"Dulu itu yang bisa bersentuhan langsung dengan Pak Soeharto cuma orang yang berasal dari tiga jalur," kata Soehardiman, tokoh pendiri Golkar saat dijumpai CNN Indonesia, awal September lalu di Jakarta.
Tiga jalur itu, kata Soehardiman, kondang dikenal dengan sebutan "Jalur A-B-G". Jalur A merupakan jalur yang terkait dengan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang lebih spesifik diwakili Angkatan Darat. Jalur B, yang berarti Birokrasi atau menteri-menteri yang sudah ia percaya betul sebagai kaki tangan Soeharto dalam berpolitik. Dan yang ketiga, kata Soehardiman, adalah jalur G, untuk Golkar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mekanisme jalur A-B-G sontak membuat Golkar tak terbendung di konstelasi politik republik. Sebab kelompok beringin itu punya akses informasi yang tak terbatas soal apapun. Mereka jelas terlibat dalam banyak sekali keputusan strategis negeri ini. Alhasil, kekuatan politik di luar Golkar yang notabene juga kalah melulu sejak pemilihan umum 1977, nyaris tak pernah bisa berbuat manuver yang berbeda jalur.
Dalam wawancaranya dengan CNN Indonesia, September lalu bekas anggota kabinet pemerintahan Orde baru itu mengungkapkan lebih rinci soal jalur A-B-G. Menurut Akbar, Jalur A itu biasanya menunjuk kepada jalur komunikasi Soeharto dengan Panglima ABRI. Jalur B itu dengan Menteri Dalam Negeri dan Jalur G itu untuk Ketua Golkar.
Semua itu berlangsung sesuai masanya, siapa yang duduk pada zamannya itu yang kemudian mendapatkan akses bicara langsung dengan sang Jenderal Bintang Lima.
Dalam bukunya, Golkar Way: Survival Partai Golkar di Tengah Turbulensi Politik Era Transisi, Akbar menulis mekanisme tiga jalur itu membuat Orde Baru menjadi tak tertandingi. Terlebih saat terbitnya keputusan penting yang melahirkan "monoloyalitas" terhadap Golkar.
Keputusan itu adalah Peraturan Menteri Dalam Negeri No 12 tahun 1969 tentang larangan bagi Pegawai Negeri Sipil untuk aktif dalam partai politik. "Sedangkan Golkar pada saat Orde Baru itu bukan merupakan partai politik, jadi dengan kata lain semua birokrat harus mendukung Golkar," katanya. Dengan monoloyalitas itu, birokrasi secara tak sadar disulap menjadi kekuatan yang sangat penting bagi Golkar dalam setiap kemenangannya pada setiap kali pemilu Orde Baru. "Keputusan penting itu lahir juga dari jalur A-B-G."