Surat-surat dari Generasi Plus
Mala Ekayanti
Foto ilustrasi Mala Ekayanti. CNN Indonesia / Basith Subastian
Mala Ekayanti: Pencarian Jati Diri ‘Si Ikan Kecil’ di Kolam Besar

Saat saya menoleh ke belakang, rasanya perjalanan hidup ini seperti potongan mozaik: sederhana, penuh perjuangan, tapi menyatu dengan indah.

Saat ini saya adalah Regional HR di BASF Agricultural Solutions Asia Pacific dan baru saja menyelesaikan periode kepengurusan pertama Ikatan Alumni Djarum Beasiswa Plus sebagai Koordinator Divisi Profesional dan Pendidikan.

Saya berasal dari keluarga sederhana, tapi dari kesederhanaan itulah saya belajar arti kerja keras, semangat pantang menyerah, dan keyakinan bahwa mimpi apapun pantas diperjuangkan.

Banyak orang tidak percaya latar belakang keluarga saya yang bersahaja, tapi nyatanya kedua orangtua saya memang tidak sempat menikmati pendidikan tinggi. Bisa jadi, hal ini juga yang membuat mereka selalu memprioritaskan pendidikan anak-anaknya. Sejak kecil saya didorong untuk berani bermimpi. Papa dan Mama selalu bilang: "Jangan takut jadi ikan kecil di kolam besar."

Kalimat itu sederhana, tapi saya pegang terus sampai hari ini.

Sebagai sulung dari tiga bersaudara, saya menjadi harapan keluarga. Saya berusaha menjadi contoh untuk adik-adik saya. Sadar langkah kaki saya akan membuka jalan bagi mereka, saya terus maju.

Saat lulus SMP, saya bertekad ingin masuk SMA unggulan di provinsi saya: Santa Ursula. Saya mengerti biayanya tidak murah dan lokasinya cukup jauh dari rumah, tapi saya sangat ingin bersekolah di sana. Jadi saya tetap memberanikan diri ikut tes dan diterima.

Gempita diterima di sekolah impian harus berhadapan dengan realita pahit: Papa mengalami PHK. Ragu melingkupi, tapi kami beruntung karena pihak sekolah tetap memberikan saya kesempatan bersekolah meski memiliki keterbatasan finansial. Saya naik angkutan umum ke sekolah – yang artinya harus menunggu bus sejak pukul 05.00 setiap paginya!

Selesai dengan urusan finansial, saya berhadapan dengan beratnya keseharian sekolah. Teman-teman saya adalah murid terbaik yang disaring sekolah melalui tes ketat. Mereka begitu rajin, pandai, dan disiplin. Kalau boleh jujur, saya berjuang mati-matian untuk bisa naik kelas. Dari situ, saya sadar, saya harus bekerja keras karena benar-benar jadi 'Ikan kecil di kolam yang besar.'

(Foto. Dok Pribadi)

Saat naik ke kelas tiga, saya memilih jurusan bahasa – pilihan yang sering kali dipandang sebelah mata. Kata hati membawa saya ke sana, demi kecintaan saya pada sastra dan budaya. Langkah yang terdengar sentimentil ini kemudian terbentur kenyataan karena ujian masuk perguruan tinggi tidak memperhitungkan murid jurusan bahasa. Untuk mengejar ketinggalan, saya belajar mandiri beberapa mata pelajaran.

Meski menghadapi berbagai tantangan, kedua orangtua saya tidak ingin anaknya menyerah. Mereka ingin anak-anak mereka menggapai gelar sarjana yang tidak pernah mereka miliki. Papa dan Mama dengan jujur mengatakan bahwa mereka hanya mampu membiayai kuliah di kampus negeri. Saat Universitas Gadjah Mada (UGM) membuka Ujian Masuk, saya mencoba ikut tes dan saya diterima.

Kuliah di Yogyakarta dirasa memberatkan karena keluarga tinggal di Jakarta. Mama kemudian meminta saya untuk kuliah di dekat Jakarta saja supaya tidak perlu indekos. Universitas Indonesia (UI) jadi target berikutnya. Saya kembali ikut tes, kali ini Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Setelah diterima di UI, saya mengundurkan diri dari UGM.

