Namun minta naik ketinggian, Kapten Irianto sempat minta bergeser ke kiri sejauh tujuh mil akibat cuaca buruk. Cuaca buruk itu dibenarkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Di rute M635 yang dilalui AirAsia QZ8501, terdapat pertumbuhan awan badai kumulonimbus. Informasi tersebut telah diberitahukan kepada semua maskapai yang hendak terbang pada hari itu. (Baca: BMKG Sudah Informasikan Potensi Awan Berbahaya di Rute AirAsia)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun saat QZ8501 meminta naik ke ketinggian 38 ribu kaki, pada saat yang sama tujuh pesawat lain juga terbang berdekatan dengan QZ8501. (Baca: Awan Badai Hadang 8 Pesawat, QZ8501 dan Garuda Terbang Rendah)
"Pesawat di ketinggian 36 ribu atau 38 ribu kaki bisa terlihat dalam radar," kata mantan Presiden Federasi Pilot Indonesia itu.
Keputusan pilot Irianto untuk akhirnya meminta naik ke ketinggian 38 ribu kaki dinilai Manotar karena sudah terdesak. "Itu yang saya bilang kondisi 'anytime.' Pilot minta naik karena mungkin sudah masuk di cuaca buruk itu," kata dia.
Pernyataan Manotar ini sedikit berbeda dengan keterangan AirNav dan pilot Garuda lainnya, Abdul Rozaq. Menurut Rozaq yang pernah mengemudikan GA 421 yang lolos dari kumulonimbus dan mendarat darurat di Sungai Bengawan Solo, awan badai itu bisa dihindari dengan bermanuver ke kiri atau ke kanan, bukannya naik ketinggian. (Baca Pilot Garuda: Hindari Awan Badai Cukup ke Kanan atau Kiri)