Surat-surat dari Generasi Plus
Prof Ismunandar
Foto ilustrasi Prof Ismunandar. CNN Indonesia / Basith Subastian
Dari Sains ke Humaniora, Jalan Ismunandar Bawa Budaya RI ke Dunia

Memelihara kebudayaan sama dengan memberi nafas kehidupan. Dan dunia punya organisasi yang salah satu fokusnya kebudayaan: UNESCO.

Saya lulusan Kimia, tapi jalan yang saya lalui mendekatkan saya ke kerja-kerja isu kebudayaan. Dari sains ke humaniora.

Lahir di daerah tak jadi masalah bagi saya untuk meraih mimpi tinggi. Saya lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 1970. Saat Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS-serupa ujian nasional) SMA, nilai pelajaran Kimia saya 9, tertinggi dibanding mata pelajaran lain.

Faktor nilai itu pula yang membuat saya mengambil jurusan Kimia di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1988. Untuk menghemat biaya, saya tinggal bersama kerabat di Bandung.

Selama kuliah, saya juga berusaha agar bebas uang semester caranya dengan mencari beasiswa prestasi.

Beruntungnya di tahun kedua, saya dapat Djarum Beasiswa Plus.

"Senang betul. Ini bisa membantu atau meringankan orang tua untuk membiayai sekolah," pikir saya pada waktu itu.

Uang beasiswa itu juga bisa saya pakai untuk menopang kehidupan sehari-hari seperti biaya transport, uang saku, dan penunjang kuliah lain termasuk pembelian buku.

Pada waktu itu belum ada pembekalan dari Djarum bagi para penerima beasiswa. Namun, saya melihat Djarum salah satu perusahaan yang mendukung kegiatan penting seperti pendidikan hingga olahraga.

Partisipasi publik mereka begitu nyata dan begitu banyak kemaslahatan yang didapat masyarakat Indonesia.

(Foto. UNESCO) Fabrice Gentile

Setelah lulus saya langsung ditawari mengajar di ITB. Pada waktu itu, jebolan strata satu diizinkan mengajar di kampus.

Kecintaan saya terhadap kimia rupanya tak berhenti di sana. Saya melanjutkan studi magister, namun langsung ke program PhD, di School of Chemistry University of Sydney pada 1994-1998. Setelah pulang ke Indonesia, saya kembali mengajar.

Sekitar 2010-an, rektor ITB kerap menugasi saya menjadi direktur salah satu pusat training guru organisasi Menteri Pendidikan Asia Tenggara (SouthEast Asia Minister of Education Organisation/SEAMEO).

Saya menjadi direktur di salah satu pusat SEAMEO di Bandung sembari tetap mengajar di ITB, 2010-2014.

Lalu pada 2014, saya ikut rekrutmen atase pendidikan dan lolos. Waktu itu saya mendapat mandat dari Menteri Pendidikan Mohammad Nuh bertugas di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura.

Baru setengah jalan dan saat itu juga ada pergantian menteri pendidikan, saya dipindah tugas ke Amerika Serikat. Tahun 2018, saya kembali ke Indonesia dan mengajar kimia di kampus ITB.

Beberapa bulan setelah itu, saya diangkat jadi Direktur Jenderal di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemenristekdikti). Setelah selesai, saya lanjut sebagai eselon satu di Kementerian Riset Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Beres dari BRIN, saya kemudian dipercaya menjadi Duta Besar RI untuk UNESCO pada 2021. Dari kimia ke urusan kebudayaan, karena memang Indonesia banyak fokus dalam kebudayaan di forum UNESCO, walaupun pilar pendidikan, sains dan komunikasi informasi yang juga tetap menjadi perhatian penting juga.

(Foto. UNESCO)

Pada masa tugas saya di UNESCO, AS kembali bergabung ke UNESCO pada 2023 di bawah pimpinan Presiden Joe Biden. Namun, mereka kembali angkat kaki usai Trump menang pemilu dan melenggang lagi ke Gedung Putih pada Januari lalu. Di UNESCO ketidakhadiran AS berarti kehilangan iuran anggota yang besarnya sekitar 20% anggaran belanjanya.

Pada masa tugas saya, Indonesia tetap mengarusutamakan dan memperjuangkan kebudayaan-kebudayaan negara ini supaya diakui dunia.