Pertemuan yang Mengubah Hidup: Djarum Beasiswa Plus

Prinsip saya semasa kuliah masih sama, yaitu menyelaraskan kebutuhan kuliah dengan ekonomi keluarga. Sebisa mungkin, ongkos ke kampus saya irit-irit dengan naik bus umum, bus kampus, atau kadang jalan kaki.

Suatu hari di semester empat, saya melihat pengumuman seleksi beasiswa di papan mading kampus: Djarum Beasiswa Plus. Waktu itu namanya masih Beasiswa Djarum. Saya tidak tahu banyak tentang program itu, tapi pikiran pendek saya berbisik bahwa beasiswa berarti uang saku tambahan. Alasan itu yang membuat saya berani mendaftar tanpa ekspektasi tinggi.

Nyatanya, dari keputusan sederhana itu, pada tahun 2005 saya diterima sebagai ‘Beswan Djarum’ – cara penggagas beasiswa ini Bapak Suwarno M. Serad menyebut kami para penerima beasiswa. Wawasan saya justru kian terbuka karena ternyata beasiswa ini bukan sekadar memberi uang, tapi juga membentuk pola pikir saya.

Pembekalan dalam bentuk pelatihan kepemimpinan, pelatihan outbound, kompetisi menulis, hingga program pemberdayaan masyarakat mengasah saya untuk lebih percaya diri dalam berpikir dan bertutur. Saya jadi berani menghadapi ketakutan-ketakutan saya.

Di pelatihan outbound, saya yang takut ketinggian ini belajar turun dari tebing dengan rappelling. Saya yang tadinya takut kegelapan, kemudian berani berjalan sendiri di hutan pada malam hari.

Ternyata saya bisa.

(Foto. Dok Pribadi)

Tanpa sadar, growth mindset terbentuk dalam diri saya. Melalui Djarum Beasiswa Plus, saya belajar bahwa kemampuan manusia bisa berkembang asal mau berusaha. Saya yang tidak bisa menulis dan presentasi ternyata menjadi finalis kompetisi menulis.

Saat Malam Dharma Puruhita di mana Beswan Djarum dikukuhkan, Papa dan Mama menonton dari layar kaca. "Itu Mala!" kata mereka menirukan momen itu. Tangis haru orang tua membuktikan bahwa perjuangan saya tidak sia-sia. Menjadi bagian dari keluarga Beswan Djarum adalah paduan dari kebanggaan dan rasa syukur.

Tak berhenti di situ, pengalaman menjadi Beswan Djarum yang begitu berharga ternyata menginspirasi adik saya untuk mengikuti langkah saya. Saya mendukung.

Saat seleksi, saya bilang ke adik saya untuk tidak bilang-bilang saya kakaknya. Saya ingin dia berusaha sendiri dan bangga dengan hasilnya nanti. Ternyata dia diterima! Salah satu bukti nyata bahwa basis seleksi Beswan Djarum adalah meritokrasi.

Growth Mindset Tempaan Beswan Djarum yang Membentuk Karier

Saya kuliah di jurusan komunikasi. Setelah lulus pun, karier saya tidak jauh dari dunia komunikasi. Sekilas terlihat mudah dan alami, tapi sebetulnya saya berhadapan dengan banyak ketakutan saat memulai karier: menulis, berbicara, serta bekerja bersama kolega dengan latar belakang beragam.

Bahasa Inggris adalah salah satu tantangan besar saat itu. Meski kebanyakan buku yang digunakan saat kuliah berbahasa Inggris, saya jarang menggunakan Bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari. Akibatnya, saya kurang percaya diri, sementara pekerjaan pertama saya menuntut saya berbicara Bahasa Inggris dengan rekan-rekan kerja yang tidak bisa berbahasa Indonesia.

Untungnya, selama menjadi Beswan Djarum saya selalu berhadapan dengan tantangan, baik dalam pelatihan, kompetisi, maupun kesempatan pemberdayaan masyarakat yang ditawarkan. Saya merasa layaknya batu permata kasar yang diproses dan dipoles hingga jadi berkilau.

Berkat proses tersebut, alih-alih kabur, saya memaknai tantangan yang saya hadapi di dunia kerja sebagai kesempatan bertumbuh. Carol Dweck dalam buku Mindset menyebut prinsip ini sebagai 'menyambut tantangan' – salah satu ciri orang-orang yang mengembangkan growth mindset, yang baru saya pelajari bertahun-tahun kemudian.

