Wakil Koordinator KontraS Krisbiantoro menilai proses pemilihan Jaksa Agung M Prasetyo dilakukan dengan proses yang tidak jelas. "Pengalaman dari dipilihnya Jaksa Agung beberapa hari lalu, sepertinya sangat mungkin standar yang sama akan digunakan lagi untuk memilih Kapolri. Pak Jokowi menggunakan proses tertutup dengan standar yang tidak jelas," kata Kris kepada CNN Indonesia, Minggu (23/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
KontraS menambahkan, begitu pun dengan kemungkinan dipilihnya nama Komjen Pol Budi Gunawan sebagai Kapolri. Budi, yang belakangan disebut-sebut sebagai salah satu calon Kapolri, dinilai KontraS sebagai kandidat yang tidak tepat.
Untuk diketahui, Budi Gunawan dulu juga sempat disebut-sebut menjadi salah satu calon menteri Jokowi. Namun menurut Jusuf Kalla, dia memang menolak untuk masuk kabinet. Budi merupakan ajudan Megawati Soekarnoputri saat Ketua Umum PDIP itu menjabat presiden. Budi yang saat ini menjabat Kepala Lembaga Pendidikan Polri pernah menjabat Kapolda Jambi dan Kapolda Bali.
Budi Gunawan pernah menjadi ajudan Megawati saat menjadi Presiden RI periode 2001-2005. Kepala Lemdikpol Polri ini pernah mengemban sejumlah jabatan strategis, di antaranya sebagai Kapolda Jambi dan Bali.
Salah satu poin yang disoroti KontraS terkait pemilihan Kapolri adalah terkait masalah hukum di tengah masyarakat. Menurut KontraS, polisi kadang melakukan pembiaran. "Polisi sering merasa konflik horizontal tidak bisa dilindungi. Padahal harus sama-sama dilindungi. Polisi itu harus netral dan aparat penegak hukum harus jadi pelindung massa, bukan sebaliknya," ujar Kris.
Oleh sebab itu KontraS berharap sosok pemimpin Polri harus berani membuat kebijakan yang bisa dijadikan pegangan anggota Polri ketika mereka menghadapi persoalan apapun, di manapun. "Kapolri harus punya kebijakan yang tegas, bukan keras," kata Kris.