Kerja-kerja mendaftarkan kebudayaan perlu upaya panjang mulai dari mencatat, mendokumentasikan, merencanakan upaya melestarikan budaya, hingga diproklamasikan ke dunia.

Pengakuan UNESCO terhadap warisan budaya dari suatu negara tak dilihat dari kepemilikan atau paten, melainkan di mana budaya itu hidup, sebagaimana dalam perjanjian internasional konvensi UNESCO. Indonesia turut meratifikasi konvensi ini.

Misalnya Kebaya, sejak dulu warga rumpun Melayu kerap mengenakan pakaian jenis ini. Seiring berjalannya waktu dan wilayah-wilayah menjadi beberapa negara, kebaya ini tetap ada dan dipakai warga di Indonesia, Malaysia, Brunei, Thailand, dan Singapura.

Begitulah, kebaya hidup di tanah-tanah itu. Awalnya sulit sekali memberi pemahaman kepada khalayak bahwa budaya yang tercatat UNESCO bukan berarti pengakuan asal-usul atau hak paten. Namun, berkat kerja sama berbagai lembaga dan kementerian, edukasi itu bisa dilakukan.

Dan, saya bersyukur akhirnya bisa mendaftarkan kebaya sebagai kebudayaan bersama di UNESCO dan menjadi keputusan mayoritas serta akhirnya menjadi kebanggaan.

Di luar itu, selama bertugas di UNESCO saya juga bersyukur bisa turut berkontribusi mendaftarkan berbagai warisan budaya tak benda Indonesia seperti jamu, gamelan, Reog Ponorogo, dan Kolintang.

Tak cuma itu, saya juga senang lebih banyak geopark di Indonesia yang terdaftar dalam UNESCO saat saya bertugas di perwakilan RI di sana. Beberapa di antaranya Geopark Ijen, Geopark Maros Pangkep, Geopark Merangin, dan Geopark Raja Ampat.

(Foto. Dok Pribadi)

Rampung di UNESCO, saya masih berkutat dengan kebudayaan. Saya diminta menjadi staf ahli Menteri Kebudayaan Bapak Fadli Zon sejak Desember 2024.

Tugasnya masih linear dari pekerjaan sebelumnya. Saya diminta menunjukkan ke dunia, khususnya UNESCO, megadiversity kebudayaan kita, dalam rangka memajukan kebudayaan Indonesia.

Saat ini, saya fokus melakukan kerja-kerja strategis agar budaya kita lebih banyak tercatat di UNESCO. Misalnya hal yang saya bersama rekan-rekan di Kementerian usahakan adalah sebagai negara mayoritas Muslim, Indonesia masih minim kebudayaan terkait Islam yang tercatat di badan PBB ini. Juga hal-hal strategis lain.

Saat Ramadan misalnya, banyak tradisi atau kebudayaan terkait puasa dan buka puasa yang hidup dinamis di tengah masyarakat seperti makanan lemang dari Sumatra Barat dan berbagai makanan tradisional yang muncul lebih banyak ketika bulan puasa., rampag bedug di Banten dan berbagai tradisi meramaikan bulan puasa. Ini potensial disambungkan (diekstensikan) dengan budaya iftar yang telah diinskripsikan negara-negara Timur Tengah.

Memaksimalkan AI untuk pendidikan

Selain kerja-kerja mencatat dan mengenalkan budaya Indonesia, saya dan teman-teman mengkampanyekan gerakan penggunaan kecerdasan buatan dengan aman, melalui kegiatan Day of AI Indonesia.

Kita mengadopsi apa yang sudah dibuat Massachusetts Institute of Technology (MIT), yakni penyediaan bahan pembelajaran yang open source. Bahan ini kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Pengajar atau para orang tua bisa menggunakan sumber belajar itu untuk lebih mengenal penggunaan AI dengan aman.

“Ini adalah alat yang penting banyak dijumpai dalam keseharian. Minimal orang tahu alat itu apa gunanya, bagaimana memanfaatkan dengan etis dan bertanggung jawab,” inilah bagian utama kampanye itu.

Di luar itu, sebegitu dekatnya AI dengan kehidupan sehari-hari, pemerintah perlu membuat minimal panduan supaya penggunaan teknologi ini lebih aman dan memanusiakan.

AI punya potensi besar dan kita harus bisa memanfaatkan sebaik-baiknya, semaksimal-maksimalnya untuk hal-hal yang baik.