Sama seperti saat menaklukkan rasa takut di hutan malam, di dunia kerja saya juga belajar menaklukkan ketidaknyamanan. Saat itu saya memaksa diri menggunakan Bahasa Inggris dalam berbagai kesempatan, mulai dari menulis catatan, membaca berita, hingga percakapan sehari-hari. Betapa terkejutnya saya ketika Adam Grant dalam buku Hidden Potential menempatkan keberanian menghadapi ketidaknyamanan sebagai kunci untuk mewujudkan potensi terbaik kita.

Menjadi Beswan Djarum juga berarti mengasah kegigihan. Dengan modal kegigihan yang terasah, saya jadi berani meninggalkan kenyamanan gaji bulanan demi mewujudkan mimpi melanjutkan studi master ke luar negeri. Dengan daya juang yang teruji, saya jadi yakin mengambil langkah ekstrem pindah karier ke bidang berbeda dan dengan ruang lingkup yang lebih luas demi bertumbuh secara profesional.

(Foto. Dok Pribadi)

Setelah semua itu terjadi, barulah saya membaca buku Grit karya psikolog Angela Duckworth yang menyebut kalau kegigihan merupakan prediktor kesuksesan yang lebih baik dibandingkan bakat atau intelegensia. Saya tersadar kalau kegigihan yang diasah selama menjadi Beswan Djarum menjadi bekal yang manfaatnya terus mengalir bahkan saat saya tidak lagi menerima beasiswa.

Kini saya bekerja bersama kolega yang berasal dari berbagai negara di seluruh dunia. Sebagai profesional di level regional, dalam rapat virtual saya selalu bertemu rekan-rekan dari berbagai benua – semuanya dengan latar belakang budaya, bahasa ibu, dan zona waktu berbeda yang menuntut saya untuk adaptif dan terus belajar.

Perenungan singkat ini membawa saya kepada kesadaran bahwa jauh sebelum para ahli menulis buku-buku tentang pengembangan diri, Djarum Foundation telah membekali Beswan Djarum dengan keterampilan-keterampilan masa depan.

Bekal Beswan Djarum yang Tak Lekang

Djarum Beasiswa Plus tidak semata-mata soal uang saku. Jika dikalkukasi, nilai non-finansial yang saya dapat jauh melebihi nilai uang beasiswa dan biaya pelatihan yang saya hadiri. Saya justru lebih banyak ditempa menjadi pribadi yang tangguh, berani, dan bertanggung jawab melalui berbagai kegiatan dalam program beasiswa ini.

Menjadi Beswan Djarum juga berarti akses terhadap jaringan alumni yang luar biasa. Kami saling bantu dan dukung selayaknya keluarga besar. Saya dan rekan alumni selalu berkelakar bahwa seseorang tidak pernah betul-betul selesai menjadi Beswan Djarum karena sekali jadi Beswan Djarum, seumur hidup jadi Beswan Djarum. Bertukar pikiran dengan alumni yang usianya terpaut belasan tahun pun menjadi hal lumrah.

Dunia banyak berubah, tapi saya yakin nilai-nilai yang diusung dalam program ini tetap relevan dan tak lekang oleh waktu. Hidup yang serba cepat seiring dengan perkembangan teknologi dan kehadiran kecerdasan artifisial yang revolusioner justru membutuhkan sentuhan manusia, terutama dari keberanian, empati, dan welas asih.

Saya berharap generasi Beswan Djarum selanjutnya terus dibekali dengan keterampilan-keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan zaman dan tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan. Saya rasa, inilah hakikat beasiswa yang sesungguhnya: tidak hanya memberikan dukungan finansial, tapi juga menyediakan ruang tumbuh bagi seluruh penerima manfaatnya.

Evolusi Djarum Beasiswa Plus, termasuk bagaimana jumlah universitas meningkat dan provinsi penerima beasiswa semakin merata, adalah hal membahagiakan yang saya saksikan dari tahun ke tahun. Semoga Djarum Foundation terus melanjutkan program ini dengan membuka kesempatan seluas-luasnya kepada mahasiswa-mahasiswi terbaik dari seluruh Indonesia, terutama mereka yang di pelosok.

Saat ini mungkin mereka juga merasa seperti ikan kecil di kolam yang besar. Tapi, sama seperti salmon kecil yang terus berenang dari sungai tempatnya menetas hingga mencapai laut, ikan lain pun harus terus berenang hingga menemukan samudera yang jadi impiannya.