadership yang lebih baik.

Lebih dekat dengan vaksin

Awal karier saya dimulai saat jelang merampungkan S2, ketika saya mencoba melamar pekerjaan ke beberapa tempat.

Seperti saat memilih jurusan kuliah, dua opsi berdiri di hadapan saya, perusahaan minyak sawit dan tempat saya bekerja sekarang: Biofarma.

Keduanya menerima dan mau menunggu saya lulus, tetapi akhirnya pilihan jatuh ke Biofarma. Lokasinya yang berada di Bandung jadi salah satu alasan yang mendorong saya.

Di Biofarma, saya banyak berkutat dengan vaksin. Meski tidak sepenuhnya asing, dunia vaksin benar-benar baru dan membuat saya perlu belajar dari nol, mulai dari sel kultur, cara bekerja dengan virus, hingga biosafety.

Tak terasa 4 tahun berlalu, kini saya paham bagaimana cara meneliti hingga memproduksi vaksin. Rasa penasaran pada vaksin kemudian membawa saya mengambil program doktor Clinical Medicine di Oxford University.

Ketersediaan teknologi yang advance di Oxford membakar semangat saya dalam meneliti.

Di sini, saya juga kerap melakukan riset mandiri untuk mencari dan mengembangkan vaksin. Riset berbeda dari yang saya lakukan di Biofarma, di mana sebagian besar riset dilakukan untuk manufaktur atau produksi.

Di pertengahan masa kuliah, pandemi COVID-19 melanda dunia. Kebutuhan vaksin menjadi sangat mendesak.

Laboratorium tempat saya melakukan riset memiliki teknologi viral vector yang bisa digunakan untuk mengembangkan vaksin apa pun. Grup riset ini memang memiliki fokus mengembangkan vaksin untuk penyakit yang berpotensi menjadi wabah, seperti SARS-CoV-2, Malaria, hingga Ebola.

Saat dunia mengalami pandemi COVID-19, penelitian vaksin dieskalasi. Kebutuhan SDM untuk penelitian membawa saya terlibat dalam pengembangan vaksin AstraZeneca.

Bukan hanya saya, ada peneliti Indonesia lain dalam proyek vaksin ini, yaitu Carina Joe.

(Foto. Dok Pribadi)

Kami berkontribusi di jalur yang berbeda, tim saya bekerja mengembangkan vaksin untuk melihat efektivitas vaksin pada hewan dan manusia hingga melakukan uji klinis. Sementara tim Carina fokus pada proses manufaktur atau produksi skala besar agar vaksin ini bisa didistribusikan secara global dan menekan pandemi.

Di tim vaksin AstraZeneca, saya terlibat di bagian uji klinis. Sebelum didistribusikan ke publik, vaksin ini perlu diuji terlebih dulu, apakah menghasilkan antibodi yang diharapkan atau tidak, serta melihat efek-efek lain yang mungkin terjadi.

Perang melawan penyakit baru menjadi tantangan besar untuk tim. Pengetahuan yang terbatas membuat kami meraba-raba ke mana perlu melangkah.

Upaya kolektif untuk menguak misteri-misteri virus ini menjadi keharusan, mulai dari bagaimana proses infeksi, hingga cara memblok virus untuk masuk ke tubuh.

Waktu juga seakan memburu kami. Pandemi yang kian meluas membuat kami perlu segera menghasilkan vaksin COVID-19.

"Semakin lama kita penelitiannya, semakin banyak jumlah korban COVID-19," pikir kami saat itu.

Ketika pandemi usai, begitu pula kuliah saya di Inggris. Saya pulang ke Bandung dan kembali berkarier di Biofarma.

Kini saya tengah fokus mengembangkan platform vaksin mRNA. Dikarenakan sifatnya sebagai platform, mRNA bisa digunakan untuk berbagai penyakit, mulai dari COVID-19, Ebola, MERS, hingga Malaria.

Saat ini pengembangan tengah berada di fase capacity building, mencakup persiapan SDM, persiapan teknologi proses, hingga persiapan infrastruktur untuk produksi, studi fase 1 dan 2, serta uji klinis untuk komersial.

Proses ini untuk memastikan vaksin tak hanya bisa diproduksi dalam skala lab, tetapi juga skala komersial. Vaksin COVID-19 menjadi model kami dalam pengembangan ini. Kami juga menyiapkan strategi untuk menghadapi potensi pandemi dari sejumlah penyakit.

Di fase awal, calon-calon vaksin ini diharapkan bisa lolos hingga uji klinis di mana objektifnya adalah aman. Setelah dinyatakan aman, pengembangan fase-fase berikutnya akan lebih singkat jika (amit-amit) ada pandemi lagi.

Pola ini adalah langkah mitigasi yang lahir dari pengalaman pandemi COVID-19. Jika kemarin pengembangan vaksin COVID-19 perlu waktu hingga satu tahun, pola ini memungkinkan pengembangan vaksin dalam waktu hanya 100 hari.

Ketika tidak ada pandemi, fasilitas-fasilitas pengembangan vaksin digunakan untuk produk komersial.

Kami sendiri menargetkan vaksin mRNA bisa masuk tahap manufaktur pada 2027. Semoga tidak mundur.

(Foto. Dok Pribadi)
Tantangan industri

Menjadi peneliti vaksin bukan hanya soal keilmuan, tetapi juga ekosistem. Saya melihat industri kimia, yang erat dengan vaksin, masih sangat bergantung pada material impor.

Beberapa material seperti garam, gula, hingga media masih mengandalkan impor. Kalau garam dapur kita bisa produksi banyak karena laut yang luas. Namun, grade yang dibutuhkan untuk garam industri berbeda.

Masalah rantai pasokan ini bisa jadi masalah ketika situasi mendesak seperti pandemi. Impor yang memerlukan waktu bisa menunda proses-proses yang diupayakan.

Saya harap bisa ada akses spesial ketika ada kondisi semacam ini, atau mungkin produksi lokal bisa diperkuat.

Jika membangun sendiri terasa sulit, mungkin membawa pemain besar ke Tanah Air bisa jadi solusi. Mereka masuk sendiri atau lewat joint venture dengan perusahaan lokal, yang mana saja demi perkembangan industri riset Tanah Air.

Saya berharap riset-riset yang dilakukan para peneliti di Indonesia tak hanya berakhir menjadi paper akademik, tetapi bisa menjadi produk yang berdampak. Hal serupa yang telah dilakukan Agency for Science, Technology and Research (A STAR), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) versi Singapura.

Riset akademik di Indonesia saat ini mungkin cukup terbatas dari sisi pendanaan di BRIN, LPDP, dan beberapa lembaga. Syarat yang diberikan juga cukup banyak.

Di sisi ini, saya berharap bisa ada dukungan pendanaan-pendanaan dengan syarat yang tidak terlalu ketat. Misalnya, semacam seed funding yang hadir sebagai katalis.

Pendanaan semacam itu nantinya bisa jadi modal peneliti-peneliti di universitas untuk membuat produk purwarupa. Kehadiran produk awal bisa digunakan sebagai modal mencari pendanaan yang lebih besar.

Karier sebagai peneliti di Indonesia mungkin dipandang skeptis oleh publik. Sejumlah keterbatasan mengamini pandangan skeptis tersebut.

Namun, di balik itu banyak peluang yang ada. Dalam kasus saya, belum banyak peneliti dengan kepakaran di bidang vaksin.

Sebagai perbandingan, Inggris memiliki sumber daya yang baik untuk riset, dan memiliki banyak lulusan PhD. Suplai berlebih ini membuat profesi akademik malah underpaid dibandingkan dengan profesional lain.

Suplai peneliti yang belum banyak di Indonesia membuat kesempatan menjadi sosok peneliti penting di bidangnya terbuka lebar.

Pesan saya, kalau teman-teman sains yang memang bidangnya emerging sekarang pulang ke Indonesia, mungkin bisa jadi teman-teman akan jadi salah satu yang prominent di bidangnya di Indonesia.